Meski Utang Pemerintah Membengkak, Pasar SBN Tak Ada Matinya

Jakarta, CNBC Indonesia – Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) diprediksi menguat di penghujung tahun ini, tetapi belum cukup untuk kembali ke level sebelum pandemi. Artinya, harga masih terhitung “diskon” sehingga obligasi masih bakal diburu.

Menurut survei Reuters, yield surat berharga negara (SBN) global diperkirakan masih tetap rendah (alias harga pasar masih tinggi), meski terjadi pembengkakan utang di banyak negara. Pemicunya adalah selera mengambil risiko (risk appetite) pelaku pasar yang masih tinggi, terutama di tengah ekspektasi likuiditas bursa global yang berlebih.

Mayoritas obligasi pemerintah dinilai bakal menarik harganya, dengan yield yang terjaga rendah. Padahal, utang pemerintah membumbung akibat pandemi Covid-19 yang semula diduga bakal memicu investor mencari aset aman lain di luar Surat Berharga Negara (SBN).


Menyusul reli saham pada November, investor global ternyata masih nyaman memegang SBN menyusul masih adanya risiko kenaikan kasus Covid-19 yang bisa memicu gelombang kedua penyebaran. Aksi buru terus terjadi meski utang global menyentuh rekor tertinggi.

Menurut polling Reuters pada 1-8 Desember terhadap 60 perencana investasi, median proyeksi mereka berujung pada kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun menjadi 1,2% dalam 12 bulan ke depan.

Artinya, harga obligasi di Negara Adidaya diprediksi masih lemah tahun depan. Bahkan jika proyeksi 12 bulan tersebut terealisasi, yakni menguat 1,2%, itu masih lebih rendah dari level akhir tahun lalu. Imbal hasil riil masih lebih rendah alias negatif karena bank sental AS (Federal Reserve/The Fed) masih melanjutkan suntikan likuiditas.

Di pasar obligasi pemerintah Indonesia, pola serupa (pelemahan harga tetapi belum kembali ke level sebelum pra-pandemi) juga terlihat. Pada perdagangan Kamis (10/12/2020) harga SBN ditutup cenderung menguat, kecuali SBN yang berjatuh tempo 3 tahun, 5 tahun, dan 15 tahun.

Imbal hasil ketiganya meningkat naik masing-masing sebesar 2,9 basis poin (bps), 0,1 bps, dan 0,2 bps. Yield berlawanan arah dari harga sehingga kenaikan yield menunjukkan harga obligasi yang turun. Demikian juga sebaliknya. Satu basis poin setara 1/100 dari 1%.

Imbal hasil SBN tenor 10 tahun (yang menjadi acuan yield obligasi negara) melemah 2 basis poin ke 6,195%. Level imbal hasil itu masih lebih rendah jika dibandingkan dengan yield akhir tahun lalu yang berada di level 7,098%. Artinya, koreksi harga yang terjadi masih menyisakan cuan.