BI Jateng prediksikan pertanian hingga UMKM mampu pulihkan ekonomi

Dari catatan kami, sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang tinggi saat industri mengalami kontraksi, hal ini membuktikan bahwa sektor primer mampu bertahan saat pandemi.

Semarang (ANTARA) –
Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah memprediksikan sektor pertanian hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu memulihkan perekonomian Jateng di tengah pandemi COVID-19.

“Dari catatan kami, sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang tinggi saat industri mengalami kontraksi, hal ini membuktikan bahwa sektor primer mampu bertahan saat pandemi,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah Soekowardojo pada Pertemuan Tahunan BI 2020 yang dilakukan melalui virtual di Semarang, Kamis.

Menurut data dari BI,  pangsa tenaga kerja di sektor pertanian juga meningkat di 2020 ini. Kondisi tersebut mengindikasikan pertanian menjadi lapangan kerja  saat marak pengurangan tenaga kerja di berbagai sektor. Berdasarkan data, dikatakannya, untuk peningkatannya secara “year on year” (yoy) sebesar 6,39 persen.

“Meski demikian, dibutuhkan upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian, di antaranya melalui peningkatan kelembagaan petani, serta penerapan teknologi pertanian baik di hulu maupun hilir. Upaya ini perlu dilakukan untuk menciptakan harga yang terjangkau di tingkat konsumen,” katanya.

Baca juga: Gubernur BI paparkan strategi agar ekonomi RI lebih mantap pada 2021

Selain itu, dikatakannya, sektor UMKM sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perekonomian dalam negeri juga harus ditingkatkan kapabilitasnya. Salah satu yang perlu dilakukan adalah meningkatkan korporatisasi melalui edukasi dan pendampingan.

“Termasuk mengenai pendirian badan usaha atau kelompok usaha. Selain itu juga meningkatkan kapasitas UMKM melalui fasilitas kurasi produk, digital marketing, hingga pemanfaatan transaksi digital seperti QRIS,” katanya.

Ia mengatakan sumber perekonomian baru juga harus terus diupayakan untuk memperkuat rantai nilai dari sumber daya yang sudah ada, misalnya penguatan di sektor hilir, yaitu pengembangan agroindustri.

“Riset memperlihatkan potensi besar pada sektor yang saat ini relatif kecil kontribusinya pada perekonomian Jawa tengah, yaitu industri obat tradisional, pengolahan kopi, pariwisata. Ketiganya ini memiliki keunggulan, tren bisnis yang meningkat. Misalnya Borobudur memiliki keunikan budaya dan alam yang jarang dimiliki oleh objek wisata lain. Ini bisa jadi modal bagi Borobudur untuk menyasar ke segmen yang lebih spesifik,” katanya.

Baca juga: Perekonomian RI mulai membaik, Gubernur BI: Masa kritis sudah berlalu

Sementara itu, pihaknya terus mengajak seluruh pihak bersama menghadapi pandemi dengan penuh optimisme dan berupaya mengembalikan ekonomi seperti sedia kala.

“Saat ini pemulihan ekonomi Jawa Tengah di triwulan III mulai terlihat membaik, kontraksi 3,93 persen atau lebih baik dibandingkan dengan kontraksi 5,94 persen pada triwulan II. Pemulihan terjadi di seluruh komponen pengeluaran. Aktivitas masyarakat pada pusat perbelanjaan mulai terlihat membaik,” katanya.

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020