Industri jasa keuangan dipaksa bergerak ke arah digitalisasi

Ke depan yang kita hadapi persiapan digitalisasi dimana virtualisaai platfrom harus kira kembangkan

Jakarta (ANTARA) – Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida menilai saat ini industri jasa keuangan dipaksa bergerak ke arah digitalisasi akibat pandemi COVID-19, serta agar bisa bertahan dan juga terus bertumbuh ke depan.

“Mungkin masih banyak dari kita yang cukup resisten ya terhadap transformasi digital, karena mungkin kita sudah terlalu terbiasa dengan cara lama dan juga menganggap tidak ada keharusan untuk bergerak ke era baru yaitu era digital. Tapi dengan adanya pandemi ini, mau tidak mau suka tidak suka kita harus menuju atau bergerak ke arah digitalisasi,” ujar Nurhaida dalam diskusi yang digelar The Finance dengan tema ‘How Can Digitalization Help Financial Sector Coping With Crisis & Covid-19 Impact’ di Jakarta, Kamis.

Mengantisipasi hal tersebut, otoritas sendiri telah menerapkan kerangka aturan yang seimbang atau “balance regulatory framework”. OJK menilai inovasi-inovasi keuangan digital perlu ruang untuk tumbuh dan berkembang namun tetap perlu memperhatikan aspek kehati-hatian.

“Kalau kita lakukan pengaturan yang terlalu ketat, tentu inovasinya tidak bisa tumbuh dengan baik. Tetapi dari satu sisi kita juga perlu menjaga adanya keamanan atau perlindungan terhadap nasabah atau konsumen,” kata Nurhaida.

Di diskusi yang sama, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengingatkan pentingnya digitalisasi serta virtualisasi dalam menggenjot bisnis perbankan terutama dalam penyaluran kredit di tengah pandemi Covid-19. Dirinya tak memungkiri bahwa pandemi Covid-19 telah membuat sektor penyaluran kredit lesu, namun dengan adanya digitalisasi penyaluran kredit bisa akan terdorong.

“Ke depan yang kita hadapi persiapan digitalisasi dimana virtualisaai platfrom harus kira kembangkan. Tanpa itu kita akan kehilangan real offline market karena transisi transisi dari pasar, mall, restoran relatif belum ramai meski kini sudah agak rame namun masih 50% hingga 60 persen dari normal,” ujar Jahja

Di era kenormalan baru, lanjut Jahja, ada dua market yang harus dioptimalkan yakni generasi milenial dan senior milenial. Generasi milenial adalah mereka yang menyukai perkembangan transaksi digital dan senior milenial adalah mereka yang kurang senang dengan adanya perubahan. Maka dari itu, ia memandang bahwa edukasi menjadi penting dilakukan kepada masyarakat di tengah upaya pengembangan digitalisasi sekarang ini.

Sementara itu, Chairman The Finance, Eko B. Supriyanto mengatakan, industri keuangan, saat ini sedang menghadapi cobaan berat akibat pandemi COVID-19. Bahkan, sebelum muncul pandemi, situasi perekonomian nasional sudah mulai kurang kondusif.

“Saat ini ibaratnya sedang musim puso atau gagal panen. Banyak perusahaan keuangan yang mengalami penurunan kinerja dan pendapatan,” ujar Eko.

Untuk mendorong kinerja industri keuangan di masa pandemi, The Finance mengapresiasi lembaga keuangan yang masih berkinerja sangat bagus di masa-masa sulit seperti sekarang ini. The Finance pun memberikan penghargaan “The Finance Top 20 Financial Institution Awards 2020” kepada 20 institusi keuangan terbaik tahun 2020, masing-masing dari perbankan, asuransi, dan multifinance.

The Finance juga memberikan penghargaan “Best The Best CFO 2020” kepada Chief Financial Officer (CFO) terbaik tahun ini dari ketiga institusi keuangan. Menurut Eko, perusahaan yang berhasil melakukan transformasi digital dengan baik, merekalah yang akan memenangkan kompetisi di masa depan.

“Sekarang kita sedang memasuki masa transformasi, yang dipercepat dengan adanya pandemi COVID-19. Kita harus bisa beradaptasi agar tidak punah seperti dinosaurus. Ke depan, yang akan berkembang pesat adalah digital brand. Untuk itu, kita harus aware dengan transformasi digital,” kata Eko.

Penghargaan “The Finance Top 20 Financial Institution Awards 2020” diberikan berdasarkan hasil rating bertajuk “Top 20 Lembaga Keuangan 2020” yang dilakukan oleh The Finance Research. Rating tersebut mengukur performa masing-masing lembaga keuangan dari tiga sektor industri keuangan. Bahan baku utamanya adalah laporan keuangan (audited) dalam tiga tahun atau tiga periode terakhir (2017 – 2019), yang selanjutnya disaring berdasarkan ukuran perusahaan.

Baca juga: Presdir BCA nilai digitalisasi harus diiringi dengan edukasi
Baca juga: Startup Infradigital bantu digitalisasi sistem pendidikan saat pandemi

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020