Harga Emas Antam Pekan Ini Anjlok, Susah ke Rp 1 Juta/gram

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas di pasar utama nasional sepanjang pekan ini anjlok Rp 15.000 per gram, sejalan dengan koreksi harga emas dunia yang mencapai US$ 49,8 per troy ons atau setara Rp 22.400/gram.

Harga jual logam mulia tersebut di situs PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada Jumat (8/1/2021) melemah 0,2% atau sebesar Rp 2.000 menjadi Rp 969.000/gram dari perdagangan Kamis yang berada di level Rp 971.000/gram.

Koreksi itu berlanjut pada Sabtu dengan laju yang lebih parah yakni -1,5% atau Rp 15.000/gram, menjadi Rp 954.000 setiap gramnya. Secara mingguan, harga emas per Sabtu terhitung melemah 1,5% karena pada Sabtu pekan lalu harga emas Antam juga di level Rp 969.000/gram.


Tren pelemahan tersebut sejalan dengan penurunan harga emas di pasar spot dunia, yang pada Jumat kemarin juga longsor hingga 3,4% ke level psikologis 1.800, tepatnya US$ 1.848,26 per troy ons (dari sehari sebelumnya di US$ 1.912,5 per troy ons).

Secara mingguan, harga emas dunia tersebut juga terhitung melemah, dengan surut 2,6% dari posisi Jumat pekan lalu (US$ 1.898,1). Dengan demikian, harga logam mulia tersebut gagal bertahan di level psikologis 1.900 yang telah dicetaknya sejak Senin hingga Kamis.

Pada Sabtu, harga emas di pasar spot dunia tidak diperdagangkan. Namun jika melihat pada polanya, harga emas Antam memang cenderung mengikuti harga emas dunia, dengan jeda keterlambatan selama sehari. Puncak reli sepekan harga emas dunia yang terjadi pada Selasa (5/1/2021) baru terbentuk di harga emas Antam pada Rabu (6/1/2021).

Penurunan harga emas tersebut terjadi setelah muncul berbagai kabar positif seputar vaksin Covid-19 yang membuat ekspektasi pelaku pasar terhadap prospek ekonomi global menjadi positif. Ketika ekonomi membaik, emas menjadi kurang diburu dan investor masuk ke aset berisiko tinggi seperti saham yang membagikan keuntungan lebih tinggi.

Terbaru, CNBC International melaporkan bahwa studi lab mengindikasikan vaksin Pfizer dan BioNTech cenderung efektif melawan virus Corona strain terbaru-yang diduga lebih mudah menular-di Inggris dan Afrika Selatan.

Amerika Serikat (AS) menghadapi realitas politik yang benar-benar baru, di mana kubu Partai Demokrat menyapu bersih alat politik di Negara Adidaya tersebut dengan menguasai Gedung Putih, Senat, hingga DPR AS.

Ketika stimulus membanjir, maka dolar AS pun cenderung tertekan sehingga berinvestasi di pasar obligasi menjadi kurang menarik. Oleh karenanya, investor memburu aset aman (safe haven) lain yang masih menjanjikan keuntungan seperti misalnya emas.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)