Kasus Covid-19 Meledak Lagi, Hati-Hati Profit Taking IHSG!

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 1,56% ke 5.813,987 pada perdagangan Rabu kemarin. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 19 Maret lalu.

Meski demikian, investor asing masih melepas saham-saham bursa. Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual (net sell) bersih sebesar Rp 71 miliar di pasar reguler dengan nilai transaksi hari ini mencapai Rp 16,4 triliun.

Di hari Selasa, investor asing juga net sell senilai Rp 736 miliar, setelah “kabur” Rp 2,6 triliun di awal pekan.


Sentimen positif Rabu kemarin datang dari produsen vaksin virus corona asal Amerika Serikat (AS) Pfizer dikabarkan sudah mendapatkan ijin dari pemerintahan Britania Raya untuk penggunaan darurat bagi vaksin Pfizer dan partnernya BioNTec Sedangkan ijin dari pemerintahan AS akan datang sebentar lagi, bahkan banyak yang beranggapan bahwa vaksin Pfizer akan disetujui untuk penggunaan darurat sebelum tahun 2021.

Kabar vaksin tersebut membuat bursa saham AS (Wall Street) bervariasi pada perdagangan Rabu waktu setempat, Indeks Dow Jones dan S&P 500 membukukan kenaikan 0,2% dan 0,18%, hanya Nasdaq yang melemah tipis 0,05%. Indeks S&P 500 dengan penguatan tersebut kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Pergerakan Wall Street tersebut mengindikasikan ada risiko aksi ambil untung (profit taking) yang bisa juga menerpa IHSG pada perdagangan hari ini, Kamis (3/11/2020). Apalagi dengan kasus penyakit virus corona (Covid-19) yang bertambah sebanyak 5.533 orang kemarin, tentunya menjadi perhatian investor, yang ditakutkan membuat pemerintah kembali mengetatkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). 

Secara teknikal, momentum penguatan IHSG memang masih cukup besar hingga berhasil melewati level 5.800 kemarin.

Awal munculnya momentum penguatan IHSG dimulai Kamis (5/11/2020) saat muncul White Marubozu dalam grafik candle stick harian.

Saat itu IHSG membuka perdagangan di level 5.161,39, yang sekaligus menjadi level terendah harian, dan mengakhiri perdagagan di level 5.260,326, sekaligus menjadi level tertinggi harian.

Level open sama dengan low, dan close sama dengan high itu yang disebut sebagai White Marubozu.

White Marubozu merupakan sinyal nilai suatu aset akan kembali menguat. Terbukti setelahnya IHSG terus menguat.

Kabar baiknya, pada Senin (23/11/2020) dan Kamis (26/11/2020) IHSG kembali membentuk pola White Marubozu, sehingga ada potensi reli akan kembali berlanjut, dan tidak menutup kemungkinan kembali ke level 6.000 sebelum akhir tahun.

jkseGrafik: IHSG Harian
Foto: Refinitiv

IHSG juga bergerak di atas rerata pergerakan 50 hari (moving average/MA 50), 100 hari (MA 100), dan 200 hari (MA 200), yang menambah momentum penguatan.

Indikator stochastic pada grafik harian sudah mulai keluar dari wilayah jenuh beli (overbought). Artinya tekanan turun IHSG sudah mulai mereda.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Stochastic pada grafik 1 jam sudah mencapai wilayah overbought yang memunculkan risiko aksi profit taking.

jkseGrafik: IHSG 1 Jam
Foto: Refinitiv

Support terdekat berada di level 5.700 – 5.690, selama bertahan di atasnya IHSG berpotensi bangkit ke 5.750 sampai 5.770. Jika level tersebut dilewati, bursa kebanggaan Tanah Air ini berpeluang kembali ke 5.890.

Sementara itu jika support ditembus, IHSG berisiko turun ke 5.760. Jika dilewati, target penurunan selanjutnya di 5.635

Support kuat berada di level 5.458 yang merupakan Fibonnanci Retracement 61,8%. Fibonnaci tersebut ditarik dari level tertinggi September 2019 di 6.414 ke level terlemah tahun ini 3.911 pada grafik harian.

Selama bertahan di atas 5.458, ke depannya IHSG cenderung masih akan menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)