Harga Batu Bara Naik, BUMI Optimistis Lancar Bayar Utang

Jakarta, CNBC Indonesia– Potensikenaikan harga batu bara pada 2021 semakin melancarkan emiten batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melakukan pembayaran utangnya. Meski demikian kenaikan harga ini diproyeksi terjadi selama kuartal I-2021.

Direktur BUMI Andrew Christoper Beckham mengatakan harga batu bara di awal tahun depan diperkirakan berkisar US$ 70 per ton. Dengan adanya IUPK yang baru saja diterima anak usahanya PT Arutmin Indonesia, maka perusahaan dan gencar melakukan pembayaran utang. Kedua anak usaha BUMi, Arutmin dan Kaltim Prima Coal (KPC) akan menggenjot produksi batu bara sesuai dengan angka yang ditetapan pemerintah.

“Hingga sekarang meski di tengah Covid-19, dengan tren harga yang naik kami bisa segeral memulai pembayaran utang. Terutama dengan sentimen positif yakni IUPK Arutmin, dan kemajuan refinancing utang kami akan bicara dengan lender. Kami melihat prospek aktivitas untuk menambah nilai,” kata Andrew, Jumat (11/12/2020).


Arutmin baru saja mendapatkan perpanjangan kontrak dan IUPK sebagai kelanjutan operasi pertambangan selama 10 tahun ke depan. Andrew menambahkan perusahaan juga tengah menyiapkan rencana pertambangan dan infrastruktur sehingga profitabilitas perusahaan dapat naik dalam kurun 10 tahun mendatang.

Apalagi saat ini BUMI juga tengah bergabung dalam mega proyek hilirisasi, melalui gasifikasi batu bara yang telah masuk dalam tahap perencanaan. Perusahaan Grup Bakrie ini juga mencari solusi non batu bara, yang memilki potensi besar.

“Kami yakin berada di jalur yang tepat, kami yakin dalam jangka menengan manajemen kami mampu meningkatkan performa perusahaan,” katanya.

Dalam kesempatan Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan BUMI konsisten membayarkan utang dan bunga utangnya sesuai dengan ketentuan.

Kalaupun harga batubara terkontraksi dan tidak sesuai dengan ekspektasi, BUMI dapat mengurangi jumlah pembayaran sesuai dengan perjanjian.

“Kami yakin jika harga batubara naik maka kami bisa membayar utang seperti yang kami lakukan di 2018,” katanya.

Produsen batu bara terbesar ini sebelumnya melunasi utang Rp 3,8 juta atau sekitar Rp 55,1 miliar (kurs Rp 14.500/US$). Ini merupakan cicilan pembayaran utang ke-11 untuk Tranche A.
Pembayaran tersebut dilakukan pada hari ini, Jumat (16/10/2020). Pembayaran ini diperuntukkan untuk bunga pinjaman untuk Tranche A.

“Dengan dilakukannya pembayaran triwulanan ke-sebelas hari ini, Perseroan saat ini telah membayar keseluruhan sebesar US$331,6 juta secara tunai terdiri atas pokok Tranche A sebesar US$195,8 juta dan bunga sebesar US$135,8 juta, termasuk bunga akrual dan bunga yang belum dibayar,” tegas Dileep dalam pernyataannya bulan lalu.

Bila dirupiahkan, BUMI sudah melunasi utang Rp 4,81 triliun. Dileep kembali menegaskan bahwa BUMI memiliki komitmen tinggi untuk melunasi seluruh kewajiban. Hal ini tercermin bahwa perseroan mulai mengkapitalisasi untuk pembayaran kupon untuk trance B dan C. Adapun pembayaran berikutnya untuk tranche A akan jatuh tempo pada Januari 2021.

[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)