Gila! Kilau Emas Tak Terkendali, Dikit Lagi Tembus US$ 2.000

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia melesat di pekan ini, bahkan nyaris menyentuh level US$ 1.900/troy ons. Penguatan logam mulia ini berpeluang masih akan berlanjut pekan depan. Sebab stimulus fiskal di Amerika Serikat (AS) yang dinanti-nanti selama ini kemungkinan besar akan cair.

Melansir dara Refinitiv, harga emas dunia melesat 2,26% sepanjang pekan ini, ke US$ 1.880,66/troy ons, dengan level tertinggi pekan ini US$ 1.895,81/troy ons.


Potensi berlanjutnya kenaikan emas terlihat dari hasil survei terbaru dari Kitco yang mayoritas memberikan pandangan bullish (tren naik) pekan depan.

Survei yang dilakukan terhadap 14 analis di Wall Street menunjukkan 11 orang atau 79% memberikan pandangan bullish, 2 orang atau 14% memberikan pandangan netral, dan hanya 1 orang atau 7% yang melihat emas bearish (tren menurun).

Sementara itu, survei yang dilakukan terhadap pelaku pasar atau yang disebut Main Street, dengan 1.048 responden menunjukkan 75% memberikan pandangan bullish, 14% bearish dan 11% netral.

Artinya, sentimen analis dan pelaku pasar sangat bullish untuk pekan depan, sehingga peluang berlanjutnya penguatan terbuka lebar hingga menembus kembali ke atas US$ 1.900/troy ons, bahkan mendekati level US$ 2.000/troy ons. Sebab, menjelang libur Natal dan Tahun Baru, volume perdagangan akan lebih rendah dari biasanya, dan dapat memicu volatilitas tinggi. Artinya harga emas akan naik atau turun kencang dalam waktu yang singkat.

“Kita akan melihat pergerakan liar beberapa pekan ke depan, tetapi fundamental bullish emas masih tetap ada. Faktor yang akan membawa emas menguat lagi di tahun 2021 tidak akan hilang,” kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank.

Stimulus moneter dan fiskal di AS akan menjadi pemicu penguatan emas di tahun depan. Dengan stimulus tersebut, jumlah mata uang yang beredar akan meningkat, dan memicu inflasi. Emas secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, sehingga permintaannya akan meningkat.

Potensi kenaikan inflasi tersebut membuat Wells Fargo memprediksi emas akan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 2.200/troy ons.

Sementara direktur trading global Kitco, Peter Hug memprediksi emas akan mencapai US$ 2.500/troy ons hingga US$ 3.000/troy ons di tahun depan.

“Level tertinggi tahun 2020 akan dilewati. Jika kita melihat inflasi naik lagi, emas akan menguat ke US$ 2.500 – US$ 3.000/troy ons sangat mungkin sampai bank sentral mulai mengetatkan kebijakan moneter. Tetapi pengetatan kebijakan moneter paling cepat baru akan dilakukan pada 2022, bahkan mungkin lebih lama lagi,” kata Hug, sebagaimana dilansir Kitco, Jumat (18/12/2020).