Net TV Digugat PKPU, LinkAja dan Anak Usaha Jasa Marga Mau IPO

Jakarta, CNBC Indonesia – Tekanan beli yang cukup besar mendorong laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat sebesar 1,42% ke level 5.759,91 poin pada perdagangan Kamis kemarin, (26/11/2020).

Tampaknya, sentimen luar negeri dari kepastian kemenangan Presiden AS terpilih Joe Biden masih direspons positif oleh investor setelah Badan Administrasi Layanan Umum (General Service and Administration/GSA) memastikan, Biden dan Kamala Harris menjadi Presiden dan wakil terpilih pada pemilu 3 November lalu.

Sementara itu, Donald Trump, presiden petahana AS, juga akan bekerjasama terkait transisi kepemimpinannya pada 20 Januari mendatang.


Data perdagangan mencatat, nilai transaksi mencapai Rp 13,43 triliun dengan frekuensi sebanyak 1,06 juta kali. Sementara itu, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih Rp 600,93 miliar.

Saham-saham yang banyak ditransaksikan kemarin antara lain, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Medco Energi Tbk (MEDC) hingga PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS).

Cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia sebelum memulai perdagangan menjelang akhir pekan ini, Jumat (27/11/2020):

1.Digugat PKPU oleh Vendor, Net TV Akhirnya Buka Suara

Pemilik stasiun televisi Net TV, PT Net Mediatama Televisi, buka suara mengenai gugatan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) oleh salah satu vendornya Bambang Sutrisno Kusnadi.

“NET menghargai sikap hukum yang dilakukan penggugat sebagai bentuk perhatiannya terhadap NET yang beberapa tahun belakangan berhubungan sangat baik dalam berbagai bentuk kerjasama yang saling menguntungkan,” ujar CEO Net TV Deddy H Sudarijanto, dalam pernyataan tertulis, Kamis (26/11/2020).

Menurutnya, Net TV berhubungan baik kepada penggugat PKPU, bahkan telah melakukan upaya komunikasi dengan penggugat sebelum munculnya gugatan tersebut.

“Dari komunikasi yang telah dilakukan tersebut, NET sepakat dan telah melakukan upaya penyelesaian tanggungjawabnya secara bertahap. Penyelesaian tersebut tentu akan terus diupayakan secara berkelanjutan sebagai bentuk tanggungjawab NET yang selama ini cukup lama menjalin kerjasama dengan penggugat. Penyelesaian kewajiban diharapkan dapat terselesaikan dengan baik mengingat perkembangan positif yang terjadi di NET saat ini,” ujarnya.

Sebelumnya Net TV yang masuk Grup Indika, digugat permohonan PKPU oleh Bambang Sutrisno Kusnadi. Pengajuan ini diajukan pada Rabu (25/11/2020) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

2.Bakal Duluin Gojek & Grab, LinkAja Mau IPO di Bursa Efek

Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, kementerian berencana mendorong perusahaan dompet digital milik BUMN, PT Fintek Karya Nusantara atau LinkAja untuk mencatatkan saham perdana melalui skema penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Tiko, sapaan akrabnya, mengatakan, rencana IPO tersebut diharapkan dapat terealisasai dalam 1 hingga 1,5 tahun mendatang.

Dengan IPO, kata dia, LinkAja dapat memperoleh pendanaan secara terbuka, baik dari perusahaan BUMN, swasta, maupun masyarakat luas. “Tidak menutup kemungkinan suatu hari LinkAja akan kita IPO-kan juga, sehingga model investasinya sangat terbuka, melibatkan banyak BUMN, bahkan melibatkan swasta,” kata Kartika.

3.Grup Astra Caplok Saham Jalan Tol Milik Pemprov DKI

PT Astra International Tbk (ASII), melalui anak usahanya Astra Infra menyelesaikan proses akuisisi 100% saham PT Jakarta Marga Jaya (JMJ) yang sebelumnya dimiliki 51% oleh PT Jakarta Infrastruktur Propertindo (JIP) dan 49% saham milik PT Jaya Sarana Pratama (JSP).

JIP adalah salah satu perusahaan milik daerah Provinsi DKI Jakarta yang merupakan anak usaha dari PT Jakarta Propertindo (JAKPRO) sebagai holding utama, sementara JSP adalah bagian dari PT Jaya Real Property Tbk (JRPT).

Dengan penandatanganan dokumen pengalihan saham ini maka secara tidak langsung, Astra Infra memiliki 35% saham PT Marga Lingkar Jakarta (MLJ) yang merupakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Ruas Tol JORR I W2.

Group CEO Astra Infra Djap Tet Fa, mengatakan keputusan Grup Astra berinvestasi di JORR I W2N adalah salah satu langkah strategis perusahaan dalam mendiversifikasi portofolio bisnis jalan tol terutama area Metro.

4.Masih Rugi Rp 430 M, Rating Agung Podomoro Naik Jadi ‘CCC’

Lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings telah menaikkan peringkat emiten properti PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menjadi ‘CCC’ dari sebelumnya ‘C”.

Pada saat yang bersamaan, Fitch juga menaikkan peringkat Obligasi Senior US$ 300 juta yang diterbitkan oleh APL Realty Holdings Ptd Ltd menjadi ‘CCC’ dari sebelumnya ‘C’ dengan peringkat pemulihan RR4.

Obligasi Senior ini diterbitkan anak usaha APLN pada 2 Juni 2017. APL Realty adalah anak usaha yang seluruh sahamnya dipegang oleh APLN. Obligasi Senior, yang dijamin dengan jaminan perusahaan dari APLN dan beberapa entitas anak APLN, dicatatkan dan diperdagangkan di Singapore Exchange Securities Trading.

5.Induk Grup Kresna Merugi Rp 266 M di Kuartal III-2020

Perusahaan investasi, PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN), membukukan kerugian bersih sebesar Rp 266,61 miliar sampai dengan periode September 2020.

Capaian ini berkebalikan dengan kinerja keuangan pada September tahun lalu dengan laba bersih Rp 167,6 miliar. Dengan demikian, laba per saham dasar KREN menjadi minus 14,64 per saham dari sebelumnya Rp 9,21 per saham.

Mengacu laporan keuangan yang dipublikasikan induk perusahaan Grup Kresna ini, pendapatan usaha pada akhir kuartal III tahun 2020 tercatat sebesar Rp 8,53 triliun atau naik 2,9% dibanding periode yang sama tahun 2019, yang tercatat sebesar Rp 8,28 triliun.

Secara rinci, pendapatan perseroan dikontribusi dari teknologi dan digital sebesar Rp 8,68 triliun, naik dari sebelumnya Rp 7,87 triliun. Sedangkan, dari pos keuangan dan investasi masih membukukan kerugian Rp 150,57 miliar dari sebelumnya memberikan andil pendapatan Rp 417,38 miliar.

6.Gagal Bayar Rp 1,9 T, Begini ‘Jeroan’ Investasi Indosterling

Kasus gagal bayar PT Indosterling Optima Investa (IOI) menyeruak ke publik akhir-akhir ini atas produk High Yield Promissory Notes (HYPN). Nilai potensi kerugian yang dialami nasabah diperkirakan mencapai Rp 1,9 triliun dari 1.041 nasabah.

Kuasa hukum perwakilan nasabah Indosterling Optima Investa, Andreas menuturkan, nasabah mulai mengalami gagal bayar sejak April 2020 atas produk HYPN dengan imbal hasil sebesar 9-12% tersebut.

“Nasabah membeli produk ini sebab di perjanjian sudah mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan [OJK]. Ini disebutkan dalam perjanjian HYPN pasal 6,” katanya saat ditemui di Gedung Insurtech, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (26/11/2020).

7.3 Kali Ditegur, Emiten Batu Bara Sinarmas Terancam Delisting

Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk ketiga kalinya memberikan peringatan kepada emiten Grup Sinarmas, PT Golden Energy Mines Tbk. terkait dengan potensi penghapusan pencatatan saham atau delisting dari papan bursa.

Saham Golden Energy Mines sudah disuspensi atau dihentikan sementara sejak 30 Januari 2018 karena tidak memenuhi jumlah minimum saham beredar di publik atau free float.

Dengan demikian, jika tidak segera menggelar aksi korporasi untuk menambah besaran saham publik, maka saham GEMS berpotensi ‘didepak’dari bursa pada Januari 2021.

Berdasarkan pengumuman BEI, Rabu (25/11/2020), anak usaha Grup Sinarmas ini sudah tiga kali mendapat peringatan terkait potensi delisting, yaitu pada 19 November 2019, 26 Mei 2020, dan 25 November 2020. Adapun suspensi pertama kali diberikan BEI pada 30 Januari 2018.

8.Saham PPRO & DKFT Masuk Radar BEI

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan terjadinya harga saham yang bergerak di luar kewajaran alias unusual market activity (UMA) atas saham emiten properti BUMN, PT PP Properti Tbk (PPRO) dan emiten pertambangan PT Central Omega Resources Tbk (DKFT).

Dalam pengumuman yang disampaikan Kepala Divisi Pengawasan Transaksi Lidia M. Panjaitan dan Pelaksana Harian Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan, Mulyana, terjadi peningkatan harga yang tidak wajar atas saham PPRO.

“Pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran perundang-undangan di bidang pasar modal,” tulis pengumuman BEI pada 25 November.

Pada perdagangan Kamis (26/11/2020), data BEI menunjukkan saham PPRO masih minus 2,94% di posisi Rp 99/saham. Dalam sepekan terakhir, sahamnya melesat 85%, 1 bulan naik 96%, dan 3 bulan terakhir juga melesat 96%. Sejak awal tahun, saham PPRO masih naik 44,12%.

Sementara itu, harga saham DKFT pada perdagangan Kamis pagi kemarin juga minus 0,51% ke level Rp 197 per saham. Sejak awal tahun, sahamnya masih naik 38,73%. Dalam 6 bulan terakhir saham DKFT melesat 116%.

9.Anak Usaha Jasa Marga Siap IPO

Emiten pengelola jalan tol BUMN, PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) mengumumkan rencana mengantarkan anak usahanya, PT Jasamarga Related Business (JMRB) melantai di bursa saham melalui skema penawaran umum saham perdana atau initial public offering/IPO.

Corporate Secretary Jasa Marga, Agus Setiawan mengatakan, saat ini perseroan memang memiliki beberapa lini bisnis. Salah satunya, untuk pengembangan bisnis di kawasan sekitar jalan tol dan usaha lainnya milik perseroan, sehingga memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

“Perseroan melalui PT Jasamarga Related Business (JMRB) menargetkan dalam beberapa tahun dapat memperoleh alternatif sumber pendanaan melalui penawaran saham perdana (IPO),” kata Agus, dalam penjelasannya di laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Kamis (26/11/2020).

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)