Fenomena Terbaru: Dana Asing Mengalir Deras ke Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia – Pada triwulan III 2020, ketidakpastian pasar keuangan global sempat meningkat akibat kekhawatiran terhadap prospek perekonomian global dan tensi geopolitik di berbagai kawasan. Adanya peningkatan kasus covid-19 gelombang kedua memicu kekhawatiran investor global atas prospek pemulihan ekonomi.

Selain itu, ketidakpastian pemilu AS, perundingan Brexit yang berlarut-larut, serta ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok yang kembali meningkat turut menambah tensi geopolitik.

Ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat tersebut tercermin pada perkembangan indeks EPU dan VIX yang berada pada level yang tinggi.

Laporan terbaru Bank Indonesia (BI) di Tinjauan Kebijakan Ekonomi dan Moneter Triwulan III-2020 yang baru saja diterbitkan, seperti dikutip, Sabtu (28/11/2020) mengungkapkan ketidakpastian pasar keuangan yang tinggi tersebut mendorong peralihan aliran modal global kepada aset keuangan yang dianggap aman, seperti obligasi AS dan komoditas emas.

“Perkembangan ini berpengaruh terhadap aliran modal yang lebih banyak masuk ke negara maju dibandingkan negara berkembang. Hal ini kemudian berdampak pada berlanjutnya tekanan terhadap mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia,” ungkap BI dalam laporan tersebut.

Memasuki triwulan IV 2020, ketidakpastian di pasar keuangan global menurun dan mendorong peningkatan aliran modal masuk ke negara berkembang.

Penurunan ketidakpastian pasar keuangan global tercermin pada perkembangan indeks EPU dan VIX yang menurun.

“Prospek perekonomian dunia yang semakin membaik dan berada dalam lintasan pemulihan mendorong penurunan indikator risiko, termasuk di negara berkembang,” tulis BI.

Perkembangan positif ini terlihat dari penurunan indikator Emerging Markets Bond Index (EMBI) spread dan Credit Default Swap (CDS) pada banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Proses pemilihan Presiden di AS yang telah berakhir dan prospek vaksin covid-19 yang diprakirakan tersedia pada 2021 turut berkontribusi pada penurunan ketidakpastian.

“Penurunan ketidakpastian itu kemudian mendorong masuknya aliran modal pada negara berkembang. Aliran modal yang masuk tersebut didominasi oleh negara emerging Asia. Pada 2021, aliran modal masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia, diprakirakan akan semakin meningkat,” terang BI.

Berdasarkan data transaksi 23 – 26 November 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp4,87 triliun, dengan beli neto di pasar SBN sebesar Rp3,51 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp1,36 triliun.

Berdasarkan data setelmen selama 2020 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto sebesar Rp 141,13 triliun.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)