Huh! Stimulus Fiskal-Moneter AS, Tak Kuat Angkat Harga Emas

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia sudah berada di atas US$ 1.850/troy ons. Kombinasi antara stimulus fiskal dan moneter di Negeri Paman Sam diharapkan mampu memberikan tenaga untuk emas kembali menguat. 

Pagi ini Kamis (17/12/2020), harga emas terkoreksi tipis sebesar 0,09% dibanding posisi penutupan perdagangan kemarin. Di arena pasar spot harga emas dibanderol di US$ 1.862,5/troy ons.


Harga emas mulai bangkit setelah ada titik terang stimulus fiskal jilid II di AS. Sekian lama negosiasi antara DPR dan Senat menemui jalan buntu. Akhirnya ada harapan bahwa stimulus akan segera cair. 

Proposal bipartisan senilai US$ 908 miliar itu akhirnya dipecah menjadi dua rancangan undang-undang (RUU). Stimulus sebesar US$ 748 miliar yang pertama akan dialokasikan khusus untuk bantuan sosial kepada para pekerja, sekolah dan juga untuk membantu mengembangkan serta distribusi vaksin Covid-19.

Sementara untuk RUU yang kedua akan mencakup bantuan senilai US$ 160 miliar yang berisi tentang bantuan pemerintah dan stimulus untuk sektor usaha yang menuai perdebatan. 

Optimisme bahwa kesepakatan stimulus tercapai juga terindikasi dari pernyataan para pemimpin negosiator di kongres AS. 

“Saya optimistis kita bakal bisa mencapai pemahaman dalam waktu dekat,” tutur McConnell pada Selasa malam setelah pertemuan tersebut. Sementara Schumer mengatakan bahwa para pimpinan “membuat kemajuan, dan semoga kita bisa mencapai kesepakatan segera.”

Wall Street semakin kokoh di zona hijau setelah The Fed mengumumkan kebijakan moneternya dan berkomitmen untuk menjalankan program pembelian aset (quantitative easing/QE) sampai pasar tenaga kerja AS kembali mencapai full employment dan inflasi konsisten di atas 2%.

Dalam pengumuman kebijakan moneternya, bank sentral pimpinan Jerome Powell ini mengatakan akan terus melanjutkan QE dengan nilai setidaknya US$ 120 miliar per bulan “sampai ada perbaikan substansial menuju target full employment serta stabilitas harga”.

Selain QE, The Fed juga berkomitmen mempertahankan suku bunga acuan 0,25% dalam waktu yang lama.

“Langkah-langkah ini akan memastikan kebijakan moneter akan terus memberikan dukungan yang kuat terhadap perekonomian sampai pemulihan tercapai,” kata Powell.

The Fed memberikan inflasi yang dilihat dari belanja konsumsi personal (personal consumption expenditure/PCE) di tahun ini sebesar 1,2%, kemudian di tahun depan 1,8%. Artinya masih belum mencapai target di atas 2%, sehingga pada tahun depan kebijakan moneter yang diterapkan masih ultra longgar.

Stimulus yang bernilai jumbo inilah yang membuat harga aset-aset keuangan maupun emas terbang tinggi.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)