Duet PMI dan Inflasi Sukses Bikin IHSG Terbang 2% di Awal 2021

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan perdana tahun ini pada Senin (4/1/2021) di jalur hijau dengan kenaikan 2,10% di level 6.104,89. IHSG kembali diperdagangkan di atas level psikologis 6.100 setelah muncul sinyal pemulihan manufaktur nasional serta sinyal perbaikan daya beli masyarakat.

Nilai transaksi harian mencapai Rp 14,5 triliun, dengan pembelian bersih (net buy) asing sebesar Rp 387 miliar. Tercatat 281 saham menguat, 205 merah, sisanya 141 stagnan.

Investor asing melakukan jual bersih di saham PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) sebesar Rp 18 miliar dan PT United Tractors Tbk (UNTR) senilai Rp 15 miliar.


Asing juga melakukan beli bersih (net buy) di saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 71 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 63 miliar.

Sentimen positif datang dari Indonesia, di mana angka Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur versi markit untuk periode Desember 2020 cukup memuaskan. PMI manufaktur RI mengalami ekspansi sebesar 0,7 poin menjadi 51,3 dari sebelumnya di angka 50,6.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Kalau di atas 50, maka artinya dunia usaha berada di fase ekspansi yang hasilnya akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan. Artinya, manufaktur RI Kembali menggeliat setelah sebelumnya merana akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Selanjutnya BPS melaporkan inflasi Desember sebesar 0,45% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/MtM). Sementara inflasi tahun kalender yang otomatis menjadi inflasi tahunan (year-on-year/YoY) tercatat 1,68%. Hal ini menunjukkan perbaikan daya beli masyarakat setelah sebelumnya sempat deflasi selama 3 bulan berturut-turut.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan inflasi Desember 2020 akan sebesar 0,405% MtM dan 1,68% YoY. Sementara konsensus yang dihimpun Reuters memperkirakan inflasi bulan lalu sebesar 0,37% MtM dan 1,61% YoY.

Namun, perkembangan seputar virus corona (Covid-19) masih membayangi psikologi investor, karena pandemi kembali merajalela secara global dengan munculnya strain baru virus Corona, di tengah beberapa laporan efek samping yang buruk dari vaksin yang mulai didistribusikan di beberapa negara.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan perlu waktu 3,5 tahun untuk dapat menyelesaikan proses vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Hal itu berdasarkan perhitungan pemerintah terhadap jumlah sasaran vaksinasi untuk mencapai kekebalan komunitas atauherd immunity.

Namun, terdapat beberapa laporan mengenai efek samping buruk yang dialami para penerima vaksin, yang bahkan memicu kematian bagi tiga penerima vaksin di Swiss. Bahkan, 240 penerima vaksin di Israel justru dilaporkan terjangkit Covid-19 setelah divaksin.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)