2020 Dekati Akhir, Rupiah Tertinggal Jauh di Belakang

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah menguat 0,14% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.070/US$ sepanjang pekan ini. Selain itu jika melihat ke belakang, kinerja rupiah terbilang impresif, dalam 11 pekan terakhir, hanya pada pekan lalu yang melemah, sekali stagnan, dan sisanya menguat.

Selama periode tersebut, rupiah membukukan penguatan 5,22%. Terlihat cukup impresif, tetapi jika dilihat sejak awal tahun atau secara year-to-date (YtD) rupiah tercatat masih melemah 1,37% ytd.

Dibandingkan mata uang utama Asia lainnya, rupiah menjadi mata uang terburuk kedua, hanya lebih baik dari rupee India yang melemah 3,27% ytd. Selain rupiah dan rupee, baht Thailand melemah 1,11% ytd, sementara mata uang lainnya sudah membukukan penguatan.


Yuan China menjadi mata uang dengan kinerja terbaik dengan penguatan lebih dari 6% ytd. Dolar Taiwan, won Korea Selatan, dan peso Filipina semuanya menguat lebih dari 5%.

Salah satu penyebab rupiah tertinggal dibandingkan mata uang lainnya adalah kasus penyakit virus corona (Covid-19) yang masih terus menanjak di Indoesia. Sejak awal diserang virus corona, bisa dikatakan tren penambahan kasus belum pernah melambai secara signifikan.

Total kasus Covid-19 di Indonesia hingga saat ini sebanyak 605.243 kasus, terbanyak kedua setelah India yang nyaris mencapai 9,8 juta kasus. Jika dilihat kasus aktifnya, Indonesia juga berada di urutan kedua sebanyak 89.846 kasus, di bawah India yang lebih dari 360 ribu kasus aktif.

Sementara negara-negara lainnya, bisa dikatakan sukses mengendalikan penyebaran virus corona, meski belakangan kebali terjadi lonjakan kasus, seperti di Korea Selatan misalnya. Melansir data dari Worldometer, pada Kamis (10/12/2020) kemarin jumlah kasus Covid-19 bertambah sebanyak 682 kasus, menjadi penambahan tertinggi sejak 3 Maret lalu, saat terjadi penambahan sebanyak 851 kasus.

Itu artinya, penambahan kasus kemarin menjadi rekor terbanyak kedua. Lonjakan kasus Covid-19 di Negeri Kpop ini mulai terjadi sejak pertengahan November lalu.

Meski demikian, mata uang won Korsel tetap saja perkasa. Sementara rupiah, memang menunjukkan tren positif dalam beberapa pekan terakhir, tetapi masih belum mampu untuk kembali menguat secara year-to-date.

Pelaku pasar masih was-was akan kemungkinan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali diketatkan, sebab tren kenaikan kasus Covid-19 belakangan ini melonjak.

Pada Kamis (3/12/2020) kasus Covid-19 mencatat rekor penambahan di atas 8.000 per hari, dan setelahnya beberapa kali di atas 6.000 kasus, termasuk 3 hari terakhir, termasuk hari ini yang bertambah 6.310 kasus. Rata-rata penambahan kasus dalam 2 pekan terakhir naik menjadi 1,06%, dari 2 pekan sebelumnya 0,95%.

Efek negatif pengetatan PSBB ke perekomoian sangat terlihat. Pada pertengahan September lalu, pemerintah provinsi DKI Jakarta kembali mengetatkan PSBB selama 1 bulan. Alhasil, sektor manufaktur yang baru saja pulih di bulan Agustus kembali mengalami kontraksi 2 bulan beruntun, sebelum berekspansi lagi di bulan November.

Aktivitas manufaktur bisa dilihat dari purchasing managers’ index (PMI) dengan angka 50 sebagai ambang batas. Di atasnya berarti ekspansi, sementara di bawah 50 berarti kontraksi.

Sektor manufaktur berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 19%, sehingga jika mengalami kontraksi maka pemulihan ekonomi akan semakin lambat.
Alhasil, rupiah sulit untuk mencatat penguatan di tahun ini selama kasus Covid-19 masih terus menanjak.