Anti Mainstream! Bank Sentral Turki Kerek Suku Bunga Jadi 17%

Jakarta, CNBC Indonesia – Tahun 2020 merupakan tahun yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah modern. Pandemi virus corona (Covid-19) membuat perekonomian global nyungsep ke jurang resesi. Tidak hanya satu atau beberapa negara atau wilayah, tetapi seluruh dunia mengalami pelambatan ekonomi.

Guna menyelamatkan perekonomian, bank sentral di berbagai negara “berlomba” melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga acuannya. Bank sentral Amerika Serikat (AS) misalnya, di bulan Maret lalu secara agresif memangkas suku bunganya sebanyak 2 kali, masing-masing 50 basis poin (bps) dan 100 bps menjadi 0,25%.

Bank Indonesia (BI) juga melakukan hal yang sama, memangkas suku bunga acuannya sebanyak 5 kali, masing-masing 25 bps sehingga total 125 bps menjadi 3,75%.


Tetapi hal yang berbeda justru dilakukan bank sentral Turki (TCMB) yang secara agresif malah menaikkan suku bunga di tahun ini.

Kemarin, TCMB menaikkan suku bunga acuannya sebesar 200 bps menjadi 17%. Di semester pertama tahun ini, TCMB sebenarnya memangkas suku bunga sebanyak 5 kali dengan total 3,75% ke rekor terendah 8,25%.

Tetapi, setelahnya inflasi di Turki justru melesat naik, yang memaksa TCMB putar arah kembali menaikkan suku bunga. Pada bulan September, TCMB menaikkan suku bunga 200 bps, kemudian naik lebih signifikan lagi 475 bps di bulan November, dan 200 bps kemarin, hingga total menjadi 875 bps ke 17%.

Suku bunga tersebut menjadi yang tertinggi sejak September 2019.

Naci Agbal, Gubernur TCMB yang baru menjabat sejak 7 November lalu menggantikan Murat Uysal TCMB mengadopsi kebijakan moneter yang ketat untuk mengurangi risiko inflasi.

Pada bulan November inflasi di Turki melesat menjadi 14,03% year-on-year (YoY) dari bulan sebelumnya 11,89% YoY.

Agbal menegaskan di tahun 2021 TCMB masih akan menerapkan kebijakan moneter ketat, dan membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga.