Ombak Sedang Ramah, Rupiah Tinggalkan Level Psikologis 14.000

Jakarta, CNBC Indonesia – Pekan ini rupiah melenggang ke jalur hijau dengan menyentuh “kepala 13” setelah pada akhir tahun lalu tersangkut di level psikologis 14.000. Sentimen positif cadangan devisa dan ekspektasi stimulus ekstra dari Amerika Serikat (AS) menjadi pemicunya.

Pergerakan rupiah sepanjang pekan ini terhitung fluktuatif, meski dengan ayunan (swing) yang tidak terlalu lebar. Penguatan drastis di hari Senin, sebesar 1,1% sedikit tergerogoti di pertengahan pekan sehingga apresiasi Mata Uang Garuda tersisa separuhnya, atau 0,43%.

Namun, itu saja sudah cukup untuk membawa rupiah bermigrasi ke level psikologis 13.000, atau tepatnya di Rp 13.980 per dolar AS pada Jumat (8/1/2021). Akhir pekan lalu, rupiah masih bercokol di level psikologis 14.000 tepatnya pada Rp 14.040.


Penguatan rupiah pada Senin itu menjadi yang terbaik di antara kurs utama kawasan Asia, yang mayoritas juga terapreasiasi di tengah pelemahan dolar AS menyusul ekspektasi pemulihan ekonomi dengan mulai beredarnya vaksin.

“Pelemahan dolar AS sepertinya akan menjadi tema tahun ini. Optimisme pelaku pasar sedang tinggi sering program vaksinasi yang sedang dan terus berjalan,” kata Han Tan, Analis FXTM, seperti dikutip dari Reuters.

Selain itu, cairnya stimulus pandemi di Negara Adidaya tersebut juga membuat pasokan dolar AS yang beredar di pasar menjadi berlebih, sehingga menurunkan nilainya secara relatif terhadap mata uang lainnya.

Ekspektasi stimulus yang lebih besar kian menguat pasca pengesahan kemenangan Joe Biden sebagai presiden terpilih AS yang bakal berjalan mulus. Presiden AS Donald Trump menyatakan akan ada transisi kekuasaan yang tertib pada 20 Januari.

Di sisi lain, Partai Demokrat pengusung Biden memenangkan pemilihan Senat di Georgia sebagaimana diproyeksikan NBC News. Dua orang calon Senator asal Demokrat yakni Jon Ossoff dan Raphael Warnock berhasil merebut dua kursi Senator dari petahana Partai Republik.

Dengan begitu, saat ini baik Gedung Putih, Senat, maupun The House of Representative (DPR) AS dikuasai oleh Partai Biru tersebut. Kemenangan Demokrat di segala lini membuat kemungkinan kebijakan fiskal yang ekspansif di tengah masih merebaknya pandemi Covid-19.

Situasi itu bakal menguntungkan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Apalagi, tekanan bagi bank sentral untuk mengintervensi kurs cenderung berkurang. Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Desember naik US$ 2,3 miliar ke US$ 135,9 miliar, terpaut sedikit dari rekor tertinggi cadev sebesar US$ 137 miliar (Agustus 2020).

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)