Cuan Gilak! Beli Emas di Awal 2020 Sudah Untung Berapa Nih?

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia meroket pada perdagangan terakhir di tahun 2020 kemarin, dan berlanjut pada perdagangan di awal tahun 2021 ini, (1/1/2021). Logam mulia ini tinggal selangkah lagi meyentuh level US$ 1.900/troy ons atau lebih tepatnya saat ini berada di level US$ 1.898/troy ons.


Amblesnya dolar AS menjadi pemicu kenaikan harga emas. Walaupun begitu, Kamis kemarin, indeks dolar AS menguat 0,29% ke Rp 89,937.

Banjir likuiditas di perekonomian AS menjadi penyebab utama tertekannya dolar AS. Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang mengumumkan kebijakan moneter pertengahan bulan ini berkomitmen untuk menjalankan program pembelian aset (quantitative easing/QE) sampai pasar tenaga kerja AS kembali mencapai full employment dan inflasi konsisten di atas 2%.

Artinya kebijakan moneter ultra longgar masih akan dipertahankan dalam waktu yang lama. The Fed juga menegaskan akan menambah nilai QE jika perekonomian AS kembali melambat.

Kebijakan tersebut membuat perekonomian AS dibanjiri duit, maka wajar jika nilai dolar AS terus melemah. Secara teori, semakin banyak uang beredar maka nilai tukarnya akan semakin melemah.

Selain QE, The Fed juga berkomitmen mempertahankan suku bunga acuan 0,25% dalam waktu yang lama.

Data dari Fed Dot Plot, yang menggambarkan proyeksi suku bunga para pembuat kebijakan (Federal Open Market Committee), menunjukkan suku bunga baru akan dinaikkan pada tahun 2023.

Selain stimulus moneter, ada juga stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah AS. Di awal pekan ini, Presiden AS, Donald Trump, sudah menandatangani rancangan undang-udang (RUU) stimulus fiskal senilai US$ 900 miliar.

Presiden Trump sebentar lagi akan lengser dari jabatannya, dan digantikan oleh Joseph ‘Joe’ Biden, pada 20 Januari mendatang. Biden sebelumnya sudah mengatakan akan menggelontorkan stimulus tambahan guna membantu perekonomian AS. Sehingga ke depannya, tekanan bagi dolar AS akan semakin bertambah.

Stimulus moneter dan fiskal tersebut membuat perekonomian AS banjir likuiditas, dan emas diuntungkan dari 2 sisi.

Yang pertama, seperti disebutkan sebelumnya moneter dan fiskal membuat dolar AS melemah. Emas dunia dibanderol dengan dolar AS, saat mata uang Paman Sam tersebut melemah, maka harganya akan lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Alhasil permintaan berpotensi meningkat, harganya melesat.

Yang kedua, emas secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Stimulus moneter dan fiskal tersebut berpotensi memicu inflasi yang tinggi, sehingga permintaan emas sebagai aset lindung inflasi meningkat.