Sri Mulyani: Eksekusi belanja pemda untuk COVID dan PEN sangat lambat

Ini menggambarkan nampaknya daerah sangat tergantung pada program pemerintah pusat. Program mereka sendiri eksekusinya belum secepat dan se-urgent yang dilakukan pemerintah pusat

Jakarta (ANTARA) – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebutkan eksekusi belanja daerah dalam rangka penanganan COVID-19 dan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sangat lambat.

“Untuk daerah butuh perhatian besar. Kita lihat beberapa belanja daerah tunjukkan eksekusi yang tidak secepat dibayangkan,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Sri Mulyani menjelaskan total anggaran penanganan COVID-19 adalah Rp72,45 triliun dan baru terealisasi 42,23 persen atau Rp30,6 triliun karena daerah memiliki beberapa kendala.

Baca juga: Sri Mulyani: Masih ada Rp798,7 triliun APBN 2020 yang akan dieksekusi

Kendala itu meliputi kesulitan komunikasi dan koordinasi dengan pihak satgas dan pemda lain, waktu pelaksanaan tender untuk kegiatan yang relatif sempit, serta pengawasan pelaksanaanya belum cukup kuat.

Sri Mulyani merinci untuk alokasi bidang kesehatan sebesar Rp30,4 triliun dalam APBD hingga Oktober baru terealisasi Rp14,9 triliun atau meningkat sedikit Rp1,54 triliun dari Rp13,38 triliun pada September.

Untuk alokasi jaring pengaman sosial sebesar Rp22,8 triliun baru terealisasi Rp12,91 triliun hingga Oktober atau meningkat Rp1,15 triliun dibanding September Rp11,75 triliun.

Baca juga: Menkeu: Sisa dana penanganan COVID bisa dipakai 2021, ini syaratnya

Untuk dukungan ekonomi dengan alokasi Rp19,24 triliun baru terealisasi Rp2,75 triliun hingga Oktober atau meningkat Rp110,1 miliar dibanding September Rp2,64 triliun.

“Ini menggambarkan nampaknya daerah sangat tergantung pada program pemerintah pusat. Program mereka sendiri eksekusinya belum secepat dan se-urgent yang dilakukan pemerintah pusat,” ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani berharap pemerintah daerah dapat segera menyerap belanja penanganan COVID-19 dalam APBD lebih maksimal sehingga pemulihan ekonomi mampu lebih terakselerasi.

“Ini jadi satu pembelajaran, karena tentu kita harap APBD juga lakukan seluruh program sehingga membantu countercyclical-nya,” ujar Sri Mulyani.

Baca juga: Sri Mulyani: APBN telah lakukan tugas luar biasa atasi dampak COVID-19

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemerintah serap Rp25,6 triliun dari lelang SUN terakhir tahun ini

Fokus investor pada lelang kali ini terlihat cukup besar pada SUN tenor panjang. Incoming bids terbesar pada tenor 10-20 tahun mencapai 68,4 persen dari total incoming bids

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah menyerap dana sebesar Rp25,6 triliun dari lelang tujuh seri Surat Utang Negara (SUN) di pasar perdana yang terakhir untuk tahun 2020 dengan penawaran masuk mencapai Rp94,3 triliun.

Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Deni Ridwan di Jakarta, Selasa, mengatakan minat investor tetap tinggi dalam lelang SUN, meski terdapat kekhawatiran atas peningkatan kasus COVID-19.

“Fokus investor pada lelang kali ini terlihat cukup besar pada SUN tenor panjang. Incoming bids terbesar pada tenor 10-20 tahun mencapai 68,4 persen dari total incoming bids,” katanya.

Ia menambahkan penawaran masuk yang mencapai Rp94,3 triliun merupakan bids to cover ratio sebesar 3,68 kali. Capaian tersebut berada di atas rata-rata penawaran masuk dan bids to cover ratio tahun 2020 (yaitu Rp74,17 triliun dan 3,43 kali).

Baca juga: Penawaran tinggi bantu penyerapan dana Rp24,6 triliun dari lelang SUN

Selain itu pada triwulan IV-2020 penawaran masuk di lelang perdana SUN cenderung menguat dengan rata-rata sebesar Rp79,57 triliun atau lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata penawaran masuk triwulan III-2020 sebesar Rp69,52 triliun.

Deni memastikan imbal hasil yang dimenangkan pada lelang SUN juga tercatat menguat dibandingkan dengan lelang sebelumnya yang turun sebesar 7-20 bps.

“Sedangkan apabila dibandingkan dengan lelang pertama di tahun 2020, terdapat penurunan yield SUN yang sangat signifikan mencapai 58-131 bps,” ujarnya.

Hasil lelang SUN pada lelang kali ini mencakup seri SPN12211202 dengan jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp0,8 triliun, serta imbal hasil rata-rata tertimbang 3,19625 persen.

Baca juga: Kemenkeu: Lelang SUN sempat terpengaruh “wait & see” hasil Pilpres AS

Penawaran untuk seri ini mencapai Rp1,46 triliun dengan imbal hasil terendah yang masuk 3,19 persen dan imbal hasil tertinggi yang masuk 3,35 persen.

Untuk seri FR0086, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp4,75 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 5,06768 persen.

Penawaran untuk obligasi negara ini mencapai Rp11,74 triliun dengan imbal hasil terendah yang masuk mencapai 5,05 persen dan imbal hasil tertinggi yang masuk 5,8 persen.

Untuk seri FR0087, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp7,95 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,07655 persen.

Penawaran untuk obligasi negara ini mencapai Rp23,23 triliun dengan imbal hasil terendah yang masuk mencapai 6,05 persen dan imbal hasil tertinggi yang masuk sebesar 6,15 persen.

Untuk seri FR0080, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp1,6 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,62693 persen.

Baca juga: Lelang SUN serap Rp32,75 triliun dipengaruhi membaiknya pasar domestik

Penawaran untuk obligasi negara ini mencapai Rp19,29 triliun dengan imbal hasil terendah yang masuk mencapai 6,6 persen dan imbal hasil tertinggi yang masuk sebesar 6,7 persen.

Untuk seri FR0083, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp4,65 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,89641 persen.

Penawaran untuk obligasi negara ini mencapai Rp22 triliun dengan imbal hasil terendah yang masuk mencapai 6,86 persen dan imbal hasil tertinggi yang masuk sebesar 7,01 persen.

Untuk seri FR0076, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp5,85 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 7,13997 persen.

Penawaran untuk obligasi negara ini mencapai Rp15,23 triliun dengan imbal hasil terendah yang masuk mencapai 7,12 persen dan imbal hasil tertinggi yang masuk sebesar 7,25 persen.

Pemerintah tidak memenangkan lelang untuk SPN12210304 karena minimnya minat investor pada tenor jangka pendek dengan sedikitnya penawaran yang masuk Rp1,46 triliun.

Baca juga: Pemerintah serap Rp26,1 triliun dari lelang SUN

Pewarta: Satyagraha
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Sri Mulyani: Masih ada Rp798,7 triliun APBN 2020 yang akan dieksekusi

Belanja K/L dan non-K/L jauh lebih besar dibandingkan 2019 yang menggambarkan memang tahun ini kita melakukan APBN countercyclical ekspansi sangat besar dari belanja

Jakarta (ANTARA) – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memprediksikan total belanja negara pada kuartal IV mencapai Rp798,7 triliun sehingga total asumsi penyerapannya untuk 2020 sebesar Rp2.639,8 triliun atau 96,4 persen dari target Perpres 72/2020 Rp2.739,2 triliun.

“Untuk 2020 ini masih ada Rp798,7 triliun anggaran APBN yang akan dieksekusi,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Sri Mulyani merinci untuk belanja Kementerian/Lembaga (K/L) kuartal IV masih ada Rp421,2 triliun sehingga secara keseluruhan tahun diperkirakan akan terserap Rp1.053,4 triliun.

Untuk belanja non K/L masih ada Rp243,7 triliun pada kuartal IV sehingga secara total keseluruhan tahun akan terserap Rp823 triliun.

Baca juga: Presiden Jokowi minta belanja negara 2021 mulai direalisasi awal tahun

“Belanja K/L dan non-K/L jauh lebih besar dibandingkan 2019 yang menggambarkan memang tahun ini kita melakukan APBN countercyclical ekspansi sangat besar dari belanja,” ujar Sri Mulyani.

Untuk Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) masih ada Rp133,8 triliun pada kuartal IV sehingga secara sepanjang 2020 diproyeksikan akan terserap Rp763,5 triliun.

Sri Mulyani menyebutkan Transfer Ke Daerah (TKD) pada Oktober Rp68,2 triliun, November Rp57,3 triliun dan Desember diperkirakan Rp8,18 triliun sehingga secara keseluruhan 2020 akan terserap Rp692,36 triliun atau 99,9 persen dari target Rp692,73 triliun.

Menurutnya, meskipun pemerintah pusat melakukan transfer ke daerah namun APBD belum tentu mengeksekusinya karena kinerjanya hingga akhir Oktober baru Rp678 triliun.

Baca juga: Presiden Jokowi minta menteri dan kepala daerah mereformasi anggaran

“Jadi masih ada lebih dari Rp400 triliun yang akan dieksekusi pada November dan Desember,” tegas Sri Mulyani.

Sri Mulyani menyebutkan realisasi belanja negara hingga Oktober adalah Rp2.041,8 triliun atau 74,5 persen dari pagu sehingga berdasarkan asumsi di atas maka penyerapannya untuk November hingga Desember sebesar Rp598 triliun.

“Masih ada Rp1.068 triliun apabila APBN dan APBD dieksekusi sesuai rencana. Kita berharap angka lebih dari Rp1.000 triliun untuk kuartal IV bisa tetap menjaga momentum pemulihan ekonomi yang sudah nampak,” kata Sri Mulyani.

Baca juga: Belanja negara hingga Oktober 2020 tumbuh 13,6 persen

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Apakah Bursa RI Masih Heboh? Simak Dulu 7 Kabar Pasar Ini

Jakarta, CNBC Indonesia – Menutup perdagangan di akhir bulan November 2020, Indeks Harga Saham Gabungan terjerembap 2,95% ke level 5.612 poin.

Kekhawatiran pelaku pasar asing mengenai penanganan Covid-19 di Indonesia yang memburuk dengan penambahan kasus yang meningkat membuat aksi jual tak terhindarkan.

Senin kemarin (30/11/2020), data transaksi mencapai Rp 32,82 triliun dengan frekuensi sebanyak 1,68 juta kali. Investor asing tercatat melakukan aksi jual sebesar Rp 3,27 triliun.


Saham-saham yang banyak ditransaksikan kemarin antara lain, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL) PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Astra International Tbk (ASII).

Sebelum memulai perdagangan Selasa, (1/12/2020), cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia:

1. Dimulai Desember, Ini 4 Skema Restrukturisasi Polis Jiwasraya

PT Asuransi Jiwasraya (Persero) akan mulai melakukan sosialisasi dan restrukturisasi bagi pemegang polis ritel. Polis-polis yang akan direstrukturisasi ini nantinya akan dialihkan ke perusahaan asuransi baru, yakni IFG Life.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjaatmadja mengatakan terdapat empat opsi restrukturisasi yang akan ditawarkan kepada pemegang polis. Nasabah nantinya yang akan menentukan opsi mana yang akan dipilih sehingga pengembalian dana bisa dilakukan.

“Opsi itu kita tawarkan ke nasabah, ada empat opsi, jadi skema baku. Opsi itu yang pilih nasabah, masing-masing dikasih empat opsi, jadi bukan kita yang pilih opsi mana buat mereka,” kata Kartika saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Senin (30/11/2020).

Dia melanjutkan, Jiwasraya akan melakukan cut off ini per 31 Desember 2020. Nilai tersebut nantinya yang akan menjadi acuan bagi perusahaan untuk merestrukturisasi polis nasabah.

2. Krakatau Steel Raih Laba Operasi US$ 72,67 Juta di Q3-2020

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) berhasil meraih laba operasi sebesar US$ 72,67 juta pada periode Januari-September 2020. Krakatau Steel pun mencetak EBITDA positif sebesar US$ 55,99 juta, meningkat signifikan bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu minus US$ 40,51 juta. Program efisiensi yang dijalankan oleh Krakatau Steel berperan besar dalam raihan kinerja positif ini.

Hingga Kuartal 3-2020, Krakatau Steel telah menurunkan biaya operasi setiap bulannya hingga 50%. Perseroan melakukan efisiensi biaya operasi diantaranya melalui penurunan biaya energi sebesar 41%, biaya utility 21%, biaya consumable 51%, dan biaya spare part 60% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019. Krakatau Steel juga berhasil menurunkan cash cycle dari 82 hari menjadi 62 hari sebagai upaya untuk memperbaiki arus kas.

“Transformasi dan restrukturisasi Krakatau Steel yang dilakukan di segala lini hingga ke seluruh anak perusahaan telah menunjukkan hasil yang baik. Segala upaya yang kami lakukan ini membuat Krakatau Steel mampu bertahan di tengah kondisi perekonomian nasional yang terganggu akibat pandemi Covid-19”, ungkap Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim.

3. Kookmin Dukung Penuh, Ini Arah Bisnis Baru Bank Bukopin

PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) menyatakan akan fokus melakukan sejumlah perbaikan dengan masuknya KB Kookmin Bank sebagai pemegang saham pengendali (PSP) yang baru.

Direktur Utama Bank Bukopin, Rivan Ahmad Purwantono mengatakan, masuknya KB Kookmin akan memperkuat fundamental bisnis perusahaan. Adapun beberapa fokus yang akan dilakukan atau transformasi manajemen ke depan antara lain menyelesaikan kredit yang bermasalah atau non performing loan/NPL dan isu mengenai likuiditas.

Dia melanjutkan, dari sisi pemodalan, dengan masuknya PSP yang baru memberikan dampak yang positif. Hal ini terlihat dari indikator rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio /CAR) sampai dengan akhir September yang meningkat menjadi 16,34% dari 12,59% secara tahunan.

Total ekuitas naik 17,27% seiring tambahan modal Rp 3,9 triliun dari dua aksi korporasi, yakni Penawaran Umum Terbatas V pada Juli 2020 dan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (private placement) pada 2 September 2020.

“Kookmin jadi pengendali dengan kepemilikan 67%, jadi PSP yang baru dan kuat di industri turut meningkatkan kepercayaan publik dan investor,” kata Rivan, saat jumpa pers secara virtual, Senin (30/11/2020).

4. Jual Mal & Hotel Rp 1,35 T, Cukup Buat Bayar Utang Duniatex?

Duniatex Group baru saja melakukan penjualan tiga asetnya kepada PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dengan nilai jual mencapai Rp 1,35 triliun. Aset yang dimaksud antara lain dua pusat perbelanjaan dan satu hotel di Yogyakarta dan Solo.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan Pakuwon, aset yang dibeli antara lain Hartono Mall Yogyakarta dan Hartono Solo Baru serta Hotel Marriot Yogyakarta.

Aset ini sebelumnya dipegang oleh anak usaha perusahaan, PT Delta Merlin Dunia Properti dan aset tanah milik Sumitro, yang merupakan pemilik grup Duniatex.

Lalu apakah dana tersebut memenuhi kebutuhan untuk menyelesaikan beban keuangan Duniatex yang menggunung dan ramai dibicarakan sejak tahun lalu?

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, pada 26 Juni 2020 lalu total utang perusahaan yang harus diselesaikan bernilai lebih dari Rp 19 triliun.

Investor Asing Mulai Selow, IHSG Bisa Bangkit Lagi Nih!

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol nyaris 3% pada perdagangan Senin kemarin ke 5.612,415. Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan jual bersih (net sell) masif Rp 2,6 triliun di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 32 triliun. Nilai transaksi tersebut menjadi rekor terbesar sepanjang sejarah.

Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia yang mencetak rekor penambahan kasus harian sebanyak 6.267 orang pada hari Minggu (29/11/2020) membuat investor asing cemas, akan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ketat akan kembali diterapkan di wilayah yang mengalami lonjakan kasus. Jawa Tengah dan Jakarta menjadi 2 wilayah penyumbang kasus terbanyak.

Jika PSBB yang ketat kembali diterapkan, maka pemulihan ekonomi Indonesia kembali terancam melambat, alhasil investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) mengingat IHSG sudah melesat lebih dari 13% dalam 17 hari perdagangan sebelumnya. 


Kecemasan akan kemungkinan PSBB ketat kembali diterapkan masih akan menekan IHSG, tetapi bukan berarti tidak ada peluang menguat pada hari ini, Selasa (1/12/2020). Bursa saham AS (Wall Street) memang melemah juga pada perdagangan Senin waktu setempat, tetapi pagi ini indeks Wall Street berjangka sudah kembali menghijau.

Bursa utama Asia lainnya yang sudah dibuka seperti Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan juga menguat cukup tajam. Artinya sentimen pelaku pasar cukup bagus pagi ini.

Selain itu, penambahan kasus Covid-19 di Indonesia Senin kemarin sebanyak 4.617 orang, jauh lebih rendah dibandingkan hari Minggu lalu, sehingga bisa sedikit meredakan kecemasan pelaku pasar.

Secara teknikal, jebloknya IHSG kemarin terjadi akibat aksi profit taking yang masif. Ambrolnya IHSG juga menghapus nyaris semua penguatan pekan lalu. Meski demikian, penguatan IHSG masih cukup besar sejak memulai reli. Awal penguatan tajam IHSG dimulai Kamis (5/11/2020) saat muncul White Marubozu dalam grafik candle stick harian.

Saat itu IHSG membuka perdagangan di level 5.161,39, yang sekaligus menjadi level terendah harian, dan mengakhiri perdagagan di level 5.260,326, sekaligus menjadi level tertinggi harian.

Level open sama dengan low, dan close sama dengan high itu yang disebut sebagai White Marubozu.

jkseGrafik: IHSG Harian
Foto: Refinitiv

White Marubozu merupakan sinyal nilai suatu aset akan kembali menguat. Terbukti setelahnya IHSG terus menguat.

Kabar baiknya, pada Senin (23/11/2020) dan Kamis (26/11/2020) IHSG kembali membentuk pola White Marubozu, sehingga ada potensi reli akan kembali berlanjut, dan tidak menutup kemungkinan kembali ke level 6.000 dalam beberapa hari ke depan.

IHSG juga bergerak di atas rerata pergerakan 50 hari (moving average/MA 50), 100 hari (MA 100), dan 200 hari (MA 200).

Namun indikator stochastic pada grafik harian masih berada di wilayah jenuh beli (overbought), meski kemarin IHSG sudah menurun tajam. Stochastic pada grafik harian sudah sangat lama berada di wilayah overbought, sehingga memicu aksi profit taking yang masif.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

jkseGrafik: IHSG 1 Jam 
Foto: Refinitiv 

Stochastic pada grafik 1 jam kini berada di wilayah oversold yang memberikan peluang rebound.

Support terdekat berada di level 5.600 – 5.590, selama bertahan di atasnya IHSG berpotensi bangkit ke 5.660 sampai 5.670. Jika level tersebut dilewati, bursa kebanggaan Tanah Air ini berpeluang kembali ke 5. 700.

Sementara itu jika support ditembus, IHSG berisiko turun ke 5.560. Jika dilewati, target penurunan selanjutnya di 5.520.

Support kuat berada di level 5.458 yang merupakan Fibonnanci Retracement 61,8%. Fibonnaci tersebut ditarik dari level tertinggi September 2019 di 6.414 ke level terlemah tahun ini 3.911 pada grafik harian.

Selama bertahan di atas 5.458. ke depannya IHSG cenderung masih akan menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)

Erick Thohir Ungkap Lagi Bentuk Sinergi BRI PNM dan Pegadaian

Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mulai membuka sinergi antar perusahaan pelat merah, khususnya PT Bank Rakyat Indonesia dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Pegadaian (Persero). Erick ingin sinergi ini bisa berfokus pada pembiayaan untuk sektor ultra mikro.

Menurut Erick bisnis pembiayaan yang dilakukan PNM dan Pegadaian saat ini masih bergantung pada pembiayaan jangka panjang yang memiliki biaya tinggi. Sedangkan pembiayaan justru diberikan kepada nasabah kecil.

“PNM bisnis modelnya sangat bagus, tapi pendanaan sangat mahal jadi ga fair kalau membantu korporasi besar murah tapi ultra mikro mahal. Tapi ini bukan salah PNM tapi makanya sinergikan dengan BRI. Kalau ke luar pinjam bunganya 9%, tapi ke BRI bisa 3% jadi kan hemat 3%. Ini kenapa kita sinergikan pegadaian dan PMN,” kata Erick saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Senin (30/11/2020).


Hal ini sejalan dengan rancangan kementerian untuk membagi pasar yang lebih spesifik untuk bank-bank pelat merah, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) saat ini ditugaskan untuk memperbesar porsi pembiayaan untuk sektor ultra mikro.

Hingga akhir September 2020 lalu porsi portofolio kredit UMKM di BRI mencapai 80,65% dari total kredit September 2020 yang mencapai Rp 935,35 triliun.

Direktur Utama BRI Sunarso menyebutkan rencana pengembangan BRI ke depan akan berfokus pada pembiayaan segmen ultra mikro. Dengan arah ini, maka BRI mengincar porsi pembiayaan UMKM bisa naik ke 85%.

Segmen unbankable memang belum banyak digarap oleh BRI selama ini. Segmen ini terdiri dari bagian, termasuk productive poor yang diyakini memiliki pangsa pasar sangat besar, namun hanya sangat sedikit bank yang bermain. Segmen ini sudah lebih dulu dipegang oleh Pegadaian dan PNM.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari, mengatakan BRI harus menemukan sumber pertumbuhan yang baru. Untuk itu, BRI mulai masuk ke segmen ultra mikro dalam 2 bulan terakhir.

“Dalam 2 bulan kita sudah kasih ultra mikro Rp 5,5T dengan customer lebih dari 700 ribu nasabah,” kata dia beberapa waktu lalu.

[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)

Hari Baru, Bulan Baru, Bisakah Dolar AS ke Bawah Rp 14.000?

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya akan melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Tanda-tanda depresiasi rupiah sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF).

Berikut kurs dolar AS di pasar NDF beberapa saat setelah penutupan perdagangan pasar spotkemarin dibandingkan hari ini, Selasa (1/12/2020), mengutip data Refinitiv:


Periode

Kurs 39November (15:00 WIB)

Kurs 1 Desember (07:03 WIB)

1 Pekan

Rp 14.159,1

Rp 14.182,75

1 Bulan

Rp 14.194,9

Rp 14.208,6

2 Bulan

Rp 14.218,1

Rp 14.221

3 Bulan

Rp 14.254,1

Rp 14.257

6 Bulan

Rp 14.370,2

Rp 14.372,5

9 Bulan

Rp 14.497,2

Rp 14.509

1 Tahun

Rp 14.642,6

Rp 14.652

2 Tahun

Rp 15.379

Rp 15.394

 

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) yang kali terakhir diperbarui pada 30 November pukul 14:58 WIB:

Periode

Kurs

1 Bulan

Rp 14.155

3 Bulan

Rp 14.211

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot. Padahal NDF sebelumnya murni dimainkan oleh investor asing, yang mungkin kurang mendalami kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Bank Indonesia (BI) pun kemudian membentuk pasar DNDF. Meski tenor yang disediakan belum lengkap, tetapi ke depan diharapkan terus bertambah.

Dengan begitu, psikologis yang membentuk rupiah di pasar spot diharapkan bisa lebih rasional karena instrumen NDF berada di dalam negeri. Rupiah di pasar spot tidak perlu selalu membebek pasar NDF yang sepenuhnya dibentuk oleh pasar asing.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(aji/aji)

Trump Lempar ‘Bom’ Lagi ke China, Wall Street Merah Membara

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, merah pada penutupan Senin (30/11/2020). Indeks acuan Dow Jones terkoreksi parah 0,89%, Indeks S&P 500 0,45%, dan Nasdaq 0,06%
.
Anjloknya bursa saham Paman Sam terjadi akibat niat Presiden AS Donald Trump melakukan blacklist terhadap dua perusahaan asal China. Sontak saja ulah Trump kembali membuat pasar bereaksi negatif.


Ia akan melakukan memasukkan perusahaan produsen chip SMIC dan perusahaan produsen gas dan minyak offshore CNOOC China dalam blacklist. Kedua perusahaan akan ditutup aksesnya dari para investor AS.

Selain kembali meningkatnya tensi AS-China oleh Trump yang masa kepemimpinanya hanya tinggal 2 bulan lagi, para pelaku pasar juga mulai menarik dananya karena takut angka Covid-19 akan kembali meledak di AS pasca libur panjang hari raya Thanksgiving.

“Hampir pasti akan terjadi kenaikan jumlah kasus corona karena itulah yang akan terjadi apabila banyak masyarakat yang berpergian,” ujar Dr. Anthony Fauci ahli penyakit menular top asal AS kepada CNN International.

Sektor energi menjadi salah satu sektor yang tertekan setelah produsen minyak dan gas raksasa dijadwalkan akan bertatap muka untuk mendiskusikan apakah pemangkasan produksi akan dilanjutkan di mana pemangkasan ini dilakukan untuk memperbaiki harga minyak di tengah hantaman corona yang membuat lesu permintaan minyak.

Meskipun demikian muncul kabar baik dari Bank Sentral AS, The Fed yang mengatakan akan memperpanjang stimulus pinjaman yang akan berakhir pada akhir tahun menjadi paling tidak satu kuartal lagi.

Dow Jones sendiri mengakhiri bulan November dengan cukup baik dengan reli 12% dan menjadikan kenaikan bulan ini menjadi yang tertinggi sejak puluhan tahun lalu tepatnya Februari 1987.

[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)

Covid-19 Bikin Kacau, 6 Saham Ini Hancur Lebur dan Hampir ARB

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham domestik hancur lebur pada perdagangan kemarin, Senin (30/11/2020), karena aksi jual masif investor asing dan lokal. Investor khawatir penambahan kasus baru covid-19 akan memicu penerapan Pembatasan Sosial Besar-besaran (PSBB) oleh pemerintah. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi parah 2,96% di level 5.612,41 pada perdagangan awal pekan. Sejumlah saham-saham berkapitalisasi 

Anjloknya IHSG terjadi setelah IHSG melesat kencang dalam 8 pekan terakhir. Namun koreksi kemarin, dinilai sebagian besar investor bukan koreksi yang sehat. 


Ada 6 saham yang sudah dekat dengan zona autoreject bawah (ARB). Dari enam saham tersebut, lima saham milik perusahaan badan usaha milik negara. 

Harga saham PT Aneka Tambang Tbk drop 6,91% ke level harga 1.145/unit. Lalu saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) ambles 6,71% ke level Rp 1.390/unit.

Kemudian saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) ambles 6,65% ke level 3.230/unit, saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang drop 6,6% ke harga Rp 9.900/unit. 

Lalu saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) drop 6,31% ke harga Rp 1.040/unit dan saham PT PP Properti Tbk (PPRO) drop 6,12% ke harga Rp 92/unit. 

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan jual bersih masif sebanyak Rp 2,6 triliun di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 32,8 triliun. Terpantau 112 saham naik, 405 saham terkoreksi, sisanya 115 stagnan.

Tercatat PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang mencatatkan net sell asing paling jumbo yakni sebesar Rp 430 miliar disusul dengan Saham perbankan Pelat Merah dengan aset terbesar PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan jual bersih sebesar Rp 235 miliar. Selain itu perbankan besar lainya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga dilego asing Rp 400 miliar.

Sentimen negatif dari dalam negeri datang dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya, lantaran penanganan Covid-19 di Indonesia bukan semakin membaik, malah kian memburuk.

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memimpin rapat terbatas dengan topik pembahasan Laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, di Istana Merdeka, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

“Ini semuanya memburuk semuanya,” tegas Jokowi, Senin (30/11/2020).

Meskipun masih lebih baik dari angka dunia, namun ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata kasus aktif minggu lalu yang berada di 12,78%.

“Tingkat kesembuhan juga sama. Minggu lalu 84,03%, sekarang 83,44%,” katanya.

Sebagai informasi, kasus Covid-19 berkali-kali mencetak rekor selama November 2020. Hal ini sudah sepantasnya menjadi alarm tanda bahaya agar semua stakeholder, baik dari pemerintah sampai masyarakat untuk makin gencar menerapkan protokol kesehatan.

Tercatat sebanyak 4 kali Indonesia mencetak rekor pertambahan kasus harian. Yang tertinggi terjadi pada Minggu (29/11/2020) dengan 6.267 pasien Covid-19 dalam sehari.

Selain itu, juga ada rekor kasus kematian dengan 169 pasien meninggal dalam sehari pada 27 November 2020. Kemarin, kasus kematian juga menyamai rekor tersebut.

Pasca mencetak rekor tertingginya kemarin, jumlah pasien baru virus corona (Covid-19) kembali meningkat 4.617 orang, pada Senin (30/11/2020).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kasus baru Covid-19 tersebut ditemukan dari 40.055 spesimen yang selesai diperiksa pada hari ini dan kemarin. Hal ini membuat total konfirmasi positif di Indonesia menembus 538.883 orang.

Dari total kasus tersebut, sebanyak 450.518 merupakan pasien sembuh, yang bertambah 4.725 orang dibandingkan dengan kemarin. Sementara itu, jumlah kasus kematian mencapai 16.945 orang, bertambah 130 orang dibandingkan dengan kemarin.

Semesta Tak Mendukung! Naga-naganya IHSG Perlu ‘Obat Merah’

Jakarta,CNBC IndonesiaIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (30/11/20) berakhir di zona merah, terkoreksi parah 2,96% di level 5.612,41.

Anjloknya IHSG setelah investor melanjutkan aksi ambil untung pasca-IHSG yang melesat kencang sepekan terakhir dan kenaikan kasus Covid-19 dari dalam negeri sehingga potensi terjadinya PSBB ketat kembali mencuat.


Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan jual bersih masif sebanyak Rp 2,6 triliun di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini kembali memecahkan rekor di angka Rp 32,8 triliun.

Sentimen negatif dari dalam negeri datang dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya, lantaran penanganan Covid-19 di Indonesia bukan semakin membaik, malah kian memburuk.

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memimpin rapat terbatas dengan topik pembahasan Laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, di Istana Merdeka, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

“Ini semuanya memburuk semuanya,” tegas Jokowi, Senin (30/11/2020).

Berdasarkan data yang diterima Kepala Negara per 29 November 2020, rata-rata kasus aktif meningkat menjadi 13,41%. Meskipun masih lebih baik dari angka dunia, namun ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata kasus aktif minggu lalu yang berada di 12,78%.

“Tingkat kesembuhan juga sama. Minggu lalu 84,03%, sekarang 83,44%,” katanya.

Sebagai informasi, kasus Covid-19 berkali-kali mencetak rekor selama November 2020. Hal ini sudah sepantasnya menjadi alarm tanda bahaya agar semua stakeholder, baik dari pemerintah sampai masyarakat untuk makin gencar menerapkan protokol kesehatan.

Tercatat sebanyak 4 kali Indonesia mencetak rekor pertambahan kasus harian. Yang tertinggi terjadi pada Minggu (29/11/2020) dengan 6.267 pasien Covid-19 dalam sehari.

Selain itu, juga ada rekor kasus kematian dengan 169 pasien meninggal dalam sehari pada 27 November 2020. Kemarin, kasus kematian juga menyamai rekor tersebut.

Senasib dengan IHSG, nilai tukar rupiah melemah melawan dolar AS pada perdagangan kemarin. Pelemahan hari ini menjadi awal yang kurang bagus bagi rupiah yang belum pernah melemah dalam 9 pekan terakhir. Rinciannya, rupiah mampu menguat selama 8 pekan, dan stagnan 1 pekan.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,07% di Rp 14.060/US$ di pasar spot. Rupiah kemudian berbalik melemah hingga 0,46% ke Rp 14.135/US$.

Di penutupan perdagangan, rupiah berhasil memangkas pelemahan ke Rp 14.090/US$, melemah 0,14%.

Sementara itu harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) pada Senin (30/11/2020) mayoritas ditutup menguat, setelah kenaikan kasus virus corona menyebabkan investor beralih ke instrumen investasi yang lebih aman.

Yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan acuan yield obligasi negara turun 3 basis poin ke level 6,188% hari ini.Yieldberlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang naik. Demikian juga sebaliknya.