Nyaris Rp 11.000/AU$, Dolar Australia di Level Tinggi 6 Tahun

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar dolar Australia meroket melawan rupiah pada perdagangan Jumat (8/1/2021), mendekati level Rp 11.000/AU$ dan berada di level tertinggi dalam lebih dari 6 tahun terakhir.

Melansir data Refinitiv, dolar Australia melesat 1,31% ke Rp 10.931,07/AU$. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak September 2014. Posisi dolar Australia sedikit terpangkas, pada pukul 15:32 WIB, berada di Rp 10.882,03/AU$, menguat 0,87% di pasar spot.

Dolar Australia belakangan ini dalam tren menanjak, bahkan mampu lebih mahal ketimbang dolar Singapura.


Ekspektasi membaiknya kondisi ekonomi menjadi pemicu penguatan dolar Australia. Selain itu, dolar Australia juga diuntungkan dengan kemungkinan terjadinya supercycle.

Australia merupakan negara yang mengandalkan ekspor komoditas, ketika harga-harganya naik, maka pendapatan negara akan bertambah, dan perekonomian berputar lebih kencang.

Supercycle merupakan periode penguatan komoditas dalam jangka panjang. Kenaikan harga-harga komoditas di tahun ini dikatakan sebagai awal dari siklus tersebut, dan akan masuk ke dalamnya mulai tahun depan.

Profesor ekonomi terapan di John Hopkins University, Steve Hanke, dalam wawancara dengan Kitco, Selasa (22/12/2020), mengatakan komoditas akan memasuki fase supercycle tersebut pada tahun 2021 mendatang.

“Supply sangat terbatas, stok rendah, dan ekonomi mulai bangkit dan maju ke depan, harga komoditas akan naik dan memulai supercycle. Saya pikir saat ini kita sudah melihat tanda awalnya,” kata Hanke, sebagaimana dilansir Kitco.

Sementara dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) merilis data cadangan devisa bulan Desember yang akhirnya membukukan kenaikan setelah mengalami penurunan dalam 3 bulan beruntun.

Kenaikan pada akhir 2020 tersebut juga terbilang besar, hingga menyentuh level tertinggi kedua sepanjang sejarah.

Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa naik US$ 2,3 miliar menjadi US$ 135,9 miliar di bulan Desember dari bulan sebelumnya. Sementara itu, rekor tertinggi cadev dicapai pada bulan Agustus lalu sebesar US$ 137 miliar.

“Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,2 bulan impor atau 9,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” sebut keterangan tertulis BI, Jumat (8/1/2021).

Sayangnya kenaikan cadangan devisa tersebut belum sanggup membawa rupiah keluar dari tekanan dolar Australia.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)