Pasar Saham RI Terkoreksi, Investor “Cari Aman” ke SBN

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) pada Jumat (4/12/2020) kompak ditutup menguat, di tengah peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia dan kurangnya bahan baku pembuatan vaksin.

Seluruh tenor SBN hari ini ramai dikoleksi oleh investor, ditandai dengan imbal hasil (yield) yang kompak mengalami penurunan. Sementara itu, yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan acuan yield obligasi negara turun 1,1 basis poin ke level 6,198% pada hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang naik. Demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.


Melonjaknya kasus positif harian virus Corona di Indonesia yang mencapai angka 8.363 pada Kamis (3/12/2020) kemarin, membuat pasar saham domestik terkoreksi pada perdagangan akhir pekan ini, sehingga investor kemungkinan bermain aman dan mengalihkan investasinya ke obligasi pemerintah.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, bahkan mengatakan penambahan kasus tersebut tidak bisa ditoleransi.

“Kita bisa melihat dalam beberapa hari terakhir kita mencatatkan rekor-rekor baru. Sebelumnya kita belum pernah mencapai di atas 5.000, tapi sayangnya kasus positif semakin meningkat bahkan per hari ini menembus lebih dari 8.000 kasus. Ini angka yang sangat besar dan tidak bisa ditolerir,” ujar Prof Wiku, dalam konferensi pers Kamis (3/12/2020)

Selanjutnya sentimen negatif juga datang dari perusahaan farmasi raksasa Pfizer mengumumkan hanya akan mampu mengirim setengah dari total target vaksin Covid-19 nya pada tahun ini.

Pfizer mengatakan vaksin yang dikembangkan bersama BioNTech ini kekurangan bahan baku mentahnya, dimana bahan baku yang tersedia saat ini tidak sesuai standar yang telah ditentukan seperti yang dilansir dari Wall Street Journal.

Perusahaan farmasi raksasa tersebut berharap untuk dapat mengirimkan hanya 50 juta dosis tahun ini dan menghapus harapan pemulihan ekonomi yang cepat pasca kehadiran virus Covid-19 yang tentunya sangat diperlukan untuk memutar kembali roda perekonomian.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)