Investasi Saham Paling Cuan Bulan Ini! Bisa Lanjut Gak Ya?

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini melesat kencang 3,80% dan ditutup di level 5.783,33. Indeks acuan pasar modal Tanah Air masih mampu terbang melanjutkan reli selama lima pekan berturut-turut.

Sentimen positif memang sedang membanjiri pasar modal baik pasar modal dalam negeri maupun pasar modal global mulai dari dalam negeri dimana Bank Indonesia baru saja memangkas suku bunga acuan ke level terendah sepanjang masa yakni 3,75%.

Selanjutnya sentimen global datang dari empat vaksin corona yang disebut-sebut memiliki efektivitas hingga 90% serta Presiden Amerika Serikat saat ini Donald Trump yang sudah mengijinkan proses transisi terhadap Presiden Terpilih, Joe Biden.


Tidak hanya dari dalam negeri, bursa saham global juga ikut berpesta pora dengan adanya sentimen ini, berikut perbandingan return berbagai instrumen investasi selama sebulan terakhir.

Terpantau dengan jelas bahwa aset-aset beresiko seperti saham baik di Indonesia (IHSG) maupun di bursa saham acuan global Amerika Serikat (DJIA) berhasil terbang masing-masing 12,77% dan 12,88%.

Sedangkan koreksi parah terpaksa dibukukan oleh aset-aset lindung nilai seperti emas dan perak yang terpaksa anjlok parah masing-masing 5,55% dan 3,95%. Seiring dengan anjloknya emas di pasar spot, emas Antam juga terpaksa merosot sebesar 5,42% selama sebulan terakhir.

Sebagai aset yang tak produktif karena tidak memberikan imbal hasil berupa dividen atau kupon seperti pada saham dan obligasi, emas hanya akan memberikan capital gain dari selisih pergerakan harga yang sangat ditentukan oleh keyakinan para pelaku pasar.

Oleh karena itu emas memiliki opportunity cost. Apabila biaya peluangnya murah, maka emas akan diminati. Namun apabila naik emas akan cenderung ditinggalkan.

Saat ini opportunity cost memegang emas sangatlah tinggi mengingat reli bursa saham akibat vaksin nCov-19. Hal ini terjadi karena apabila roda ekonomi berputar kembali setelah vaksinasi massal, maka instrumen investasi yang paling diuntungkan adalah saham dimana laba perusahaan akan kembali meningkat dan memberikan return yang baik kepada para investor.

Maka dari itu pula instrumen investasi yang paling dirugikan adalah emas yang merupakan investasi lindung nilai alias safe haven dimana apabila prospek investasi saham turun maka investor memindahkan asetnya ke emas, begitu pula sebaliknya ketika prospek saham cerah, tak ayal harga Logam Kuning ambruk.

Sedangkan alat instrumen investasi lain seperti Obligasi juga berhasil terapresiasi meskipun hanya terbatas yakni 2,79% seiring dengan arus masuk modal asing yang masuk ke pasar modal sebulan terakhir sebanyak Rp 7,15 triliun hanya di pasar saham saja.

Arus masuk dana asing yang jumbo ini juga berhasil mengerek nilai rupiah sehingga instrumen investasi dolar terpaksa terkoreksi. Tercatat mata uang garuda berhasil menang melawan Greenback sebanyak 3,58% bulan ini.

Reli bursa saham baik global maupun di Indonesia sendiri diprediksikan akan terus berlanjut mengingat biasanya bulan Desember lekat dengan fenomena Santa Claus Rally atau window dressing.

Kedua fenomena tersebut terjadi biasanya karena para manajer investasi (MI) berusaha menghijaukan portofolio dengan cara menjual saham-saham yang merugi dan menggantinya secara bersamaan ke saham-saham yang berpotensi untung dalam jangka pendek sehingga saham-saham tersebut berhasil menghijau. Hal ini dilakukan agar kinerja portofolio mereka terlihat cantik saat akhir tahun.

Meskipun sepertinya di bulan terakhir tahun ini kenaikan tidak akan setinggi bulan November, akan tetapi investor wajar saja apabila berekspektasi nantinya bulan Natalan ini IHSG masih mampu menghijau.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/roy)