Bukan Batu Bara, Emiten Milik Luhut Bidik Cuan Bisnis Listrik

Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten energi terintegrasi PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), yang sebelumnya bernama PT Toba Bara Sejahtra, akan fokus pada bisnis di sektor ketenagalistrikan dan energi terbarukan.

Dalam dokumen paparan publik yang digelar pada 25 November lalu, dan disampaikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat ini (27/11), manajemen TOBA diwakili Direktur Pandu P Sjahrir menyatakan, sumber tenaga listrik nantinya bisa berasal dari fossil fuel dan juga non-fossil fuel.

“Perseroan melihat bahwa dari sisi investor diversifikasi merupakan hal penting, karenanya untuk ke depannya perseroan akan mengembangkan juga bidang usaha renewable energy [energi baru terbarukan] sebagai new segment, tidak hanya segmen coal-fired atau fossil fuel based energy,” kata Pandu, dalam dokumen tersebut, dikutip Jumat ini.


Perseroan juga akan memberikan guidance untuk tahun depan, hanya saja dapat disampaikan bahwa pendapatan dari batu bara tetap akan ada, dari sisi perkembangan pembangkit tenaga listrik juga akan semakin signifikan.

“Dapat kami tambahkan juga bahwa tugas kami adalah untuk mengembangkan portfolio di bidang downstream karena ini sesuai dengan pernyataan Bapak Presiden Republik Indonesia [Joko Widodo] beberapa bulan yang lalu bahwa pelaku industri batu bara untuk melakukan downstream,” kata manajemen TOBA.

Pandu menjelaskan, salah satu yang bisa dilakukan oleh perusahaan batu bara adalah dari sisi pembangkit tenaga Listrik.

Meski demikian perseroan juga berkeinginan untuk memperbesar bidang usaha renewable energy.

“Untuk melakukan hal tersebut maka kami dapat membangun proyek dari awal atau green field, atau membeli segmen usaha yang sudah mulai berjalan atau brown field, atau membeli proyek yang sudah berjalan dan menghasilkan,” kata keponakan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan ini.

Dia menegaskan, hal-hal tersebut sudah dilakukan oleh perseroan, mengingat saat ini TOBA sedang membangun pembangkit listrik dari green field menjadi brown field di Gorontalo dan Minahasa.

“Perseroan memiliki kemampuan dan kapasitas untuk membeli barang yang sudah jadi seperti di BHP yang mana performance-nya pun terlihat baik. Jadi dapat disampaikan bahwa sebagai perusahaan terbuka, Perseroan sudah terbukti mampu untuk melakukan hal-hal tersebut,” katanya.

BHP adalah PT Batu Hitam Perkasa, anak usaha TOBA yang memegang 5% saham di PT Paiton Energy.

Secara kinerja, per September 2020, TOBA mencatatkan laba bersih mencapai US$ 29,51 juta atau setara dengan Rp 413,19 miliar (kurs Rp 14.000/US$).

Laba bersih tersebut naik 52,42% dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 19,36 juta atau sekitar Rp 271 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi, pendapatan justru menurun di tengah pandemi Covid-19.

Meski laba naik, pendapatan TOBA justru turun 22% menjadi US$ 275,36 juta atau sekitar Rp 3,86 triliun dari periode September tahun lalu US$ 355,12 juta.

Dari sisi pendapatan, kontribusi terbesar TOBA yakni dari penjualan batu bara untuk pihak ketiga luar negeri mencapai US$ 156,89 juta, kendati turun dari sebelumnya US$ 229,86 juta.

Selain itu, pendapatan terbesar lainnya juga dibukukan dari bisnis konstruksi sebesar US$ 112,94 juta dari sebelumnya US$ 116,93 juta.

Sebelumnya, pada September 2020, Toba Bara Sejahtra Tbk. resmi melakukan pergantian nama perusahaan menjadi TBS Energi Utama.

Saham perusahaan saat ini juga dimiliki oleh Luhut Pandjaitan. Luhut pernah membeberkan kepemilikan sahamnya di TOBA yang dimiliki lewat PT Toba Sejahtra.

“Saya mempunyai saham di Toba Bara Sejahtra, tapi sekarang saya tinggal 10 persen di situ [Toba Bara Sejahtra], itu saja,” kata Luhut di kantornya, Rabu (27/2), dikutip CNN Indonesia.

Per Desember 2019, secara detail, pemegang saham TOBA yakni Highland Strategic Holding Pte Ltd (HSH) sebesar 61,91%, Bintang Bara BV 10%, PT Toba Sejahtra 10%, PT Bara Makmur Abadi 6,25%, PT Sinergi Sukses Utama 5,10%, dan publik 6,74%.

Per September 2020, pemegang sahamnya yakni HSH 61,91%, Bintang Bara 10%, Toba Sejahtra 10%, Bara Makmur Abadi 6,25%, Sinergi 5,10% dan publik 6,74%.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)