Kemenkeu AS dan The Fed Tak Kompak, Wall Street Dibuka Melemah

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka terperosok ke teritori negatif pada perdagangan Jumat (20/11/2020), menyusul kenaikan kasus Covid-19 dan perbedaan pandangan antara otoritas fiskal dan moneter terkait program stimulus.

Indeks Dow Jones Industrial Average drop 87,3 poin (-0,3%) pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB) dan 15 menit kemudian membaik menjadi 19,05 poin (-0,06%) ke 29.464,18 sementara indeks S&P 500 minus 0,95 poin (-0,03%) ke 3.580,92. Nasdaq turun 9,1 poin (-0,08%) ke 11.895,57.

Menteri Keuangan Steven Mnuchin ingin menyetop program stimulus bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), yang melibatkan otoritas moneter (Federal Reserve/The Fed) melalui pembelian obligasi. Namun, The Fed menilai program itu perlu dilanjutkan.


“Langkah Mnuchin bakal memperketat kondisi finansial dan menghilangkan jaring pengaman bagi pasar di saat yang tidak tepat,” tutur Krishna Guha, Wakil Presiden Evercore ISI, dalam laporan risetnya yang dikutip CNBC International.

Sentimen positif yang bakal mengangkat pasar adalah kesepakatan pimpinan majelis rendah Chuck Schumer (senator dari Partai Demokrat) dan pimpinan majelis tinggi Mitch McConnell dari Partai Republik untuk melanjutkan pembahasan stimulus.

Kabar positif lain muncul dari vaksin Pfizer dan BioNTech yang bakal mengajukan izin penggunaan darurat pada Balai Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration/FDA) pada Jumat. Pengiriman vaksin bisa dilakukan hanya beberapa jam setelah izin turun.

Meski demikian, kabar tersebut tak cukup membuat pasar senang, karena laporan CNBC Analysis menyebutkan bahwa rerata harian infeksi baru Covid-19 d AS pada Kamis mencetak rekor tertinggi baru menjadi 165.029, atau menguat 24% dalam sepekan.

Pemenang pemilihan presiden (pilpres) AS Joe Biden menyatakan bahwa pihaknya tak akan memberlakukan karantina wilayah (lockdown) ketat menjelang hari libur Thanksgiving, menyebut kebijakan tersebut sebagai “kontraproduktif”.

“Pasar bergerak campur aduk karena investors mencerna kenaikan indeks saham akhir-akhir ini, yang diikuti memburuknya penyebaran Covid-19,” tutur Tony Dwyer, Kepala Perencana Investasi Canaccord Genuity dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)