IHSG Mau Tembus 6.000, Saham BRIS Ngamuk Lagi!

Jakarta, CNBC Indonesia – Saham PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) langsung merajai top gainers pada awal perdagangan sesi I, Senin (14/12/2020) di tengah kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Data BEI mencatat, pada pukul 09.22 WIB, IHSG naik 0,68% di level 5.979 dengan nilai transaksi Rp 3,48 triliun.

Saham BRIS menjadi jawara top gainers pagi ini dengan penguatan 14,29% di level Rp 2.040/saham. Adapun di posisi kedua top gainers adalah PT Indosat Tbk (ISAT) naik 9.36% di level Rp 2.930/saham.


Nilai transaksi saham BRIS pagi ini mencapai Rp 460 miliar dengan volume perdagangan 238 juta saham.

Dalam sebulan terakhir saham BRI naik 55%, 3 bulan naik 110% dan 6 bulan terakhir melesat 528%.

Pekan lalu, saham BRIS juga masuk dalam 3 besar top gainers ketika harganya melesat 19,80% di level Rp 1.785/saham. Saham BRIS berada di urutan kedua top gainers setelah saham PT Soechi Lines Tbk (SOCI) yang ditutup melesat 34,10% di posisi Rp 232/saham.

Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai, katalis positif saham BRIS tak lain tak bukan soal perkembangan merger bank syariah BUMN, selain karena kinerjanya juga positif sepanjang tahun ini dengan mencetak laba yang meroket.

Adapun rencana merger BRIS, PT Bank BNI Syariah (BNIS) dan PT Bank Syariah Mandiri (BSM) juga semakin jelas setelah nama sudah ditetapkan.

Bank hasil penggabungan akan bernama PT Bank Syariah Indonesia Tbk dengan kode saham tetap BRIS. Nama ini akan digunakan secara efektif oleh BRIS selaku Bank Yang Menerima Penggabungan (survivor entity).

Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN Hery Gunardi mengatakan seluruh proses dan tahapan-tahapan merger akan terus dikawal hingga penggabungan ketiga bank syariah BUMN selesai dilakukan.

“Kehadiran Bank Syariah Indonesia akan menjadi tonggak kebangkitan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, entitas baru ini tentu memerlukan identitas yang kuat dan Direksi yang berpengalaman untuk menjalankan operasionalnya,” kata Hery yang kini menjadi Dirut Bank Syariah Mandiri, dalam siaran pers, Jumat (11/12/2020).

“Dengan direksi yang akan diisi oleh orang-orang berpengalaman di bidangnya, visi Bank Syariah Indonesia untuk menjadi salah satu bank syariah terbesar di dunia akan semakin mantap dan yakin bisa kita wujudkan,” ujar Hery.

Perubahan nama tersebut juga diikuti dengan pergantian logo. Kantor pusat Bank Hasil Penggabungan akan berada di Jl. Abdul Muis No. 2-4, Jakarta Pusat, yang sebelumnya merupakan kantor pusat BRIS.

Bank Hasil Penggabungan akan melakukan kegiatan usaha pascamerger di kantor pusat, cabang, dan unit eksisting yang sebelumnya dimiliki BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, serta BNI Syariah.

Pascamerger, Bank Hasil Penggabungan akan memiliki susunan kepengurusan yang diperkuat oleh 10 Direksi.

Bank Hasil Penggabungan nanti akan memiliki aset mencapai Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun. Jumlah aset dan modal inti tersebut menempatkan Bank Hasil Penggabungan dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan TOP 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar dalam 5 tahun ke depan.

Komposisi pemegang saham pada Bank Hasil Penggabungan adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) 51,2%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) 25,0%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,4%, DPLK BRI – Saham Syariah 2% dan publik 4,4%.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)