Catat! JP Morgan Sebut Investasi Ini Bisa Kalahkan Emas

Jakarta, CNBC Indonesia – Tak butuh waktu lama untuk dolar AS kembali melemah ke level terendahnya dalam kurun waktu dua setengah tahun terakhir. Alhasil emas yang sempat ambrol jadi punya momentum untuk menguat. Itulah yang terjadi pada perdagangan pagi ini, Jumat (11/12/2020).

Harga emas naik 0,14% lebih tinggi daripada posisi penutupannya kemarin di arena pasar spot. Logam kuning tersebut dibanderol di US$ 1.838,11/troy ons pada 09.10 WIB. Di saat yang sama indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terjungkal 0,17%.


Dolar AS memang dalam tren koreksi tajam. Kebijakan moneter uiltra longgar the Fed lewat suku bunga acuan yang berada di zero lower bound dan pelonggaran kuantitatif yang memicu menggembungnya neraca bank sentral dengan pertambahan sebesar US$ 3 triliun dan stimulus fiskal jumbo membuat posisi dolar tertekan.

Adanya ekspektasi inflasi tinggi di masa depan membuat investor mengalihkan sebagian portofolionya ke emas untuk lindung nilai. Menambah tekanan ke atas harga emas ada kebijakan moneter dari bank sentral Eropa (ECB). 

Kemarin bank sentral di bawah kepemimpinan Christine Lagarde itu memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya. Namun ECB menambah likuiditas melalui jalur pelonggaran kuantitatif sebanyak 500 miliar euro lewat program pembelian obligasi saat pandemi ketika negara-negara di Benua Biru dilanda gelombang kedua wabah.

Harga emas memang masih sulit tembus ke level yang lebih tinggi dari US$ 1.800/troy ons. Kesepakatan soal stimulus fiskal jilid II di AS juga menjadi faktor yang menahan kenaikan emas lebih lanjut. 

Meski Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan bahwa negosiasi menunjukkan kemajuan. Namun masih ada perdebatan soal skema bantuan fiskal tersebut. Kini pihak Demokrat mendukung usulan bipartisan stimulus senilai US$ 908 miliar. Hanya saja usulan tersebut ditolak oleh pemimpin senat mayoritas Mitch McConnell. 

Menurut ING prospek emas tahun depan masih terbilang oke. Menurut laporan ING inflasi tahun depan bisa memicu harga emas kembali ke US$ 2.000 di kuartal ketiga. Harga emas rata-rata tahun itu diperkirakan mencapai US$ 1.965/troy ons. 

Berbeda dengan ING yang punya pandangan bullish terhadap emas, JP Morgan justru melihat emas berpotensi mengalami penurunan harga. Apalagi sekarang bitcoin semakin populer di kalangan investor. 

Hal ini terlihat dari adanya inflow ke Bitcoin senilai US$ 2 miliar sejak Oktober lalu. Di saat yang sama, ada outflow sebesar US$ 7 miliar dari emas. Artinya investor mulai melego emas dan membeli bitcoin.

Bitcoin merupakan criptocurrency yang kini sudah masuk ke dalam salah satu kelas aset yang diperhitungkan investor. Saat harga emas ambrol ke bawah US$ 1.800/troy ons karena aksi jual besar-besaran, harga Bitcoin justru melesat hampir dua kali lipat. 

Di bulan September harga Bitcoin masih di US$ 10.000. Namun di akhir bulan November harga Bitcoin melesat ke level US$ 19.850. Jika tren ini terus terjadi bukan tidak mungkin Bitcoin akan menjadi aset yang bisa mengalahkan emas di masa depan. 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)