Duh! Pagi Ini Harga Minyak Ambles, Ada Apa?

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga kontrak futures minyak mentah mengalami koreksi di awal perdagangan pekan ini, Senin (7/12/2020). Minggu lalu harga si emas hitam berhasil melesat lebih dari 2%. 

Untuk kontrak futures Brent naik 3,5% dan kontrak futures West Texas Intermediate (WTI) terangkat 2,03%. Pagi ini pukul 09.30 WIB, keduanya terpangkas. Brent ambles 0,41% ke US$ 49,05/barel sedangkan WTI anjlok 0,48% ke US$ 46,05/barel.


Harga memang sudah berada di level tertingginya dalam delapan bulan sehingga rawan mengalami koreksi karena adanya kemungkinan aksi ambil untung (profit taking) para trader.

Kombinasi kabar baik dari vaksin, stimulus fiskal jilid II di AS hingga keputusan para kartel untuk meningkatkan jumlah produksi dengan volume lebih rendah dari kesepakatan awal turut mendongkrak harga minyak.

Setelah kandidat vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech mendapat restu untuk penggunaan darurat minggu lalu, giliran Moderna yang dalam waktu dekat akan mendapat izin yang sama dari Eropa. 

Proposal bipartisan bantuan fiskal senilai US$ 908 miliar kini sedang dalam perundingan. Optimisme bahwa stimulus jumbo jilid II ini bakal goal membuat pasar merespons positif. Harapannya dengan stimulus tersebut ekonomi bisa dirangsang, permintaan bahan bakar bisa naik dan harga minyak terangkat. 

Dari sisi pasokan, para produsen minyak global yang terdiri dari organisasi negara-negara eksportir minyak (OPEC) dan Rusia yang dikenal dengan OPEC+ sepakat untuk menaikkan produksi minyaknya sebanyak 500 ribu barel per hari (bph) mulai awal tahun depan. 

Meski sempat alot dalam berdiskusi, OPEC+ akhirnya mencapai konsensus. Apabila mengacu pada pakta awal OPEC+ maka produksi minyak akan digenjot sebanyak 2 juta bph oleh kelompok ini mulai Januari 2021. 

Namun akibat maraknya lockdown jilid II terutama di Eropa yang tengah dilanda gelombang kedua Covid-19 dan peningkatan produksi minyak Libya yang kembali ke level 1,25 juta bph hingga semakin banyaknya perusahaan migas yang beroperasi di AS membuat OPEC+ tak punya opsi selain menahan tambahan pasokan di pasar. 

Kenaikan ini berarti grup tersebut akan mengurangi produksi sebesar 7,2 juta barel per hari atau 7% dari permintaan global mulai Januari. Beberapa analis melihat pasar minyak kekurangan pasokan bahkan di bawah kuota pasokan baru yang lebih tinggi, yang lain justru memperkirakan pasar bakal kelebihan pasokan.

Analis Wood Mackenzie memperkirakan bahwa jika kenaikan terus berlanjut hingga Maret, mungkin ada 1,6 juta bph minyak yang tidak diinginkan pada kuartal pertama. Tentu saja ini berpotensi membuat harga minyak tergelincir. 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)