Berdarah-darah Efek Corona, Gaji Karyawan Matahari 100% Pulih

Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten ritel Grup Lippo, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) menyebutkan telah memulihkan 100% gaji karyawannya per awal November ini.

Kebijakan ini diambil manajemen perusahaan kendati penjualan perusahaan masih lebih rendah dibanding dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) DKI diterapkan kembali pada Agustus lalu.

Berdasarkan bahan paparan LPPF yang disampaikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat ini (27/11/2020), pulihnya gaji karyawan ini juga disertai dengan bonus, pendapatan tambahan di kuartal keempat, untuk mengkompensasi pemotongan gaji di dua kuartal sebelumnya.


“Gaji telah dikembalikan 100% mulai 1 November 2020. Tunjangan tambahan juga akan diberikan pada kuartal keempat untuk mengembalikan pengorbanan karyawan selama kuartal 2 dan 3,” tulis manajemen LPPF, dikutip Jumat (27/11/2020).

Selain menaikkan kembali gaji, manajemen perusahaan menargetkan untuk bisa menurunkan nilai pinjaman bank ke posisi Rp 1,1 triliun-Rp 1,2 triliun pada akhir tahun.

Pada akhir September lalu nilai pinjaman bank ini mencapai Rp 1,44 triliun dengan seluruh pinjaman ini dilakukan di tahun ini.

Dari sisi beban, diperkirakan hingga akhir tahun, akan terjadi penurunan beban pokok pendapatan ke angka Rp 1,1 triliun, dari posisi Rp 1,3 triliun pada akhir kuartal ketiga lalu.

Perusahaan cukup optimistis dengan penurunan ini karena posisi saat ini pos ini telah turun ke Rp 1,2 triliun.

Perlu diketahui, komponen utama dari beban pokok pendapatan ini adalah stok barang yang masih belum terjual.

“Masuk ke semester pertama 2021 akan menjadi tantangan utama perusahaan yang mengakibatkan terjadinya volatilitas margin. Fokus saat ini adalah mengurangi inventori 2020 yang masih cukup rendah pergerakannya,” tulis manajemen.

Untuk tahun depan, perusahaan menyebutkan juga tidak akan melanjutkan kerja sama dengan tujuh brand. Nilai dari inventori yang ada saat ini mencapai Rp 165 miliar dan direncanakan untuk dilikuidasi pada pertengahan tahun depan.

Seperti diketahui, sepanjang tahun ini perusahaan telah menutup tujuh gerai format besar dan seluruh gerai khusus ditutup. Diperkirakan sampai akhir tahun masih akan ada tiga gerai lainnya yang akan ditutup sampai akhir tahun.

Penutupan ini dilakukan sejalan dengan kinerja perusahaan yang cukup berat tahun ini.

Sepanjang 9 bulan tahun ini perusahaan membukukan rugi bersih senilai Rp 616,60 miliar. Nilai ini berbanding terbalik dengan periode akhir September 2019 dimana perusahaan masih mengantongi keuntungan senilai Rp 1,18 triliun.

Pendapatan perusahaan pun terjun bebas 57,49% secara year-on-year (YoY) dengan posisi di akhir kuartal III-2020 senilai Rp 3,32 triliun. Jumlah ini jauh sekali di bawah pendapatan di periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 7,82 triliun.

Turunnya pendapatan ini paling dalam terjadi pada penjualan eceran yang turun menjadi Rp 2,13 triliun dari sebelumnya Rp 5,02 triliun di periode tersebut.

Manajemen perusahaan menyebutkan, penurunan kinerja yang signifikan ini setelah setelah diberlakukannya kembali PSBB di Jakarta sehingga perusahaan terpaksa membatasi kembali bisnisnya di wilayah ini. Padahal kinerja perusahaan disebutkan sudah mulai pulih secara stabil sejak Juli, hingga pertengahan September.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)