BI Akhirnya Pangkas Suku Bunga, Harga SBN Lanjut Menguat

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) pada Kamis (19/11/2020) mayoritas ditutup menguat, setelah Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan.

Mayoritas SBN hari ini ramai dikoleksi oleh investor, kecuali SBN tenor 1 tahun dan 5 tahun. Dilihat dari imbal hasilnya (yield), hampir semua SBN mengalami penurunan yield, tetapi tidak untuk yield SBN tenor 1 tahun yang naik 5,8 basis poin ke level 4,013% dan yield SBN berjatuh tempo 5 tahun yang naik 4,1 basis poin ke 5,233%

Sementara itu, yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan acuan yield obligasi negara melanjutkan penurunan, yakni 0,3 basis poin ke level 6,178% hari ini. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang naik. Demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.


Harga SBN mayoritas kembali menguat karena investor merespons positif terkait keputusan BI yang menurunkan suku bunga acuannya kali ini, setelah 4 bulan suku bunga acuan tersebut ditahan di level 4%.

Pada Kamis (19/11/2020), RDG BI edisi November 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility turun menjadi 3% dan suku bunga Lending Facility sekarang di 4,5%.

“Keputusan ini mempertimbangkan perkiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas eksternal yang terjaga dan langkah pemulihan ekonomi nasional,” kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usai RDG.

Hal ini tidak diperkirakan oleh mayoritas pelaku pasar. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dan Reuters menghasilkan proyeksi BI 7 Day Reverse Repo Rate tetap di 4%. Artinya, suku bunga acuan kini berada di di posisi terendah sejak diperkenalkan pada Agustus 2016 menggantikan BI Rate.

Dalam kondisi normal, penurunan suku bunga acuan membuat rentang (spread) imbal hasil SBN suatu negara menipis jika dibandingkan dengan negara maju, yang pda gilirannya menekan harga surat utang.

Namun di tengah ekspektasi banjir stimulus di Amerika Serikat (AS), Wall Street diperkirakan kebanjiran likuiditas sehingga pelaku pasar Negeri Sam bakal membelanjakannya ke pasar emerging market, salah satunya untuk membeli SBN setempat termasuk di Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)