Australia-China Kian Sengit, Batu Bara Tembus Rekor Lagi

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara masih lanjut reli dan terus mencetak rekor tertinggi barunya setiap hari. Kini harga batu bara sudah berada di rentang tertingginya selama satu setengah tahun terakhir. 

Pada perdagangan Senin (14/12/2020), harga kontrak futures batu bara termal Newcastle ditutup dengan apresiasi 1,64% dibanding posisi penutupan akhir pekan lalu. Harga kontrak batu bara yang aktif ditransaksikan ini sekarang tembus US$ 83,85/ton.

Sepanjang bulan Desember harga batu bara telah terangkat 19,87%. Sementara jika ditarik lebih ke belakang lagi sepanjang kuartal terakhir tahun ini si batu legam sudah melesat 35,57%. Kini harga batu bara sudah 21,43% lebih tinggi dibanding periode awal tahun 2020.


Selain batu bara termal, jenis batu bara metalurgi (kokas) juga mengalami kenaikan harga. Mengacu pada Argus, harga batu bara kokas dengan volatilitas rendah naik menjadi US$ 129/ton fob. 

Peningkatan permintaan dari China menjadi pemicunya. Berbeda dengan banyak negara lain yang mengalami dampak serius pada perekonomiannya akibat pandemi Covid-19, Negeri Tirai Bambu kini sedang berada di jalur pemulihan. 

Saat lockdown pertama kali dilakukan awal Januari sampai awal Maret, PDB China terkontraksi 6,8% (yoy). Namun setelah pelonggaran dilakukan ada perbaikan kondisi perekonomian yang menyebabkan pertumbuhan 3,2% (yoy) pada kuartal kedua. 

Di kuartal ketiga, kinerja ekonomi China semakin impresif. China berhasil tumbuh 4,9% (yoy). Pertumbuhan PDB yang mencerminkan bahwa roda perekonomian mulai bergerak membuat permintaan terhadap komoditas pun ikut terdongkrak, tak terkecuali untuk komoditas energi primer seperti batu bara.

China sebenarnya memiliki pasokan domestik. Namun harga batu bara lokal China jauh lebih mahal daripada harga batu bara impornya. Oleh karena itu China mengandalkan impor batu bara dari berbagai negara seperti Indonesia, Mongolia hingga Rusia. 

Sejauh ini China mengimpor dua jenis batu bara yaitu kategori termal yang banyak digunakan di pembangkit listrik dan batu bara kokas yang banyak digunakan untuk produksi baja. 

Namun hubungan China dan Australia semakin merenggang. Saat ini China masih memboikot produk batu bara Australia. Melansir Reuters, China memberi izin ke pembangkit listrik untuk mengimpor batu bara tanpa batasan izin, kecuali Australia.

Tidak terima akan hal itu, Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham mengatakan pihaknya akan menempuh semua jalan untuk membela hak-hak bisnis Negeri Kanguru. 

“Kami telah melihat adanya gangguan terkait dengan perdagangan antara Australia dengan China secara umum,” kata Birmingham kepada awak media, sebagaimana diwartakan Reuters.

“Ada bukti dokumentasi nyata bahwa sejumlah kapal yang memuat batu bara Australia ke China mengalami penundaan untuk jangka waktu yang cukup lama.” tambahnya. 

Faktor inilah yang saat ini dicermati pelaku pasar. Di sisi lain kenaikan harga batu bara juga ditopang oleh berbagai berita positif soal vaksin Covid-19. Inggris sudah mulai program vaksinasi darurat Covid-19 menggunakan 800 ribu dosis vaksin Pfizer-BioNTech. Sebentar lagi AS akan menyusul karena FDA juga sudah memberi izin. 

Adanya vaksinasi di tengah maraknya lockdown parsial di Eropa dan Amerika membuat pelaku pasar optimis. Harga aset-aset keuangan berisiko seperti saham pun terdongkrak. Harga komoditas juga ikut naik. Kenaikan harga minyak mentah ke level tertinggi dalam 9 bulan terakhir juga berdampak positif pada harga batu bara.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)