Mayoritas Bursa Asia Hijau, kecuali Nikkei dan IHSG

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Asia mayoritas ditutup menguat pada Jumat (4/12/2020) akhir pekan ini, menghiraukan kabar perkembangan vaksin Pfizer yang mengumumkan hanya akan mampu mengirim setengahnya dari total target vaksin corona (Covid-19) nya pada tahun ini.

Hanya dua indeks utama Asia yang ditutup di zona merah pada hari ini, yakni indeks Nikkei Jepang yang ditutup melemah 0,22% dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini ditutup melemah 0,21% di level 5.810,48.

Sedangkan sisanya ditutup di zona hijau pada hari ini, yakni indeks KOSPI Korea Selatan yang ditutup melesat 1,31%, STI Singapura tumbuh 0,62%, Hang Seng Hong Kong menguat 0,4%, dan Shanghai Composite China yang naik tipis 0,07%.


Bursa Asia mayoritas ditutup menguat karena pelaku pasar Asia merespons positif terkait perkembangan stimulus jumbo AS yang akan disahkan oleh kedua partai politik AS, walaupun sentimen negatif juga datang hari ini.

kabar baik datang dari Nancy Pelosi dan Pemimpin Partai Mayoritas di Senat AS, Mitch McConnell yang memperbincangkan paket stimulus corona serta harapan agar tidak terjadi government shutduwn.

Dikabarkan paket stimulus fiskal jumbo senilai US$ 908 miliar ini siap digolkan oleh kedua partai politik mayoritas di AS untuk menyokong bisnis kecil, dan pengangguran di AS.

Selain kabar dari stimulus, data angka klaim pengangguran di AS juga menjadi sentimen positif bagi pasar Asia, di mana pada akhirnya, angka pengangguran di AS mengalami penurunan pertama dalam 2 pekan terakhir, meskipun penurunan kali ini masih rapuh.

Per 28 November tercatat 712 ribu masyarakat AS mengajukan asuransi pengangguran, turun 75 ribu dari posisi sebelumnya di angka 787 ribu dan lebih rendah dari ekspektasi pasar di angka 775 ribu.

Namun, sentimen negatif juga datang di pasar keuangan global, di mana Pfizer mengatakan vaksin yang dikembangkan bersama BioNTech ini kekurangan bahan baku mentahnya.

Bahan baku yang tersedia saat ini tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, seperti yang dilansir dari Wall Street Journal.

Perusahaan farmasi raksasa tersebut berharap untuk dapat mengirimkan hanya 50 juta dosis tahun ini dan menghapus harapan pemulihan ekonomi yang cepat pasca kehadiran virus corona yang tentunya sangat diperlukan untuk memutar kembali roda perekonomian.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)