Jangan Ketinggalan Kereta, Emas Diramal Melesat Pekan ini

Jakarta, CNBC Indonesia – Emas berbalik arah menguat sepanjang minggu lalu. Meski cenderung flat pada perdagangan pagi awal pekan ini Senin (7/12/2020), harga emas diproyeksikan akan lanjut menguat.

Harga emas di arena pasar spot mengalami peningkatan tipis sebesar 0,07% dibanding posisi penutupan pekan lalu ke level US$ 1.838,9/troy ons pada pukul 09.15 WIB. 


Pada periode 30 November – 4 Desember 2020 mengalami kenaikan sebesar 3,41%. Dolar AS yang semakin tergelincir ke level terendahnya dalam dua setengah tahun terakhir menyebabkan emas punya momentum untuk rebound

Sebelumnya emas tertekan hebat di bulan November dengan koreksi sebesar 5,37% akibat optimisme pengembangan kandidat vaksin Covid-19 yang disebut memiliki tingkat kemanjuran sampai 90%. 

Namun kelanjutan diskusi stimulus jumbo jilid II di AS membuat greenback semakin tertekan. Proposal bipartisan yang diusulkan saat ini sebesar US$ 908 miliar.

Angka tersebut lebih tinggi dari yang diusulkan oleh Partai Republik yang menguasai Senat. Namun jauh lebih rendah dari yang diusulkan oleh Partai Demokrat yang mengusai House (DPR AS) sebesar US$ 2 triliun. 

Pada Kamis pekan lalu (3/12/2020) pemimpin Senat mayoritas Mitch McConnell mengatakan harapan untuk stimulus bakal digelontorkan terbuka jika pihak Demokrat mau untuk mendekati nominal stimulus yang diusulkan Republik. 

Di saat yang sama urgensi adanya bantuan fiskal lanjutan di AS semakin nyata. Data penciptaan lapangan kerja (non-farm payroll) di bulan November dilaporkan sebesar 245 ribu. Turun dari bulan Oktober sebanyak 610 ribu dan lebih rendah dari perkiraan analis sebanyak 469 ribu. 

Menurut ketua DPR Nancy Pelosi, ini menjadi momentum untuk kongres mengambil langkah yang tepat guna menyelamatkan perekonomian Paman Sam yang mengalami resesi parah tahun ini.

Bersama dengan kebijakan moneter ultra longgar yang ditempuh oleh bank sentral AS the Fed lewat quantitative easing, harga emas dan ekuitas pun melesat masing-masing 21,1% dan 14,5% sepanjang 2020.

Sebagai informasi, di bawah kendali Jerome Powell the Fed diperkirakan telah menggelontorkan stimulus moneter sebesar US$ 3 triliun tahun 2020. Ini merupakan stimulus terbesar yang pernah diberikan oleh bank sentral AS sejak tahun berdirinya seabad silam. 

Pasar pun merespons positif berita tersebut. Dalam survei yang dilakukan oleh Kitco pada analis Wall Street maupun pelaku pasar di Main Street, mayoritas memandang bullish harga emas pekan ini. 

Minggu ini 14 analis berpartisipasi dalam survei. Sebanyak 10 pemilih, atau 71%, menyerukan harga emas bakal naik. Hanya satu analis atau 7% yang memperkirakan harga bakal bergerak lebih rendah. Sisanya, tiga analis atau 21% netral terhadap emas.

Sementara itu dari total 1.147 suara diberikan dalam survei online minggu lalu sebanyak 743 pemilih atau 65%, mengatakan mereka bullish terhadap emas untuk minggu ini. Ada 231 peserta lainnya atau 20% yang memandang bearish. Sisanya 173 responden atau 15% netral.

Stimulus adalah hal yang krusial untuk mendorong harga emas melesat lebih lanjut. Untuk dapat melesat harga emas harus melalui beberapa titik resisten. Titik resisten terdekat emas adalah US$ 1.850. Level psikologis selanjutnya adalah US$ 1.900 dan US$ 1.975.

Harga emas tidak menutup kemungkinan bakal mencapai level US$ 2.000 di akhir tahun apabila stimulus fiskal jilid II yang nilainya jumbo tersebut diloloskan menurut direktur perdagangan global Kitco Metals Peter Hug.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)