Covid Masih Menggila, Rupiah Bisa ke Bawah Rp 14.000/US$?

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah melemah 0,11% melawan dolar Amerika Serikat (AS) Rp 14.085/US$ sepanjang pekan ini, sekaligus mengakhiri kinerja tak pernah melemah dalam 9 pekan terakhir. Rinciannya, menguat 8 pekan dan sepekan stagnan.

Tekanan bagi rupiah sudah muncul sejak awal pekan, setelah kasus Covid-19 mencetak rekor penambahan harian 6.267 kasus pada hari Minggu (29/11/2020). Rekor tersebut kemudian pecah lagi pada Kamis (3/12/2020), jumlah kasus baru tercatat sebanyak 8.369 orang.

Dalam 2 pekan terakhir, rata-rata penambahan kasus juga meningkat menjadi 1,03% per hari, dibandingkan 2 pekan sebelumnya 0,92% per hari.


Lonjakan kasus tersebut tentunya membuat investor cemas jika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan kembali diketatkan, yang dapat menghambat pemulihan ekonomi Indonesia.

Di pekan ini, ada kabar buruk dan baik bagi rupiah. Kabar buruknya, kasus Covid-19 dalam 2 hari terakhir di atas 6.000 orang.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI pada Minggu (6/12/2020) hingga pukul 12.00 WIB kasus baru tercatat 6.089, sementara di hari Sabtu sebanyak 6.020 kasus.

Di sisi lain kabar baik datang dari vaksin virus corona yang kemarin malah sudah tiba di Indonesia. Sebanyak 1,2 juta vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech kemarin, hal ini disampaikan langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Saya ingin menyampaikan satu kabar baik, hari ini pemerintah sudah menerima 1,2 juta doss vaksin Covid, vaksin ini buatan Sinovac yang kita uji secara klinis di Bandung dari Agustus lalu,” kata Jokowi, seperti dikutip Senin (7/12/2020).

Jokowi mengungkapkan pemerintah juga masih mengupayakan 1,8 juta dosis vaksin yang akan tiba awal Januari 2021.

“Selain vaksin dalam bentuk jadi, bulan ini akan tiba 15 juta dosis vaksin dan Januari 30 juta dosis dalam bentuk bahan baku yang akan diproses lebih lanjut oleh Bio Farma,” tambah Jokowi.

Sudah tibanya vaksin virus corona bisa memperkecil kemungkinan PSBB akan diketatkan lagi, tetapi, pelaksanaan vaksinasi belum bisa dilakukan segera.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartato mengungkapkan meski vaksin sudah data dan berada di Indonesia, pelaksanaan vaksinasi masih harus melalui tahapan evaluasi dari Badan POM guna memastikan aspek mutu dan efektivitas dan fatwa MUI untuk aspek halal.

Pelaku pasar tentunya akan menanti kepastian kapan vaksinasi akan dimulai, sembari memperhatikan peningkatan kasus Covid-19, yang akan menjadi perhatian utama setelah 2 hari terakhir jumlah kasus bertambah lebih dari 6.000 orang.

Selain itu, hari ini akan dirilis data cadangan devisa Indonesia bulan November. Bank Indonesia (BI) sebelumnya di awal November melaporkan per 31 Oktober cadangan devisa sebesar US$ 133,7 miliar, turun US$ 1,5 miliar dibandingkan posisi akhir September.

Di bulan November, cadev berpeluang naik kembali, sebab nilai tukar rupiah menguat sehingga kebutuhan intervensi menjadi minim. Selain itu harga komoditas ekspor andalan Indonesia sedang meroket. Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) berada di level tertinggi 8 tahun, kemudian batu bara di level tertinggi 7 bulan.

Peningkatan cadangan devisa bisa menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan dalam negeri. BI jadi memiliki lebih banyak amunisi untuk menstabilkan rupiah jika mengalami gejolak.

Sementara itu, dolar AS juga sedang mengalami tekanan yang bisa dimanfaatkan rupiah untuk menguat. Tapi sekali lagi, tren penambahan kasus Covid-19 akan menjadi perhatian utama pelaku pasar pekan ini.