Kurang Dorongan Sentimen Positif, Harga SBN Berakhir Mixed

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) pada Jumat (27/11/2020) akhir pekan ditutup bervariasi, di tengah minimnya sentimen positif yang datang di pasar keuangan domestik maupun global.

SBN tenor 1 tahun, 5 tahun dan 30 tahun mengalami kenaikan harga, sedangkan SBN dengan tenor 10 tahun, 15 tahun dan 20 tahun melemah.

Imbal hasil (yield) SBN dengan tenor 1 tahun turun 11,7 basis poin ke level 3,797%, kemudian yield SBN tenor 5 tahun melemah 4,3 basis poin ke 5,171% dan yield SBN berjatuh tempo 30 tahun turun 0,5 basis poin ke 7,192%. Sedangkan sisanya mengalami pelemahan yield.


Sementara itu, yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan acuan yield obligasi negara naik 0,2 basis poin ke level 6,218% pada hari ini. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga kenaikan yield menunjukkan harga obligasi yang turun. Demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Minimnya sentimen positif yang datang membuat harga SBN ditutup bervariasi, karena investor ‘galau’. Namun, kabar kurang baik datang dari vaksin besutan AstraZeneca yang efektivitasnya diragukan oleh beberapa ilmuwan.

Pandangan terbaru ilmuwan ini bukan tanpa sebab. Pasalnya, ada kesalahan yang dilakukan di awal. Hal ini bermula saat sekelompok kecil relawan menerima dosis vaksin yang lebih rendah secara tidak sengaja. Hasilnya vaksin berhasil 90%.

Tapi pada kelompok yang lebih besar dengan dosis normal, tingkat keberhasilan malah lebih rendah hanya 62%. Banyak ilmuwan mengartikan pengujian di hasil kelompok kecil dapat diartikan ‘menghasilkan pembacaan palsu’.

“Yang harus dilakukan hanyalah merilis data terbatas,” kata Peter Openhaw, profesor kedokteran eksperimental di Imperial College London, dikutip Reuters, Jumat (27/11/2020). “Kami harus menunggu data lengkap dan untuk melihat bagaimana regulator melihat hasilnya.”

Hal tersebut mengundang keprihatinan Kepala Operation Warp Speed (tim khusus penanganan corona Presiden Donald Trump), Moncef Slaoui. Ia mengatakan kemanjuran 90% itu ternyata ditampilkan oleh kelompok dengan risiko terendah, sebanyak 2.741 orang di bawah 55%.

CEO AstraZeneca, Pascal Soriot mengatakan raksasa farmasi Inggris kemungkinan akan menjalankan uji coba global tambahan untuk mengevaluasi kemanjuran vaksin, sebagaimana dikutip CNBC International dari Bloomberg.

Juru Bicara AstraZeneca juga menolak kritik yang dilontarkan ilmuwan tersebut. Perusahaan mengaku pengujian sudah sesuai standar Data Safety Monitoring Board (DSMB).

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)