Investor Ambil Untung, IHSG Sesi I Melemah 0,29%

Jakarta, CNBC Indonesia- Indeks saham gabungan ditutup di zona merah pada perdagangan sesi I, Selasa (29/12/2020) dengan melemah 0,29% di level 6.027. Menurut Founder & CEO Finvesol Consulting Indonesia, Fendi Susiyanto, koreksi IHSG ini lebih disebabkan oleh aksi ambil untung investor di tengah sentimen peningkatan kasus covid-19 yang di khawatirkan bisa mendorong Pemprov DKI Jakarta menerapkan aturan PSBB Ketat.

Fendi memproyeksi IHSG akan terkoreksi dengan level support 6.000. Lalu seperti apa analis melihat arah pergerakan IHSG? Selengkapnya simak dialog Erwin Surya Brata dengan Founder & CEO Finvesol Consulting Indonesia, Fendi Susiyanto dalam Power Lunch,CNBCIndonesia (Selasa, 29/12/2020)

Saksikan live streaming program-program CNBC Indonesia TV lainnya di sini

Bad News Juragan! IHSG Sesi 2 Belum Puas Turun…..

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama Selasa (29/12/20) ditutup Merah 0,29% ke level 6.075,74.

Para pelaku pasar mulai berhati-hati setelah sebelumnya rencana penarikan rem darurat di Ibu Kota kembali mencuat sehingga indeks acuan bursa Garuda terpaksa ditutup di bawah level psikologis 6.100 meski sempat melesat kencang pada awal perdagangan.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 248 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 8,5 triliun.


Beralih ke Wall Street, tiga indeks utama di bursa saham New York ditutup menguat. Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,68% ke 30.403,97, S&P500 terangkat 0,87% menjadi 3.735,36, dan Nasdaq Composite bertambah 0,74% jadi 12.899,42. Ketiganya menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa.

“Pasar saham terimbas sentimen positif dari pengesahan stimulus fiskal, ini adalah sesuatu yang baik. Anda bisa melihat bahwa kebijakan fiskal dan moneter sama-sama mendukung stabilitas.

“Di sisi kesehatan, ada harapan dengan kehadiran vaksin anti-virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Kondisi secara umum suportif untuk pasar saham,” jelas Terry Sandven, Chief Equity Strategist di US Bank Wealth Management yang berbasis di Minneapolis, seperti dikutip dari Reuters.

Sentimen positif juga datang dari Eropa. Akhir pekan lalu, Benua Biru memulai proses vaksinasi massal untuk melawan virus corona.

“Kita punya ‘senjata’ baru melawan virus: vaksin. Sekali lagi, kita harus berdiri bersama,” sebut Emmanuel Macron, Presiden Prancis, dalam cuitan di Twitter.

Proyeksi IHSG sesi II, 29 Desember/Tri PutraFoto: Proyeksi IHSG sesi II, 29 Desember/Tri Putra
Proyeksi IHSG sesi II, 29 Desember/Tri Putra

Analisis Teknikal

Pergerakan IHSG dengan menggunakan periode per jam (hourly) dari indikator Boillinger Band (BB) melalui metode area batas atas (resistance) dan batas bawah (support). Saat ini, IHSG berada di area batas atas maka pergerakan IHSG selanjutnya berpotensi terkoreksi.

Untuk mengubah bias menjadi bullish atau penguatan, perlu melewati level resistance yang berada di area 6.123. Sementara untuk melanjutkan tren bearish atau penurunan perlu melewati level support yang berada di area 6.039.

Indikator Relative Strength Index (RSI) sebagai indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu dan berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

Saat ini RSI berada di area 51 yang belum menunjukkan adanya indikator jenuh jual meskipun demikian RSI kembali terkonsolidasi turun setelah sebelumnya menyentuh level jenuh jual. Hal ini biasanya menandakan pergerakan IHSG selanjutnya akan cenderung terdepresiasi.

Secara keseluruhan, melalui pendekatan teknikal dengan indikator BB yang berada di area batas bawah, maka pergerakan selanjutnya cenderung bearish atau terkoreksi. Hal ini juga terkonfirmasi dengan munculnya indikator RSI yang terkonsolidasi turun.

Indeks perlu melewati (break) salah satu level resistance atau support, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)

Rekor Terus! Gegara China, Harga Batu Bara Tembus US$ 85/ton

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga kontrak futures (berjangka) batu bara Newcastle kembali mencetak rekor tertinggi barunya. Kini harga si batu legam sudah tembus level psikologis US$ 85/ton.

Harga kontrak yang aktif diperdagangkan tersebut mengalami apresiasi sebesar 1,18% dibanding periode perdagangan pekan lalu ke US$ 85,5/ton dan berada di dekat level tertinggi sejak Mei 2019.

Batu bara mampu membukukan penguatan 10 pekan beruntun, dengan total apresiasi nyaris 47%. Berkat kinerja impresif tersebut, harga batu bara secara year-to-date kini mencetak penguatan lebih dari 22% setelah berada di zona merah sejak akhir Maret hingga 24 November lalu.


Sentimen dari China masih terus mendongkrak harga batu bara. Melansir Reuters, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (NDRC), meminta perusahaan untuk meningkatkan impor gas alam cair (LNG) dan batu bara termal untuk memastikan pasokan energi mencukupi saat musim dingin.

Permintaan gas alam, bahan bakar pemanas utama untuk musim dingin di utara China diperkirakan akan melonjak karena cuaca dingin diperkirakan mulai Senin akan melanda sebagian besar wilayah tengah, utara dan timur negara itu dan menyebabkan suhu turun sebanyak 10 hingga 12 derajat Celcius.

China menghadapi tantangan serius terkait sektor listriknya di provinsi Hunan, Jiangxi dan Zhejiang sejak awal Desember, karena pemulihan ekonomi yang kuat hingga cuaca dingin serta tersendatntya pasokan energi terbarukan.

Konsumsi listrik dalam beberapa minggu terakhir telah meningkat sebesar 11% dibandingkan tahun sebelumnya, dan beban listrik di 20 provinsi telah meningkat dengan kecepatan dua digit.

China banyak menggunakan batu bara termal untuk pembangkit listriknya. Namun di saat kebutuhan meningkat, pasokan batu bara domestik justru mengalami penurunan. Akibatnya harga batu bara lokal China membumbung tinggi.

Harga batu bara termal China untuk tipe Qinhuangdao 5.500 Kcal/kg tembus RMB 728/ton. Padahal target informal yang dipatok pemerintah hanya di RMB 500 – RMB 570/ton. Ketatnya pasokan batu bara lokal membuat China melonggarkan kebijakan kuota impornya, tetapi tidak untuk Australia.

Konflik antara China dan Australia semakin memanas gegara pandemi Covid-19 juga menjadi salah satu pemicu kenaikan harga batu bara. Seperti diketahui, Australia menyerukan untuk melakukan penyelidikan internasional terhadap virus corona yang berasal dari China, hingga akhirnya menjadi pandemi.

Hubungan kedua negara pun retak, padahal keduanya merupakan mitra strategis. China merupakan pasar ekspor terbesar Australia. Pada 2018-2019 saja, ekspor Australia ke China mencapai US$ 116,79 miliar atau setara dengan 32,6% dari total ekspor negara tersebut.

Melansir CNBC International, setidaknya ada delapan produk Australia yang ditarget China, yakni, jelai, wine, daging merah, kapas, kayu, batu bara, lobster, dan bijih besi. Masuknya batu bara Australia ke dalam komoditas yang diboikot China membuat Negeri Kanguru mulai berpikir untuk menurunkan target produksinya.

Produsen batu bara Australia mungkin harus mulai memangkas produksinya jika China membatasi impor dari mereka dan hal ini diperkir memakan menyebabkan pendapatan ekspor batu bara turun tajam tahun ini.

China adalah pembeli terbesar kedua batu bara termal Australia dibakar di pembangkit listrik dan batu bara metalurgi digunakan untuk membuat baja. Meskipun hubungan Australia dan China memanas tetapi kebutuhan batu bara Negeri Panda yang naik dan output yang turun turut mengangkat harga batu bara termal secara global.

Ke depan Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan permintaan batu bara akan naik di 2021. Kenaikan permintaan diperkirakan bakal mencapai 2,6% dibanding tahun ini pasca diserang pandemi Covid-19 yang memicu lockdown secara masif dan membuat konsumsi listrik turun dan roda industri tersendat.

Permintaan batu bara termal dan metalurgi diperkirakan meningkat menjadi 7.43 miliar ton pada tahun 2021 dari 7.24 miliar ton tahun ini. Jelas ini menjadi katalis positif bagi harga batu bara.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)

IPO Gede di Januari, Saham Ini Masuk Daftar Efek Syariah

Jakarta, CNBC Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan satu Keputusan Dewan Komisioner OJK terkait dengan penetapan Efek Syariah yaitu Keputusan Nomor: KEP-67/D.04/2020 tentang Penetapan Saham PT FAP Agri Tbk sebagai Efek Syariah pada tanggal 17 Desember 2020.

Dengan dikeluarkannya Keputusan Dewan Komisioner OJK tersebut, maka efek tersebut masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) sebagaimana Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor: KEP-63/D.04/2020 tanggal 23 November 2020 tentang DES.

“Dikeluarkannya keputusan tersebut adalah sebagai tindak lanjut dari hasil penelaahan OJK terhadap pemenuhan kriteria Efek Syariah atas Pernyataan Pendaftaran yang disampaikan FAP Agri Tbk sebagai Efek Syariah,” tulis OJK, dikutip Senin (28/12).


OJK menegaskan, sumber data yang digunakan sebagai bahan penelaahan berasal dari dokumen Pernyataan Pendaftaran serta data pendukung lainnya berupa data tertulis yang diperoleh dari emiten maupun dari pihak-pihak lainnya yang dapat dipercaya.

Secara periodik OJK akan melakukan review atas DES berdasarkan Laporan Keuangan Tengah Tahunan dan Laporan Keuangan Tahunan dari emiten atau perusahaan publik.

Review atas DES juga dilakukan apabila terdapat emiten atau perusahaan publik yang Pernyataan Pendaftarannya telah menjadi efektif dan memenuhi kriteria Efek Syariah atau apabila terdapat aksi korporasi, informasi, atau fakta dari emiten atau perusahaan publik yang dapat menyebabkan terpenuhi atau tidak terpenuhinya kriteria Efek Syariah.

Sebagai informasi, FAP Agri adalah salah satu emiten dengan emisi IPO (penawaran umum saham perdana/initial public offering) yang cukup besar di atas Rp 1 triliun.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia, emiten yang akan tercatat pada 4 Januari 2021 dengan kode saham FAPA menawarkan harga perdana Rp 1.840 untuk 544,41 juta saham yang dijual.

Dengan demikian, emiten sawit ini akan mengantongi dana segar senilai Rp 1 triliun lebih.

Situs resminya mencatat, FAP Agri mulai pertama kali beroperasi di tahun 1994 dengan luas total kebun lebih dari 110.000 hektare (Ha) di tahun 2019. FAPA mengelola ratusan ribu hektare lahan yang tersebar di Kalimantan Utara, Kalimantan timur, dan Riau.

Perusahaan ini menaungi 11 perusahaan, 5 pabrik kelapa sawit, dengan kapasitas total lebih dari 200 ton per jam, dan 1 pabrik pengolahan kernel (Kernell Crushing Plant).

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)

Pukul 13.00 WIB: Rupiah Masih Kuat di Rp 14.140/US$

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ke zona hijau pada perdagangan pasar spot hari ini, setelah melemah 0,5% sepanjang pekan lalu.

Pada Senin (28/12/2020), US$ 1 dibanderol Rp 14.140/US$ di pasar spot. Rupiah menguat 0,07% dibandingkan dengan penutupan perdagangan terakhir pekan lalu.

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 11:54 WIB:


Periode Kurs
1 Pekan Rp14.145,8
1 Bulan Rp14.176,0
2 Bulan Rp14.219,0
3 Bulan Rp14.255,8
6 Bulan Rp14.374,1
9 Bulan Rp14.510,9
1 Tahun Rp14.621,9
2 Tahun Rp15.390,0

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pada pukul 11:54 WIB:

Periode Kurs
1 Bulan Rp 14.150
3 Bulan Rp 14.182

Berikut kurs jual beli dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 11:51 WIB:

Bank Harga Beli Harga Jual
BNI 14.079 14.264
BRI 14.090 14.280
Mandiri 14.150 14.300
BCA 14.160 14.190
CIMB Niaga 13.870 14.470
BTN 14.123 14.473

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)

Siap-Siap! Suntikan Modal Jadi Game Changer bagi Bank Banten

Jakarta, CNBC Indonesia – PT BPD Banten Tbk alias Bank Banten telah meraih izin penghitungan setoran modal Provinsi Banten ke dalam Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM). Rasio kesehatan dan daya ekspansi perseroan pun terdongkrak.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengizinkan dana Setoran Modal (senilai Rp 1,551 triliun) menjadi komponen modal perseroan, setelah terjadi konversi dari dana Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Provinsi Banten berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Banten Nomor 1/2020.

Dengan demikian, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank berkode saham BEKS ini per Oktober 2020 mencapai 54,1%. Angka itu jauh lebih tinggi darirata-rata CAR industri perbankan pada September 2020 yang tercatat hanya 23,52%.


Tambahan modal memungkinkan bank tersebut memitigasi dampak buruk pandemi dengan lebih baik. Semuanya tercapai berkat keputusan strategis PT Banten Global Development (BGD), yang mewakili Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten selaku pemegang saham.

Hal ini juga menunjukkan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten selaku Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT) atau ultimate shareholder Bank Banten dalam mengembangkan perusahaan.

Secara filosofis, Bank Banten mengada sebagai komitmen Pemprov Banten untuk memiliki BPD sendiri yang kuatdan menjadi agen intermediasi pembangunan di wilayahnya. Oleh karena itu, perseroan dipastikan mendapat perhatian dan dukungan penuh Pemprov Banten.

Penambahan modal bagi Bank Banten menjadi prasyarat untuk mendukung pembangunan di provinsi yang selama ini menjadi salah satu penyumbang dana pihak ketiga (DPK) perbankan terbesar secara nasional. Harap diingat, konsumsi menjadi penyumbang utama PDB Banten.

Oleh karena itu, tidak heran jika perseroan sejak 2015 hingga 2019 mulai fokus menyalurkan kredit konsumer. Total pinjaman konsumsi yang diberikan oleh BEKS saat ini setara dengan 60% dari portofolio asetnya.

Prospek pinjaman konsumen ini masih sangat cerah mengingat banyaknya pensiunan dan pegawai negeri di wilayah Banten dan luar Banten serta meningkatnya jumlah karyawan secara umum. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada 2020 ada 91.708 pensiun baru, dan tahun depan diprediksi bertambah 90.445 pensiunan baru.

Di luar itu, belanja pemprov Banten juga terus meningkat sejalan dengan kelanjutan proyek pemerintah daerah yang didukung oleh Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini menyediakan peluang besar bagi Bank Banten untuk terlibat dalam proyek yang didanai APBD.

Lippo Jual Saham Multifiling Rp 469 M ke Investor Hong Kong

Jakarta, CNBC Indonesia – Lippo Grup melalui PT Multipolar Tbk (MLPL) berencana menjual kepemilikan sahamnya, melalui rencana transaksi penjualan saham PT Multifilling Mitra Indonesia Tbk (MFMI), kepada perusahaan asal Hong Kong, Iron Mountain Hong Kong Limited.

Dalam pengumuman yang disampaikan manajemen MFMI, terkait transaksi saham tersebut, kedua pihak telah menandatangani Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) atau perjanjian pembelian saham bersyarat pada tanggal 23 Desember 2020 sebanyak 700.425.400 saham atau setara 92,46% saham yang dimiliki perseroan.

“Penyelesaian dari Rencana Pengambilalihan Saham ini masih bergantung pada pemenuhan persyaratan pendahuluan oleh para pihak yang sebagaimana diatur dalam PPJB,” tulis manajemen MFMI dalam pengumuman perubahan pengendali perseroan, dalam keterbukaan informasi, dikutip Senin (28/12/2020).


Tidak disebutkan detail harga transaksi, tapi jika mengacu pada harga saham MFMI pada penutupan perdagangan Rabu (23/12), di level Rp 670 per saham, maka dari aksi korporasi ini, Lippo Grup berpotensi meraih dana segar sebesar Rp 469,29 miliar.

Seperti diketahui, Lippo Grup mempunyai kepemilikan saham di MFMI yang fokus pada bisnis manajer arsip, melalui PT Surya Cipta Investama dengan kepemilikan sebesar 65,99% atau setara 499,91 juta saham menurut laporan pemegang saham perseroan sampai dengan 30 November 2020.

Selebihnya adalah Multipolar dengan kepemilikan 26,47% saham dan saham investor publik 7,54%.

Adapun entitas induk terakhir MLPL dan entitas anak adalah PT Inti Anugerah Pratama yang dimiliki oleh Keluarga Riady.

Sekretaris Perusahaan MFMI Senjaya Bidjaksana mengatakan, transaksi tersebut tidak berdampak negatif terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha Perseroan.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)

Rupiah Perkasa, tapi Bisa ke Bawah Rp 14.000/US$ Gak?

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (28/12/2020), setelah melemah 0,5% sepanjang pekan lalu, dimana perdagangan hanya berlangsung selama 3 hari. Sebab Kamis dan Jumat pekan lalu libur dalam rangka hari Raya Natal.

Di pekan ini, perdagangan juga akan berlangsung selama 3 hari, sebab Kamis (31/12/2020) cuti bersama menyambut tahun baru.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di Rp 14.150/US$, sempat melemah 0,11% ke Rp 14.165/US$, rupiah kemudian berbalik menguat 0,07% di Rp 14.140/US$ dan bertahan di level tersebut hingga pukul 12:00 WIB.


Sentimen poisitif dagang dari AS pagi ini, Presiden Donald Trump akhirnya menandatangani rancangan undang-undang (RUU) stimulus fiskal US$ 900 miliar yang di-bundle dengan anggaran belanja pemerintah hingga September 2021 sebesar US$ 1,4 triliun.

Pada pekan lalu, Trump mengejutkan pasar, melalui akun Twitternya, ia menyebut stimulus senilai US$ 900 miliar sebagai “aib”. Dalam stimulus fiskal tersebut, Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diperoleh warga AS sebesar US$ 600/orang, setengah dari yang diterima sebelumnya yakni US$ 1.200/orang. Untuk pasangan yang menikah BLT yang diperoleh sebesar US$ 1.200, dan US$ 600 untuk tanggungan anak. Sama dengan program CARES Act, BLT hanya diberikan sekali saja.

Hal tersebut yang dipermasalahkan oleh Trump. Ia juga meminta Kongres AS untuk menaikkan BLT senilai US$ 600 menjadi US$ 2.000 per orang, dan US$ 4.000 untuk pasangan yang menikah.

Pasar dibuat cemas Trump tidak akan meneken RUU tersebut, jika terjadi maka stimulus fiskal tidak akan cair, serta pemerintahan AS terancam tutup (shutdown). Sebab anggaran untuk menjalankan pemerintahan AS akan habis pada hari ini 28 Desember 2020.

Dengan ditekennnya RUU tersebut menjadi undang-undang, artinya pemerintahan AS terhindar dari shutdown, yang membuat sentimen pelaku pasar kembali membaik.
Selain itu, dengan cairnya stimulus fiskal, jumlah uang beredar di perekonomian AS akan bertambah, secara teori nilai tukar dolar AS akan melemah.

Hal tersebut membuat rupiah menguat hingga pertengahan perdagangan hari ini, bahkan berpotensi dipertahankan hingga penutupan melihat pergerakan di kurs non-deliverable forward (NDF) yang siang ini lebih kuat ketimbang beberapa saat sebelum pembukaan.

Periode Kurs Pukul 8:54 WIB Kurs Pukul 11:54 WIB
1 Pekan Rp14.181,00 Rp14.145,8
1 Bulan Rp14.211,00 Rp14.176,0
2 Bulan Rp14.249,20 Rp14.219,0
3 Bulan Rp14.286,00 Rp14.255,8
6 Bulan Rp14.381,40 Rp14.374,1
9 Bulan Rp14.521,00 Rp14.510,9
1 Tahun Rp14.666,40 Rp14.621,9
2 Tahun Rp15.490,00 Rp15.390,0

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Meski demikian, kurs NDF periode 1 pekan masih cukup jauh dari Rp 14.000/US$, sehingga peluang untuk menembus ke bawah level di akhir tahun ini cukup tipis.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)

Virus Corona Mutasi Tiba di Singapura, Dolarnya Masih Perkasa

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar dolar Singapura menguat melawan rupiah pada perdagangan Senin (28/12/2020), hingga mendekati level tertinggi dalam 2 bulan terakhir.

Padahal virus corona yang sudah bermutasi di Inggris sudah sampai ke Singapura. Virus corona tersebut dikatakan bisa menyebar 70% lebih cepat ketimbang sebelum bermutasi.

Pada pukul 12:08 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.672,85, dolar Singapura menguat 0,23% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 5 November.


Pada Rabu (23/12/2020) malam waktu setempat, Singapura melaporkan kasus pertama virus corona mutasi yang disebut VUI-202012/01. 

Melansir Channel News Asia, VUI-202012/01 datang dari seorang pelajar berusia 17 tahun, yang sebelumnya belajar di Inggris sejak Agustus lalu. Remaja tersebut tiba di Singapura pada 6 Desember lalu dan menyampaikan pemberitahuan tinggal di rumah di fasilitas khusus saat kedatangan.

“Siswa itu mengalami demam pada 7 Desember, dan dipastikan terinfeksi virus corona pada 8 Desember,” kata Departemen Kesehatan Singapura.

“Karena dia telah diisolasi setibanya di Singapura, kami dapat mencegah kasus ini sehingga tidak ada penularan lebih lanjut yang timbul darinya,” lanjut keterangan otoritas kesehatan Singapura.

Selain itu, beberapa orang yang pernah kontak dengan remaja tersebut juga sudah dikarantina, dan dinyatakan negatif virus corona.

Singapura merupakan salah satu negara yang sukses meredam penyebaran virus corona, sehingga meningkatkan kepercayaan pelaku pasar, yang pada akhirnya membuat aliran modal masuk dan membuat mata uangnya perkasa.

Ketika banyak negara terkena serangan gelombang kedua beberapa bulan terakhir, Singapura masih sukses meredam penyebarannya. Korea Selatan bahkan kini menghadapi serangan virus corona gelombang ketiga, penambahan kasus harian mencatat rekor tertinggi, Begitu juga dengan Jepang.

Negara-negara Eropa juga sama, dilanda lonjakan kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) sehingga kebijakan pembatasan sosial (sosial distancing) kembali harus diketatkan.

Tetapi Singapura, sejak Agustus lalu sukses meredam penyebaran virus corona, bahkan sejak Oktober penambahan kasus per hari tidak pernah lebih dari 30 kasus.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)

Gilak! Harga CPO Tembus Rekor 8,5 Tahun, Masih Bisa Reli?

Jakarta, CNBC Indonesia – Mengawali perdagangan pekan ini jelang akhir tahun harga kontrak futures (berjangka) minyak sawit mentah (CPO) Malaysia tergelincir.

Kendati melemah harga CPO masih tetap di rentang posisi tertingginya sejak 8,5 tahun terakhir.

Harga CPO turun 22 ringgit atau melemah 0,62% dibanding posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Senin (28/12/2020) harga kontrak Maret 2021 yang aktif diperdagangkan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange tersebut berada di RM 3.547/ton dan tertinggi sejak pertengahan April 2019.


“Kontrak tersebut (CPO) dibebani oleh pelemahan di Bursa Komoditas Dalian,” kata seorang pedagang yang berbasis di Kuala Lumpur kepada Reuters. Baik kontrak minyak kedelai maupun minyak sawit di bursa Dalian turun 0,5% karena impor kedelai AS oleh China melonjak.

Impor kedelai dari AS pada November meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Namun prospek harga CPO untuk tahun 2021 masih cerah, setidaknya sampai kuartal pertama tahun depan berakhir.

Hal ini disampaikan oleh Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB). Menurut Ketua MPOB Datuk Ahmad Jazlan Yaakub, musim hujan yang menyebabkan banjir di banyak wilayah perkebunan kelapa sawit juga dapat mempengaruhi produksi komoditas Negeri Jiran tersebut.

“Hal ini akan menyebabkan semakin ketatnya pasokan minyak sawit yang akan berdampak pada penguatan harga CPO memasuki tahun 2021,” tambahnya. “Ini termasuk harga tandan buah segar (TBS), minyak sawit olahan, dan produk hilir lainnya.”

Statistik terbaru MPOB menunjukkan bahwa stok minyak sawit pada November merosot menjadi 1,56 juta ton, terendah sejak Juni 2017. Produksi CPO untuk periode yang sama yang ditinjau juga turun menjadi 1,49 juta ton, terendah sejak Maret.

MPOB memandang bahwa stagnasi yield per hektar di perkebunan dan kekurangan tenaga kerja sebagai salah satu tantangan utama yang dihadapi sektor kelapa sawit.

Ahmad Jahlan mencatat bahwa hasil TBS perkebunan lokal berkisar antara 18 hingga 19 ton per hektar dengan tingkat ekstraksi minyak (OER) sekitar 20% dan hasil minyak sawit stagnan sekitar 3,5 ton per hektar.

Ketua MPOB menunjukkan bahwa produksi minyak nasional secara rata-rata seharusnya sekitar lima ton hingga enam ton per hektar per tahun. Namun saat ini hanya produktivitasnya turun menjadi kurang dari empat ton per hektar per tahun.

“Jika faktor fundamental dan sentimen pasar tetap positif, hal ini tercermin dari kenaikan harga CPO di pasar,” ujar Ahmad Jazlan.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)