Kok Erick Thohir Sering Galak ke Telkom? Ini Alasannya

Jakarta, CNBC Indonesia – Setelah sempat berbicara keras mengenai BUMN jasa telekomunikasi di awal tahun ini, Menteri BUMN Erick Thohir pun kini menyebut PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom terus berbenah dan melakukan transformasi.

Pasalnya, dampak pandemi virus corona menyebabkan hampir semua bisnis terdampak karena bisnis model yang berubah.

“Saya ingat, di awal tahun saya buat statement keras, tidak lain statement itu saya ingin mengajak, memacu, membangun Telkom kembali,” ujar Menteri Erick, di acara 25th Telkom IPO Anniversary, Kamis (19/11/2020) yang disiarkan secara virtual.


Apalagi, menurutnya, saat ini Telkom adalah perusahaan terbesar yang dimiliki BUMN bila dilihat dari segi infrastruktur.

“Saya melihat Telkom ini adalah perusahaan terbesar yang dimiliki BUMN secara infrastruktur dan yang bisa mem-push perubahan yang terjadi karena Covid-19 ini, mohon maaf saya bicara keras, ini bukan karena saya tidak sayang, justru karena saya sayang,” kata Erick.

Atas transformasi tersebut, menurut mantan bos FC Internazionale itu, nilai kapitalisasi pasar Telkom sudah mencapai Rp 317 triliun.

“Telkom baru bergerak sedikit saja, kaptalisasi pasarnya sudah Rp 317 triliun. Karena market itu tidak bodoh, investor itu tidak bodoh, investor percaya pada perusahaan yang punya strategi jangka panjang,” katanya lagi.

Ia berharap, di bawah kepemimpinan komisaris dan direksi sekarang, nilai kapitalisasi pasar Telkom diharapkan akan meningkat menjadi Rp 450 triliun, posisi tersebut diklaim Erick disebut sama ketika Direktur Utama (Dirut) PT Telkom periode 1992-1996, Setyanto P Santosa, mengantarkan Telkom mencatatkan dual listing di Bursa New York (NYSE) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Kalau dulu nilai kapitalisasi pasar Rp 450 triliun, saya mau di bawah pimpinan komisaris dan direksi sekarang, saya mau valuasi Telkom harus sama kembali,” tuturnya.

CNBC Indonesia mencatat, pada Februari tahun ini, Erick Thohir menyatakan bahwa Telkom mau tak mau harus menyesuaikan bisnisnya dengan perkembangan teknologi saat ini.

Bukan hanya menggantungkan pendapatannya dari pendapatan dan dividen yang diperoleh dari anak usahanya PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

Erick mengatakan, Telkom harus mampu memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi yang saat ini dimilikinya untuk mengembangkan bisnis baru seperti big data dan cloud yang saat ini di Indonesia masih saja dikuasai asing.

“Ya sama kan, industri telekomunikasi kan berubah. Dulu suara, sekarang data tapi kan ada hal yang sangat penting. Infrastruktur Telkom itu kan udah lumayan luar biasa kenapa nggak itu menjadi bisnis. Bahkan juga yang namanya big data, cloud itu juga menjadi sebuah bisnis. Jangan diambil lagi oleh asing, gitu loh,” kata Erick di Assembly Hall, Menara Mandiri, Rabu kala itu (12/2/2020).

Dia menjelaskan, ketika dirinya masih mengurusi Asian Games, pihak panitia terpaksa menyewa fasilitas cloud milik China bernama Alicloud karena tak tersedianya fasilitas ini oleh Telkom.

Untuk itu, hal ini bisa menjadi peluang bisnis baru yang bisa dikembangkan oleh perusahaan telekomunikasi pelat merah ini.

Mengacu data BEI, pada penutupan perdagangan Kamis ini (19/11), kapitalisasi pasar emiten yang kini dipimpin oleh Ririek Adriansyah ini mencapai Rp 314,03 triliun. Harga sahamnya turun 0,31% di level Rp 3.170/saham.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)