Kuartet ANTM-TINS-PTBA-INCO Melesat Lagi, Kenapa Nih?

Jakarta, CNBC Indonesia – Empat saham pertambangan mineral yang terkait dengan Holding BUMN Tambang MIND ID melesat pada awal perdagangan sesi I, Kamis ini (10/12/2020), di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Data perdagangan menunjukkan, IHSG pada pukul 09.49 WIB, naik 0,68% di level 5.985, dengan nilai transaksi Rp 6,01 triliun.

Adapun empat saham yang dimaksud yakni tiga anak usaha MIND ID atau PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Satu lagi yakni saham yang menjadi investasi Inalum, PT Vale Indonesia Tbk (INCO).


Berikut pergerakan 4 saham ini:

1. ANTM, saham melesat 7,69% di level Rp 1.400, asing masuk Rp 35,33 miliar

2. TINS, saham naik 2,75% Rp 1.310, asing beli Rp 3,45 miliar

3. PTBA, saham naik 0,71% Rp 2.840, asing net sell Rp 2,97 miliar

4. INCO, saham naik 2,99% Rp 5.175, asing net sell Rp 6,33 miliar

Penguatan saham-saham ini salah satunya terjadi di tengah sentimen positif Holding Indonesia Battery. Dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI, Senin pekan ini (7/12), manajemen MIND ID mengungkapkan bahwa Antam akan menjadi salah satu pemegang saham dalam Indonesia Battery Holding.

Group CEO MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan Holding baterai yang akan mengelola industri baterai kendaraan bermotor listrik secara terintegrasi dari hulu hingga ke hilir ini melibatkan BUMN di bidang energi, yakni MIND ID, PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan Antam.

“Sesuai arahan Menteri BUMN Erick Thohir, keempat perusahaan ini nantinya akan menjadi pemegang saham untuk membentuk Indonesia Battery Holding,” kata Orias, mantan Dirut Pelindo III ini.

Andy Wibowo Gunawan, analis riset PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai salah satu sentimen terbesar bagi Antam ialah Holding Indonesia Battery yang digagas Kementerian BUMN.

Dalam risetnya pada awal November, Andy menilai dari sisi kinerja Antam masih oke. Antam membukukan pendapatan Rp 18,04 triliun pada 9M20 atau per September, turun 26,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 24,56 triliun.

Pencapaian itu terealisasi masing-masing sebesar 63,1% dan 76,1% dari target 2020F setahun penuh dan konsensus.

“Namun, laba bersih ANTM 9M20 melonjak menjadi Rp 836 miliar, merealisasikan masing-masing 336,0% dan 238,8% perkiraan kami dan konsensus setahun penuh 2020,” katanya, dikutip dari situs Mirae Asset.

Pencapaian yang kuat ini disebabkan oleh penurunan COGS (Cost of Goods Sold) atau HPP (Harga Pokok Penjualan) Antam yang turun menjadi Rp 15,1 triliun ( turun 28,5% YoY).

“Jika kita memecahnya menjadi detail, kita melihat bahwa COGS 9M20 yang lebih rendah disebabkan oleh pembelian logam mulia, bahan bakar, bahan yang digunakan lebih rendah,” katanya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir menyebut dua produsen baterai electric vehicle (EV) terbesar dunia saat ini tengah berminat bergabung dalam rencana hilirisasi nikel Indonesia melalui pembangunan pabrik baterai EV.

Dua perusahaan tersebut adalah Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China dan LG Chem Ltd asal Korea Selatan.

Proyek pabrik baterai kendaraan listrik ini diperkirakan akan bernilai sebesar US$ 20 miliar atau sekitar Rp 296 triliun (asumsi kurs Rp 14.800/US$).

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)