Gilak! Harga CPO Tembus Rekor 8,5 Tahun, Masih Bisa Reli?

Jakarta, CNBC Indonesia – Mengawali perdagangan pekan ini jelang akhir tahun harga kontrak futures (berjangka) minyak sawit mentah (CPO) Malaysia tergelincir.

Kendati melemah harga CPO masih tetap di rentang posisi tertingginya sejak 8,5 tahun terakhir.

Harga CPO turun 22 ringgit atau melemah 0,62% dibanding posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Senin (28/12/2020) harga kontrak Maret 2021 yang aktif diperdagangkan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange tersebut berada di RM 3.547/ton dan tertinggi sejak pertengahan April 2019.


“Kontrak tersebut (CPO) dibebani oleh pelemahan di Bursa Komoditas Dalian,” kata seorang pedagang yang berbasis di Kuala Lumpur kepada Reuters. Baik kontrak minyak kedelai maupun minyak sawit di bursa Dalian turun 0,5% karena impor kedelai AS oleh China melonjak.

Impor kedelai dari AS pada November meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Namun prospek harga CPO untuk tahun 2021 masih cerah, setidaknya sampai kuartal pertama tahun depan berakhir.

Hal ini disampaikan oleh Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB). Menurut Ketua MPOB Datuk Ahmad Jazlan Yaakub, musim hujan yang menyebabkan banjir di banyak wilayah perkebunan kelapa sawit juga dapat mempengaruhi produksi komoditas Negeri Jiran tersebut.

“Hal ini akan menyebabkan semakin ketatnya pasokan minyak sawit yang akan berdampak pada penguatan harga CPO memasuki tahun 2021,” tambahnya. “Ini termasuk harga tandan buah segar (TBS), minyak sawit olahan, dan produk hilir lainnya.”

Statistik terbaru MPOB menunjukkan bahwa stok minyak sawit pada November merosot menjadi 1,56 juta ton, terendah sejak Juni 2017. Produksi CPO untuk periode yang sama yang ditinjau juga turun menjadi 1,49 juta ton, terendah sejak Maret.

MPOB memandang bahwa stagnasi yield per hektar di perkebunan dan kekurangan tenaga kerja sebagai salah satu tantangan utama yang dihadapi sektor kelapa sawit.

Ahmad Jahlan mencatat bahwa hasil TBS perkebunan lokal berkisar antara 18 hingga 19 ton per hektar dengan tingkat ekstraksi minyak (OER) sekitar 20% dan hasil minyak sawit stagnan sekitar 3,5 ton per hektar.

Ketua MPOB menunjukkan bahwa produksi minyak nasional secara rata-rata seharusnya sekitar lima ton hingga enam ton per hektar per tahun. Namun saat ini hanya produktivitasnya turun menjadi kurang dari empat ton per hektar per tahun.

“Jika faktor fundamental dan sentimen pasar tetap positif, hal ini tercermin dari kenaikan harga CPO di pasar,” ujar Ahmad Jazlan.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)