Katanya Diblokir, Kok Batu Bara Australia Bisa Masuk China?

Jakarta, CNBC Indonesia – Hubungan bilateral antara Australia dan China memang memburuk. Meskipun China disebut memboikot produk impor batu bara dari Australia, beredar rumor Negeri Tirai Bambu masih menerima pengiriman batu bara dari Australia melalui kapal tanker. 

Bloomberg melaporkan kargo dengan muatan seberat 135.000 ton batu bara termal Australia di kapal Alpha Era, yang telah menunggu sejak akhir Mei untuk dibongkar di pelabuhan Fangchenggang di China selatan, diperkirakan akan diloloskan bea cukai dan menuju pengguna lokal, menurut sumber yang familiar dengan hal tersebut.

Tidak jelas mengapa kargo tersebut diharapkan melewati bea cukai, kata orang tersebut. Menurut sumber, seperti dilansir dari Bloomberg, bea cukai tidak menjelaskan mengapa mereka memproses kargo.


Meskipun masih belum jelas mengapa pengecualian tampaknya telah dibuat untuk kargo Era Alpha, pengiriman tersebut memang sampai di Fangchenggang pada akhir Mei. Itu sekitar lima bulan sebelum pejabat China secara lisan memerintahkan para importir untuk berhenti membeli batu bara Australia.

Dua kapal lainnya, Dong-A Eos dan Dong-A Astrea, baru-baru ini menyelesaikan pembongkaran batu bara Australia di pelabuhan Jingtang, sementara kapal ketiga, Dong-A Oknos, sedang dalam proses mengacu pada perusahaan intelijen data Kpler. Tidak jelas apakah kargo itu juga akan diloloskan oleh bea cukai.

Kapal-kapal itu merupakan bagian dari 50 armada kapal yang telah menunggu setidaknya sebulan untuk menurunkan muatan batu baranya dari Australia, menurut analisis terpisah dari data pengiriman yang dilakukan oleh Bloomberg dan Kpler bulan lalu.

Pasokan batu bara China telah terbatas dalam beberapa pekan terakhir di tengah pemeriksaan keamanan di tambang domestik dan wabah Covid-19 yang memperlambat pengiriman truk dari Mongolia.

Ketatnya pasokan batu bara di China memang membuat harga batu baranya melonjak tinggi. Harga batu bara domestik China Qinhuangdao dengan nilai kalori 5.500 Kcal/Kg terus mengalami kenaikan bahkan sudah melampaui batas atas yang ditetapkan oleh pemerintah China di RMB 500 – 570/ton atau yang disebut sebagai zona hijau.

Data Refinitiv menunjukkan harga batu bara lokal China sudah menyentuh level RMB 620/ton pekan lalu atau jika dinyatakan dalam greenback mencapai hampir US$ 95/ton. Harga batu bara termal impor jauh lebih murah meski sudah melesat tinggi sejak pertengahan Oktober. 

Hal ini membuat banyak pihak terutama para pelaku pasar berspekulasi bahwa China akan melonggarkan kebijakan kuota impornya.

“Kecepatan kenaikan harga batu bara domestik di China sampai batas tertentu akan menentukan seberapa cepat kita dapat mengharapkan lebih banyak pengiriman batu bara Australia akan dibongkar,” kata Monica Zhu, analis curah kering di Kpler kepada Bloomberg.

Lagipula jika melihat data ekspor batu bara termal Australia ke China pada Oktober lalu jumlahnya mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnya. Ekspor batu bara termal Australia ke China tercatat sebanyak 1,73 juta ton pada Oktober lalu. Volume ekspor ke China meningkat lebih dari 30% dibanding bulan September.

Namun keretakan hubungan antara keduanya membuat impor batu bara sepanjang 10 bulan pertama tahun ini drop signifikan. Impor batu bara termal China dari Australia justru drop hingga 18,5% pada periode Januari-Oktober tahun ini.

Retaknya hubungan Canberra-Beijing tidak terlepas dari larangan Australia kepada Huawei Technologies Co. untuk membangun jaringan 5G Australia pada tahun 2018. Ketegangan semakin memuncak ketika Australia mendukung langkah investigasi atas asal muasal virus Corona yang membuat China geram dan memboikot produk barley Negeri Kanguru.

“Ketegangan perdagangan China-Australia akan segera mencapai puncaknya, kami yakin karena mereka telah menaikkan harga komoditas global utama kepada konsumen China,” kata analis senior Bloomberg Intelligence Daniel Kang dalam sebuah catatan Kamis.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)