IHSG Ngotot Mau ke 6.000, Dibuka Langsung Melesat 0,2%

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan Jumat (11/12/20) dibuka melesat kencang 0,21% ke level 5.946,35. Selang 15 menit IHSG masih melesat 0,39% ke level 5.956,25.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi beli bersih sebanyak Rp 81 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 3 triliun.

Tercatat Asing melakukan jual bersih di saham PT Astra Internasional Tbk (ASII) sebesar Rp 8 miliar dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp 12 miliar.


Sedangkan pembelian bersih asing dilakukan di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 20 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 158 miliar.

Teranyar ada kabar dari bank sentral Eropa yakni ECB yang memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya. Otoritas moneter tersebut memutuskan untuk menahan suku bunga acuan operasi refinancing utama, fasilitas pinjaman marjinal dan fasilitas simpanan masing-masing sebesar 0,00%, 0,25% dan -0,50%.

Tak hanya itu,bank sentral di bawah pimpinan Christine Lagarde juga memutuskan untuk menambah injeksi likuiditas ke sistem keuangan dengan memperbesar nilai pembelian obligasi senilai 500 miliar Euro di tengah maraknya lockdown akibat munculnya gelombang kedua wabah Covid-19.

Bank sentral meluncurkan Program Pembelian Darurat Pandemi (PEPP) awal tahun ini dalam upaya untuk menopang ekonomi blok tersebut saat terguncang oleh pandemi Covid-19.

Setelah ekspansi hari Kamis, total nilai pembelian aset sekarang menjadi 1,85 triliun euro, dan ECB memperpanjang periode pembelian PEPP hingga Maret 2022. Investasi ulang aset yang jatuh tempo dari PEPP juga telah diperpanjang hingga akhir 2023.

Dalam sebuah pernyataan menyusul keputusan tersebut, ECB mengatakan akan melakukan pembelian bersih sampai Dewan Pemerintahan menilai bahwa fase krisis virus Corona telah berakhir.

Selain itu ECB juga menegaskan bahwa suku bunga akan tetap pada level rendah saat ini sampai bank sentral melihat prospek inflasi.

Stimulus moneter yang digelontorkan oleh ECB tersebut tentu menjadi berita positif untuk pasar. Namun di tengah kabar baik tersebut terselip kabar yang sejujurnya kurang mengenakkan.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan pada hari Kamis ada “kemungkinan kuat” Inggris dan UE akan gagal mencapai kesepakatan perdagangan. Namun kedua belah pihak berjanji untuk melakukan apa pun yang dia bisa untuk menghindari adanya perpecahan.

Sentimen di pasar saat ini memang mixed. Optimisme vaksinasi Covid-19 sudah tak berdampak terlalu signifikan sebagaimana ketika awal-awal terjadi. Investor masih akan cenderungwait and seeterutama menanti langkah lanjutan terkait stimulus ronde kedua di AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)