Dolar AS Makin Rontok 2021, RI Siap Kebanjiran Dana Asing

Jakarta, CNBC Indonesia – Stimulus fiskal jumbo pemerintahan Donald Trump dan kebijakan moneter ultra longgar The Fed di tengah pandemi membuat likuiditas menjadi berlimpah. 

Lewat stimulus fiskal senilai US$ 2,3 triliun, pemangkasan suku bunga acuan hingga ke level zero lower bound dan pembelian aset-aset keuangan seperti obligasi pemerintah dan efek beragun aset oleh otoritas moneter AS membuat greenback tertekan hebat pada 2020.

Indeks dolar sempat menguat 6,67% pada Maret lalu. Kala itu pasar keuangan global diterpa panic selling ketika wabah Covid-19 berubah menjadi pandemi yang memicu lockdown secara masif.


Hanya dalam waktu kurang dari satu bulan bursa saham global menderita kerugian yang ditaksir mencapai US$ 16 triliun pada Februari-Maret. Sentimen menjadi risk off. Artinya investor melego hampir seluruh aset-aset keuangan yang dimilikinya dan beralih ke uang tunai (cash). 

Namun setelah bank sentral melakukan intervensi agar likuiditas tidak seret dan mencegah terjadinya disfungsi pasar, sentimen membaik. Harga saham dan emas mulai merangkak naik. 

Dolar AS yang tadinya perkasa mulai melempem. Sepanjang 2020 indeks dolar mengalami koreksi sebesar 6,7%. Tren ini diperkirakan bakal berlanjut ke 2021. Setidaknya ada tiga alasan yang membuat pelemahan dolar AS bakal terjadi pada tahun ini.

Pertama adalah perkembangan vaksin Covid-19 yang positif. Kedua adalah kemenangan Joe Biden dalam pemilihan umum Presiden ke-46 AS. Joe Biden berasal dari Partai Demokrat yang mendukung kebijakan fiskal yang cenderung ekspansif. 

Ketiga tak lain dan tak bukan adalah stance dovish yang dipertahankan oleh The Fed. Bank sentral yang dikepalai oleh Jerome Powell itu mengatakan tidak akan mengutak-atik suku bunga acuan setidaknya sampai 2023. 

Otoritas moneter yang paling berpengaruh di dunia itu juga bakal membiarkan inflasi untuk naik asalkan secara rata-rata masih di kisaran target 2%. Menurut ekonom ING, kebijakan The Fed yang akan membiarkan laju ekonomi AS menjadi lebih panas ini diperkirakan bakal membuat dolar AS 5%-10% tahun ini. 

Mengacu pada Bloomberg Barclays Global Negative Yielding Debt Index, nilai pasar obligasi yang memberikan imbal hasil negatif sudah menyentuh US$ 18 triliun. Di tengah yield obligasi yang rendah bahkan imbal hasil riilnya negatif dan pelemahan dolar AS, investor kini berburu aset-aset lain yang memberikan cuan lebih tebal.

Aset-aset berisiko seperti saham menjadi diuntungkan dengan kondisi seperti sekarang ini. Inilah yang juga menjadi alasan mengapa pasar saham reli tak terbendung bahkan S&P 500 dan Nasdaq Composite mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah baru-baru ini. 

Aset-aset di negara berkembang juga diperkirakan bakal ikut terkerek naik akibat adanya inflow yang masif. Indonesia diramal juga menjadi sasaran bagi investor yang mencari cuan.