BI Bali bina petani Merta Buana kembangkan cabai dari hulu ke hilir

Program pengembangan UMKM berbasis ketahanan pangan ini merupakan upaya Bank Indonesia untuk pengendalian inflasi

Amlapura (ANTARA) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali memberikan pembinaan dari hulu ke hilir kepada Kelompok Tani Ternak (KTT) Merta Buana, Desa Ababi, Kabupaten Karangasem, yang mengembangkan komoditas cabai organik.

“Program pengembangan UMKM berbasis ketahanan pangan ini merupakan upaya Bank Indonesia untuk pengendalian inflasi,” kata Deputi Kepala KPwBI Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda dalam acara penyerahan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) di Desa Ababi, Amlapura, Kabupaten Karangasem, Jumat.

Baca juga: BI Bali hadirkan “BI Corner” di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

KPwBI Bali telah membina KTT Merta Buana sejak 2018 hingga saat ini. Saat awal pembinaan, KTT Merta Buana hanya terdiri atas satu kelompok tani dan saat ini telah ditunjang oleh beberapa kelompok tani lainnya.

Rizki mengemukakan, di sektor hulu, Bank Indonesia memberikan pelatihan budi daya dengan sistem penanaman dan budi daya secara organik menggunakan mikrobakter MA 11 serta memberikan bantuan teknis berupa pembuatan pupuk organik, fungisida, dan pestisida alami.

Sementara di sisi hilir, Bank Indonesia juga memberikan dukungan berupa pelatihan manajemen SDM kelompok.

“Selain itu, kami juga memberikan dukungan untuk pembuatan hilirisasi produk olahan cabai menjadi saos cabai, sambal khas Karangasem, sambal hijau, sambal goreng dan sambal klengis yang menjadi andalan KTT Merta Buana,” ujar Rizki.

Pihaknya mendorong UMKM agar mengantongi sertifikasi halal dan BPOM sehingga dapat dipasarkan lebih luas ke pasar modern, dari yang saat ini pemasarannya terbatas dari tetangga ke tetangga.

Dalam acara penyerahan PSBI tersebut, KTT Merta Buana mendapatkan bantuan alat dan mesin pertanian, serta bangunan balai kelompok rumah cabai untuk pengolahan hilirisasi produk cabai.

Baca juga: BI Bali bantu paket pendidikan daring untuk sekolah-kampus di Buleleng

Sementara itu, Ketua sekaligus Penanggungjawab KTT Merta Buana I Wayan Antos menyampaikan terima kasih atas dukungan pelatihan maupun sarana dan prasarana yang telah diberikan KPwBI Provinsi Bali.

“Pelatihan yang diberikan sangat luar biasa, sebelumnya kami tidak mengerti budi daya cabai organik, tetapi akhirnya menjadi paham, sampai bisa menghasilkan produk olahan cabai,” ucapnya didampingi Deputi Direktur KPwBI Bali Donny Heatubun.

KTT Merta Buana yang semula mengerjakan demplot seluas satu hektare, kini telah berkembang mengolah lahan seluas 11,2 hektare. Bahkan, telah dikembangkan dengan mencari kelompok pendamping dari desa-desa sekitar dengan luasan demplot rata-rata satu hektare.

Antos mengemukakan rata-rata kapasitas produksi cabai merah organik di KTT Merta Buana sebanyak 23,4 ton per hektare, yang dijual ke sejumlah pasar tradisional.

Untuk lebih memaksimalkan penjualan cabai dan meningkatkan kesejahteraan petani, Antos sangat berharap ada pasar khusus yang bisa menyerap hasil pertanian organik.

“Selama ini pasar tidak melihat apakah itu cabai organik atau tidak, harga dipukul rata, sehingga kami juga harus menerima juga ketika harga cabai anjlok sampai Rp8.000 per kilogram. Belakangan ini harga cabai memang lumayan hingga Rp35 ribu per kilogram,” katanya.

Meskipun harga cabai sudah naik, namun kata Antos, petani masih menghadapi tantangan dengan perubahan musim dan serangan lalat buah.

“Kami sangat berharap ke depannya Bank Indonesia dapat memfasilitasi kami untuk pengurusan BPOM dan sertifikasi halal untuk produk olahan kami sehingga bisa dipasarkan lebih luas,” ucapnya sembari mengatakan sebelumnya KTT Merta Buana juga lolos kurasi dalam Karya Kreatif Indonesia 2020.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR I Gusti Agung Rai Wirajaya mengingatkan untuk proses produksi produk olahan cabai harus memperhatikan dari sisi higienitas.

Di samping itu, Rai Wirajaya mengharapkan anggota kelompok KTT Merta Buana tetap mempertahankan pertanian organik karena dari sisi harga lebih mahal dibandingkan dengan produk pertanian yang menggunakan pupuk dan pestisida kimia.

“Kami harapkan Bank Indonesia jangan berhenti sampai di sini, tetapi terus bergerak membangkitkan ekonomi Bali. Termasuk di antaranya mengendalikan inflasi dengan mengembangkan UMKM yang berbasis ketahanan pangan,” ucap politisi PDI Perjuangan asal Bali itu.

Baca juga: BI: Pertumbuhan ekonomi Bali 2021 mencapai 5,5 persen
 

Anggota kelompok KTT Merta Buana, Karangasem menunjukkan sejumlah produk olahan cabai.
ANTARA/Rhisma

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020