Inggris “Cerai Baik-Baik” dengan UE, Dow Futures dkk Perkasa!

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks saham berjangka (futures) Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis (24/12/2020), menjadi indikasi Wall Street akan menghijau saat pembukaan nanti. Meski demikian perdagangan bursa saham AS akan dipersingkat menjadi setengah hari saja, jelang Hari Raya Natal Jumat besok.

Pada pukul 18:56 WIB, Indeks Dow Jones futures menguat 0,2%, S&P 500 futures dan Nasdaq futures masing-masing naik 0,22% dan 0,14%.

Kabar baik datang dari Eropa pada hari ini. Inggris dan Uni Eropa (UE) dilaporkan berada di tahap akhir kesepakatan dagang, dan kemungkinan akan dicapai pada Kamis waktu setempat.


Untuk diketahui, Inggris saat ini berada dalam masa transisi keluar dari Uni Eropa atau yang dikenal dengan Brexit. Masa transisi tersebut berlaku hingga 31 Desember mendatang, jika tidak tercapai kesepakatan, maka akan terjadi hard Brexit. Artinya Inggris akan keluar begitu saja tanpa privilege apapun, termasuk akses ke pasar tunggal, dimana produk dari Inggris bisa bebas keluar masuk UE tanpa bea masuk.

Hard Brexit merupakan sesuatu yang ditakutkan pelaku pasar, sebab bisa membawa ekonomi Inggris merosot tajam, juga menyeret ekonomi negara-negara Eropa lainnya.

Dengan adanya kesepakatan dagang, artinya Inggris akan “bercerai baik-baik” dengan Uni Eropa, dan hard Brexit bisa dihindari.

Hal tersebut memberikan sentimen positif ke bursa saham global hari ini.

Sementara itu dari AS, tarik ulur stimulus fiskal di AS masih menjadi perhatian. Kongres (DPR dan Senat) AS meloloskan paket stimulus fiskal senilai US$ 900 miliar. Rancangan undang-undang (RUU) stimulus fiskal tersebut telah diserahkan ke Presiden AS Donald Trump untuk ditandatangani sehingga sah dan cair.

Namun, hingga saat ini Trump belum menandatangani RUU tersebut. Malah, pada Selasa malam waktu setempat Trump sedikit mengejutkan pasar, melalui akun Twitternya, ia menyebut stimulus senilai US$ 900 miliar sebagai “aib”. Ia juga meminta Kongres AS untuk menaikkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) US$ 600/oranyang terdapat di dalam paket stimulus tersebut menjadi US$ 2.000.

Masih ada batas waktu perundingan penambahan stimulus dalam beberapa hari ke depan. Untuk diketahui, stimulus fiskal jilid I yang digelontorkan pada bulan Maret lalu akan habis pada 26 Desember mendatang, dan anggaran belanja pemerintahan akan habis pada 28 Desember mendatang.

Stimulus fiskal dan anggaran belanja pemerintah senilai US$ 1,4 triliun di-bundle menjadi satu RUU, sehingga cepat atau lambat stimulus tersebut akan cair, bahkan ada kemungkinan nilainya lebih besar.

Sejauh ini, Partai Demokrat yang justru merupakan lawan politik Trump mendukung keinginan tersebut, sementara Partai Republik pendukung pemerintah justru belum berkomentar.

Nancy Pelosi, Ketua DPR AS dari Partai Demokrat melalui akun Twiternya menyatakan siap mengikuti keinginan Presiden Trump tersebut.

“Sejak dulu Partai Republik berulang kali menolak mengatakan berapa nilai BLT yang diinginkan Presiden. Pada akhirnya, Presiden setuju dengan US$ 2.000. Partai Demokrat siap untuk membuat RUU tersebut pekan ini dengan suara bulat. Ayo lakukan!” tulis Pelosi di Akun Twiternya.

Sejak dulu, Partai Demokrat memang getol menggelontorkan stimulus dengan nilai yang lebih besar, tapi ditolak oleh Partai Republik. Seandainya Partai Republik juga akhirnya sepakat, maka nilai stimulus fiskal tersebut akan meningkat drastis lebih dari US$ 1 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)