Harga Emas Antam Hari Ini Turun Lagi, Kian Dekati Rp 950.000

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas di pasar primer nasional pada hari ini Sabtu (9/1/2021) melemah 1,6%, atau Rp 15.000, menjadi Rp 954.000 per gram. Kabar positif vaksin dan ekspektasi pemulihan ekonomi membuat kilau Logam Mulia agak kurang menarik.

Koreksi tersebut terjadi mengikuti penurunan harga emas di pasar spot dunia, yang pada Jumat kemarin longsor hingga 3,4% ke level psikologis 1.800, tepatnya US$ 1.848,26 per troy ons (dari sehari sebelumnya di US$ 1.912,5 per troy ons).

Akibatnya, harga emas di PT Aneka Tambang Tbk pada hari ini terlempar kembali ke level yang pernah dicapai pada 15 Desember 2020, yakni Rp 951.000 per gram. Padahal, harga emas di pasar primer nasional tersebut masih di angka Rp 1 juta pada 9 November 2020.


Emas sempat menjadi aset yang bersinar paling terang setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Senat menyepakati pengucuran stimulus lanjutan sebesar US$ 900 miliar. Ketika stimulus membanjir, nilai tukar dolar AS pun tertekan.

Akibatnya, investasi di Surat Berharga Negara (SBN) AS pun kurang menarik karena nilai intrinsiknya tertekan. Dus, investor pun memburu aset aman (safe haven) lain yang menjanjikan keuntungan seperti emas yang menjadi lebih murah karena koreksi dolar AS.

Namun, kabar positif seputar perkembangan vaksin Covid-19 membuat ekspektasi pelaku pasar terhadap prospek ekonomi global menjadi positif. Ketika ekonomi membaik, investor masuk ke aset berisiko tinggi seperti saham yang membagikan keuntungan lebih tinggi dari emas.

Terbaru, CNBC International melaporkan bahwa studi lab mengindikasikan vaksin Pfizer dan BioNTech cenderung efektif melawan virus Corona strain terbaru-yang diduga lebih mudah menular-di Inggris dan Afrika Selatan.

Namun, harga emas berpeluang menguat lagi karena inflasi di AS diprediksi naik mengikuti pemulihan ekonomi. Emas secara tradisional merupakan lindung nilai terhadap inflasi, ketika inflasi melesat naik, maka permintaannya akan meningkat.

Presiden The Fed St. Louis, James Bullard mengatakan semua faktor yang akan memicu inflasi sudah ada, dari kebijakan moneter dan fiskal. Bullard mengatakan saat ini kebijakan fiskal sangat powerful, dan kemungkinan akan ada tambahan lagi saat pemerintahan Joseph ‘Joe’ Biden.

Selain itu, ada peluang munculnya stimulus fiskal tambahan pada awal tahun ini, menyusul aksi sapu bersih Partai Demokrat di Gedung Putih, Senat, dan DPR AS. Kubu Demokrat selama ini dikenal pro-stimulus jumbo.

Jika benar ada stimulus lagi, dolar AS pun kembali tertekan dan harga emas-yang di pasar global dibeli dengan dolar AS–menjadi lebih menarik karena ongkos belinya lebih murah.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)