Mau Tahu Saham Jawara dan Pecundang Sepekan? Ini Daftarnya

Jakarta,CNBC IndonesiaIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan pertama bulan Desember kembali menghijau 0,47% dan ditutup di level 5.810,48. Indeks acuan pasar modal Tanah Air masih mampu ditutup di atas level psikologis 5.800 meski terkoreksi pada akhir pekan.

Sentimen positif memang sedang membanjiri pasar modal baik pasar modal global mulai dari perkembangan vaksin Pfizer yang sudah disetujui di Britania Raya untuk penggunaan darurat serta vaksin Moderna yang direncanakan akan disetujui penggunaannya akhir tahun ini atau awal tahun mendatang.

Meskipun demikian hantu corona masih mengintai, terutama di Indonesia setelah rekor harian jumlah pasien Covid-19 kembali dipecahkan dan ancaman aksi ambil untung para investor masih mengintai setelah IHSG melesat selama sebulan terakhir.


Terbangnya IHSG memicu beberapa saham melesat tinggi seperti saham-saham berikut yang mampu terbang tinggi hingga puluhan persen.

Kenaikan tertinggi sendiri dibukukan oleh saham PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) yang harga sahamnya berhasil melesat 165,54% selama sepekan terakhir. Saham FIRE memang terkenal sering bergerak liar dan pernah mendapat tao Unusual Market Activity (UMA) dari BEI sehingga banyak yang beranggapan bahwa terjadi cornering alias aksi goreng saham di saham ini.

Bayangkan saja melantai pada 2017 silam di harga RP 500/unit, saham FIRE sempat terbang ke level tertingginya Rp 14.050/unit atau kenaikan 2.810% alias 28 kali lipat sebelum akhirnya anjlok ke level terendahnya di angka Rp 76/unit atau penurunan 99,99%.

Saat ini sendiri FIRE diperdagangkan di harga Rp 1.025/unit atau kenaikan 1.348% dari titik terendahnya.

Selanjutnya yang menarik di posisi ketiga muncul saham anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yakni PT Garuda Maintenance Facility Tbk (GMFI) 48,51% menyusul induknya yang melesat 35,54% pekan lalu.

Sentimen pertama kenaikan saham GIAA tentu saja dari kemunculan vaksin Pfizer yang disebut-sebut memiliki efektivitas di atas 90%. Dengan kesuksesan vaksin corona yang sudah di depan mata tentu saja masyarakat sudah berekspektasi Covid-19 sebentar lg dapat diberantas.

Jika sudah berhasil menang melawan corona, tentu saja sektor maskapai penerbangan akan diuntungkan karena nantinya masyarakat akan kembali berani berpergian menggunakan pesawat terbang baik untuk berwisata maupun untuk tujuan bisnis lain.

Selain itu sentimen positif kedua datang dari akan dibentuknya holding pariwisata oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dengan dibentuknya holding pariwisata tentu saja ini merupakan kabar baik bagi GIAA yang nantinya akan menjadi salah satu anak dari holding tersebut.

Nantinya apabila membutuhkan dana segar, holding pariwisata tersebut bisa menerbitkan obligasi dimana daya tawar holding akan lebih kuat dibandingkan apabila GIAA menerbitkan sendiri obligasi tersebut sehingga cost of funds bisa ditekan.

Terakhir, GIAA dan anak usahanya GMFI juga sebentar lagi akan mendapatkan dana segar hasil dari pencairan dana Obligasi Wajib Konversi (OWK) yang menjadi salah satu program dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Berkebalikan dengan saham-saham di atas yang berhasil melesat kencang, berberapa saham yang terpaksa anjlok parah, simak tabel berikut.

Tercatat saham-saham yang memimpin penurunan alias Top Losers adalah saham yang notabene mempunyai kapitalisasi pasar kecil yakni di bawah Rp 1 triliun sehingga biasanya harga sahamnya mudah digerakkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab ke arah tertentu alias cornering.

Di posisi pertama ada PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) yang anjlok 17,46%. Saham yang baru melantai Januari 2020 ini anjlok ke level Rp 52/unit mendekati level terendah yang diijinkan bursa. Kapitalisasi pasar DADA juga tergolong sangat mini yakni hanya Rp 373 miliar.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)