Dibanding CPO dan Minyak, Batu Bara Paling Moncer di 2020

Jakarta, CNBC Indonesia – Tahun 2020 resmi berakhir kemarin. Harga minyak masih mengalami koreksi jika dibandingkan dengan awal tahun 2020. Namun harga batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) justru telah pulih, bahkan mencetak rekor terbarunya. 

Harga kontrak futures minyak mentah baik Brent maupun West Texas Intermediate (WTI) masih di atas US$ 60 per barel saat awal 2020. Namun ketika pandemi Covid-19 merebak dan berbagai negara di dunia menerapkan karantina wilayah (lockdown) yang membuat mobilitas tertekan dan permintaan bahan bakar menurun drastis. 

Pada Maret lalu ketika lockdown yang ketat diterapkan di Eropa, Amerika hingga Asia, permintaan minyak anjlok sampai 30%. Sayangnya para produsen minyak yang tergabung dalam OPEC+ justru berseteru.


Arab Saudi dan Rusia justru malah terlibat konflik dan mendiskon harga minyaknya. Surplus pasokan di pasar yang berlebih hingga tangki penyimpanan tidak muat dan banyak minyak mentah yang disimpan di kapal tanker di lautan membuat harga si emas hitam anjlok sangat signifikan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah harga kontrak WTI yang aktif diperdagangkan jatuh ke teritori negatif. Artinya konsumen justru diberi insentif oleh produsen maupun trader agar mau diberikan minyak secara cuma-cuma lantaran kapasitas penyimpanan sudah terisi penuh. 

Setelah Presiden AS Donald Trump masuk untuk memediasi perseteruan tersebut akhirnya Arab dan Rusia melunak. Kesepakatan pemangkasan produksi minyak terbesar di dunia akhirnya dicapai. OPEC+ sah memangkas produksi minyaknya sebesar 9,7 juta barel per hari (bph) atau setara dengan 10% output global.

Saat lockdown terlihat membuahkan hasil, maka pelonggaran pun ditempuh mulai bulan Juni. Harga minyak mulai tren bullish. Di saat yang sama pasokan minyak masih diatur ketat oleh para kartel. OPEC+ masih memangkas 7,7 juta bph minyak sampai akhir tahun berdasarkan pakta yang ada. 

Harga minyak pun akhirnya berhasil tembus US$ 50 per barel. Minyak belum mampu kembali ke level awal tahun mengingat mobilitas publik masih sangat terbatas. Meski program vaksinasi Covid-19 secara darurat sudah dilaksanakan, tetapi munculnya varian baru virus Corona di Inggris dan negara lain cukup membuat cemas pasar.

Berbeda dengan minyak, harga CPO dan batu bara justru tembus rekor baru. Harga kontrak futures CPO Malaysia bahkan mampu tembus level tertinggi dalam 8,5 tahun ke RM 3.500 per ton.

Pemicu kenaikan harga CPO adalah mulai membaiknya permintaan saat relaksasi dilakukan. Di saat yang sama, pasokan di negara-negara produsen utama seperti Indonesia dan Malaysia justru menipis. 

Tren harga CPO yang terus melemah sejak 2017, penggunaan pupuk yang minim hingga kekeringan yang sering terjadi membuat output Indonesia menurun. Apalagi di tengah prospek fenomena iklim La Nina seperti sekarang ini. 

La Nina cenderung membuat hujan menjadi lebih lebat. Bahkan bisa 40% lebih lebat dari kondisi normal. Banjir dan tanah longsor menjadi konsekuensi yang seringkali harus ditanggung. Cuaca ekstrem seperti ini membuat produksi menurun dan stok menipis. 

Di Malaysia, faktor kekurangan tenaga kerja untuk pemanenan juga menjadi masalah. Malaysia lebih banyak mempekerjakan tenaga asing di sektor perkebunan sawit. Namun akibat pembatasan mobilitas selama pandemi Covid-19 ketersediaan tenaga kerja menjadi minim. Inilah faktor yang membuat harga CPO melesat.

Geliat ekonomi China ketika dunia sedang jatuh ke jurang resesi membuat permintaan terhadap komoditas terutama batu bara meningkat. Di saat yang sama pasokan domestik China cenderung ketat. Harga batu bara lokal China bahkan sudah tembus level US$ 100 per ton. 

Hal ini membuat China merelaksasi kebijakan kuota impornya. Badan Perencana dan Reformasi Nasional (NDRC) China sudah memperbolehkan para perusahaan utilitas dan di sektor manufaktur untuk mengimpor batu bara dari negara lain, kecuali Australia. 

Meski produk batu bara Australia diblokir oleh China, tetapi kenyataan tipisnya pasokan domestik dan kenaikan permintaan impor Negeri Panda juga membuat harga batu bara ikut terangkat. Bahkan mengalami kenaikan paling tinggi jika dibandingkan dengan CPO maupun minyak mentah.