Harga Minyak Ambles, CPO Ikut Drop, Untung Ekspornya Ciamik!

Jakarta, CNBC Indonesia – Mengawali perdagangan pekan ini, kontrak minyak sawit mentah (CPO) Malaysia ditransaksikan lebih rendah. Namun koreksi yang terjadi tidak terlalu besar. 

Harga kontrak berjangka atau futures CPO yang kadaluwarsa Maret 2021 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange turun tipis 0,06% dibanding posisi penutupan akhir pekan lalu. Pada 10.00 WIB, harga kontrak CPO dibanderol di RM 3.440/ton.


Sentimen yang membebani harga CPO adalah anjloknya harga minyak mentah. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan harga minyak masih belum berpaling dari perkembangan wabah Covid-19. Saat ini pandemi belum benar-benar bisa dijinakkan, meski program vaksinasi darurat sudah mulai digalakkan.

Serangan gelombang kedua Covid-19 di Inggris, Eropa dan Amerika Serikat (AS) membuat banyak negara-negara tersebut yang kembali menerapkan lockdown ketat. Penguncian aktivitas ekonomi ini berakibat pada rendahnya mobilitas dan anjloknya permintaan terhadap bahan bakar.

Pasar semakin cemas dibuat ketika beredar kabar bahwa saat ini Inggris menemukan suatu strain virus Corona baru yang merebak di negara tersebut. Reuters melaporkan varian baru ini 70% jauh lebih menular dari tipe varian awal.

Harga kontrak futures Brent turun 3,37% ke level US$ 50,53/barel dan harga kontrak futures West Texas Intermediate (WTI) terpangkas 3,24% ke level US$ 47,51/barel pada 08.50 WIB. Harga minyak ambles dari level tertingginya sejak bulan Maret.

CPO merupakan salah satu bahan baku biodiesel yang merupakan bahan bakar substitusi minyak, sehingga pergerakan harga minyak akan ikut berpengaruh terhadap harga CPO. Ketika harga minyak mentah ambles, maka penggunaan CPO untuk pembuatan bahan bakar nabati menjadi kurang ekonomis.

Apabila harga minyak anjlok dalam jangka panjang tentu berakibat pada nilai keekonomian proyek pembuatan bahan bakar nabati dari CPO. Hal ini tentunya akan menyebabkan permintaan terhadap CPO untuk biodiesel berkurang. 

Namun saat ini ada sentimen yang masih cukup menahan harga CPO. Survei yang dilakukan oleh Intertek Testing Services menunjukkan bahwa ekspor minyak sawit Negeri Jiran pada periode 1-20 Desember naik 18,9% dibanding periode yang sama bulan lalu.

Pada periode tersebut ekspor minyak sawit dilaporkan mencapai 1,07 juta ton dari sebelumnya 898 ribu ton di bulan sebelumnya. Kenaikan pengiriman ke Uni Eropa (UE) dan India turut mendongkrak kinerja ekspor bulan Desember ini ketika permintaan impor China anjlok signifikan.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)