Gigit Jari! Harga Emas Ambrol Lagi, Nyaris Tembus US$ 1.800

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia kembali ambrol menjelang dibukanya perdagangan sesi Amerika Serikat (AS) Selasa (24/11/2020), hingga nyaris menembus US$ 1.800/troy ons. Logam mulia ini sedang terpuruk sejak awal pekan kemarin, tertekan perkembangan vaksin virus corona serta kabar baik dari dinamika politik di AS.

Pada pukul 18:15 WIB, harga emas dunia ambrol 1,42% ke US$ 1.809,8/troy ons di pasar spot, melansir data Refinitiv. Level tersebut merupakan yang terendah sejak 20 Juli lalu.
Harga emas dunia kemarin merosot 1,85% ke US$ 1.835,85/troy ons, tertekan akibat perkembangan vaksin virus corona serta data ekonomi AS yang apik.

Setelah perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Pfizer dan Moderna, yang mengklaim vaksin buatannya mereka efektif mengatasi virus corona hingga lebih dari 90%, kini giliran perusahaan farmasi asal Inggris AstraZeneca yang melaporkan vaksin buatannya efektif sekitar 90% tanpa menimbulkan efek samping yang serius.


Semakin banyak vaksin yang diklaim berhasil mengatasi virus corona tentunya membuat hidup akan normal kembali lebih cepat. Alhasil, daya tarik emas sebagai aset aman (safe haven) meredup.

Selain itu data ekonomi dari AS juga menunjukkan kejutan. Ekspansi sektor manufaktur justru semakin meningkat meski Negeri Paman Sam sedang mengalami lonjakan kasus penyakit virus corona (Covid-19).

Markit melaporkan, purchasing managers’ index (PMI) manufaktur di bulan ini melesat ke 56,7 dari bulan sebelumnya 53,4.

PMI manufaktur menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di atasnya berarti ekspansi, sementara di bawah 50 artinya kontraksi.

Ekspansi sektor manufaktur AS yang mengejutkan, serta perkembangan vaksin virus corona membuat kemungkinan gelontoran stimulus fiskal tidak akan sebesar ekspektasi sebelumnya.

Stimulus fiskal merupakan salah satu “bahan bakar” emas untuk menguat, jika nilainya kecil tentunya logam mulia ini menjadi kurang bertenaga.

Kabar baik lainnya datang dari AS, Presiden Donald Trump akhirnya membuka pintu pada transisi ke pemerintahan Presiden terpilih Joe Biden. Administrasi Layanan Umum (GSA) AS akhirnya membuka sumber daya federal untuk transisi setelah pemblokiran berminggu-minggu, Senin (23/11/2020) malam waktu setempat.

Hal ini merupakan kejutan besar. Trump pun, yang masih menolak kemenangan Biden, mengakui sudah waktunya GSA “melakukan apa yang perlu dilakukan”.

“Keputusan hari ini adalah langkah yang diperlukan untuk mulai mengatasi tantangan yang dihadapi bangsa kita, termasuk mengendalikan pandemi dan ekonomi kita kembali ke jalurnya,” kata tim transisi presiden AS terpilih Joseph ‘Joe’ Biden dalam sebuah pernyataan dikutip dari CNBC International, Selasa (24/11/2020).

Selain itu Biden yang menunjukkan mantan ketua The Federal Reserve (The Fed), Janet Yellen, sebagai menteri keuangan juga disambut baik oleh pelaku pasar dan kembali mengalirkan investasinya ke aset-aset berisiko. Harga emas semakin tertekan.

Pelaku pasar percaya wanita yang kini berusia 74 tahun tersebut akan fokus membenahi perekonomian, dan tidak terlibat masalah politik. Selain itu, Yellen juga diperkirakan tidak akan membuat regulasi baru untuk perbankan, yang sebelumnya membuat pelaku pasar cemas.

Yellen merupakan ketua The Fed wanita pertama, dan juga akan menjadi menteri keuangan wanita pertama di AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)