ECB Tahan Bunga, Harga SBN Jangka Panjang Ditutup Menguat

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga obligasi pemerintah berada di teritori positif pada perdagangan Jumat (11/12/2020), menyusul aksi beli pelaku pasar menyambut kabar berlanjutnya stimulus di Benua Eropa.

Mayoritas Surat Berharga Negara (SBN) mencatakan penurunan imbal hasil (yield) kecuali untuk obligaasi berjatuh tempo 3 tahun dan 5 tahun yang imbal hasilnya naik masing-masing sebesar 0,3 basis poin (bp) dan 6,4 bp.

Sementara itu,yieldSBN dengan tenor 10 tahun yang menjadi acuanyieldobligasi negara melemah 1,3 bp ke 6,182%. Jika dibandingkan dengan yield akhir tahun lalu yang berada di level 7,098%, imbal hasil hari ini masih jauh lebih rendah.


Yieldberlawanan arah dari harga sehingga penguatan yield menunjukkan harga obligasi yang melemah. Demikian juga sebaliknya. Satu basis poin setara 1/100 dari 1%. Obligasi bertenor 10 tahun selama ini dianggap sebagai acuan harga obligasi di pasar.

Pelemahan imbal hasil terbesar menimpa surat utang berkode FR0083 (berjatuh tempo 20 tahun) yang melemah 11,2 bp menjadi 6,749%. Kenaikan mayoritas SBN jangka panjang tersebut mengindikaskan bahwa pelaku pasar menilai risiko jangka panjang aset pendapatan tetap tersebut masih kecil.

Optimisme pasar terjadi setelah vaksin Corona besutan Sinovac telah sampai di Indonesia sebanyak 1,5 juta dosis. Kehadiran vaksin tersebut berpeluang mempercepat pemulihan ekonomi ke depannya, sehingga ekspektasi return jangka panjang masih positif.

Terlebih, muncul kabar dari Eropa bahwa bank sentral mereka yakni ECB memutuskan menahan suku bunga acuannya. Suku bunga operasi refinancing utama, fasilitas pinjaman marjinal dan fasilitas simpanan masing-masing ditahan di level 0,00%, 0,25% dan -0,5%.

Bank sentral di bawah pimpinan Christine Lagarde itu juga memutuskan untuk menambah injeksi likuiditas ke sistem keuangan dengan memperbesar nilai pembelian obligasi senilai 500 miliar Euro di tengah maraknya lockdown akibat munculnya gelombang kedua Corona.

Mereka memperpanjang periode Program Pembelian Darurat Pandemi (PEPP) hingga Maret 2022, yang memungkinkan pembelan lebih banyak surat berharga di pasar, sehingga pasar dibanjiri likuiditas.

Pada akhirnya, kelebihan likuditas tersebut berpeluang mengalir ke pasar negara berkembang, salah satunya untuk membeli SBN yang masih menarik karena membagikan selisih imbal hasil hingga 3%.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)