Naiknya Kenceng Banget, Sekarang Harga Minyak Rawan Koreksi

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak telah melesat tajam sejak Oktober dan membawanya ke level tertinggi dalam delapan bulan. Kini harga si emas hitam itu mulai surut di tengah berbagai isu kurang sedap yang membayangi pasar. 

Harga kontrak futures minyak mentah yang aktif diperdagangkan melanjutkan koreksinya pada pagi hari ini, Selasa (8/12/2020). Kontrak futures Brent turun 0,27% ke US$ 48,66/barel pada 08.15 WIB. 

Di saat yang sama kontrak futures West Texas Intermediate (WTI) yang merupakan acuan Amerika Serikat (AS) juga drop 0,17% ke level US$ 45,68/barel.


Reli harga minyak ditopang oleh update berita positif seputar vaksin Covid-19. Kabar terbaru menyebutkan bahwa FDA akan mengeluarkan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 minggu ini, menyusul langkah serupa yang dilakukan Inggris pekan lalu. 

Menambah sentimen positif bagi harga adalah impor China yang mengalami kenaikan sepanjang tahun ini. Sebagai importir minyak terbesar di dunia, China dilaporkan mengimpor 503,92 juta ton sepanjang 11 bulan terakhir. 

Volume tersebut setara dengan 10,98 juta barel per hari (bph) atau naik 9,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. 

Kebijakan para kartel yang dikenal sebagai OPEC+ untuk meningkatkan output hanya sebesar 500 ribu bph mulai awal tahun depan juga mendapat respons positif dari pasar. Setidaknya OPEC+ masih bisa mencapai konsensus setelah diskusi berjalan alot dan sempat membuat harga minyak tertekan.

Melansir Reuters, OPEC+ dikabarakan bakal menggelar kembali pertemuan pada 4 Januari 2021.  

Namun ada beberapa sentimen negatif yang membuat harga minyak menjadi terkoreksi di pekan ini. Pertama adalah peningkatan kasus Covid-19 yang signifikan. 

Secara global, lonjakan kasus infeksi virus Corona telah membuat lockdown marak terjadi lagi. Langkah-langkah ketat diterapkan di negara bagian California AS, Jerman dan Korea Selatan.

Rata-rata pertambahan kasus baru infeksi Covid-19 di AS dalam tujuh hari terakhir mencapai 196.200 atau meningkat 20% dari pekan sebelumnya. Tidak hanya

pertambahan kasus Covid-19 saja yang melonjak tajam. Angka kematian akibat Covid-19 di AS juga ikut meroket. Hampir 3.000 orang meninggal akibat Covid-19 di Negeri Paman Sam.

Tak hanya peningkatan kasus infeksi Covid-19 saja yang membuat harga emas tertekan. Kesimpangsiuran soal stimulus fiskal jilid II di AS juga menjadi sentimen negatif bagi pasar energi. Kongres masih belum bisa sepakat soal besaran bantuan fiskal untuk masyarakat AS. 

Capital Economics, sebuah perusahaan riset ekonomi, mengatakan dalam laporannya memperkirakan produksi OPEC+ akan naik kurang dari kuota volume yang tertuang dalam pakta baru.

Menyusul kesepakatan OPEC+, Morgan Stanley menaikkan perkiraan harga Brent jangka panjang menjadi US$ 47,50 per barel dari US$ 45 dan merevisi perkiraan harga WTI jangka panjang menjadi US$ 45 per barel dari US$ 42,50.

Di tempat lain, Iran telah menginstruksikan kementerian perminyakannya untuk mempersiapkan instalasi produksi dan penjualan minyak mentah dengan kapasitas penuh dalam tiga bulan.

“Menambah tekanan pada harga minyak adalah potensi peningkatan produksi Iran dalam tiga bulan,” kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA. “Iran optimis AS akan melonggarkan pembatasan jika mereka kembali ke kesepakatan nuklir 2015.”

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)