Pekan Lalu Cuan Tipis, Emas Pekan Ini Bakal Melesat

Jakarta, CNBC Indonesia – Pada perdagangan sepanjang pekan lalu, harga emas dunia cenderung menguat tipis. Mengawali minggu ini Senin (14/12/2020) emas ditransaksikan melemah. 

Harga emas di arena pasar spot turun 0,2% ke US$ 1.835/troy ons pada 09.10 WIB. Harga emas sempat melampaui level resisten terdekatnya ke US$ 1.871/troy ons minggu lalu. Namun setelah itu berbalik arah.


Untuk pekan ini sentimen di pasar emas campur aduk. Investor kembali memantau apakah harga emas bisa kembali menyentuh level US$ 1.850 atau tidak. 

Survei yang dilakukan oleh Kitco menunjukkan bahwa lebih banyak analis Wall Street yang memproyeksikan harga emas turun pekan ini. Sementara para investor di Main Street masih cenderung bullish.

Ada 15 analis Wall Street yang berpartisipasi. Lima orang analis atau 33% memandang bullish harga emas pekan ini. Namun ada enam analis atau 40% yang memproyeksikan harga emas bakal lebih rendah. Sebanyak 27% sisanya netral.

Hal ini berbeda dengan perkiraan investor di Main Street yang kebanyakan masih bullish. Ada 54% dari total 1.507 responden yang memperkirakan harga emas masih bisa naik. Hanya 28% yang mengatakan harga bakal lebih rendah. Sisanya netral.

Beberapa analis mulai mewanti-wanti akan adanya pola perdagangan dengan volume yang lebih rendah dan volatilitas harga yang tinggi memasuki masa liburan. 

“Saya pikir investor harus menutup pembukuan mereka dan kembali pada Januari,” kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank kepada Kitco News.

Beberapa faktor yang berpotensi besar menggerakkan emas pekan ini adalah perkembangan stimulus fiskal jilid II di AS, kebijakan bank sentral the Fed dan juga kinerja pasar saham.

Menurut Standard Chartered dan TD Securities, harga emas masih bisa naik ke US$ 2.000/troy ons untuk tahun 2021. Standard Chartered mengatakan bahwa dampak vaksin dan pemulihan ekonomi baru bisa terasa di paruh kedua tahun 2021. 

Kabar vaksinasi Covid-19 memang membuat harga emas tertekan. Kabar terbaru, FDA AS merestui penggunaan vaksin Covid-19 Pfizer dan BioNTech untuk keadaan darurat menyusul Inggris. 

Berbeda dengan Standard Chartered dan TD Securities, bank investasi global JP Morgan justru melihat harga emas bakal tertekan seiring dengan naiknya popularitas bitcoin di mata investor.

Hal ini terlihat dari adanya inflow ke Bitcoin senilai US$ 2 miliar sejak Oktober lalu. Di saat yang sama, ada outflow sebesar US$ 7 miliar dari emas. Artinya investor mulai melego emas dan membeli bitcoin.

Bitcoin merupakan criptocurrency yang kini sudah masuk ke dalam salah satu kelas aset yang diperhitungkan investor. Saat harga emas ambrol ke bawah US$ 1.800/troy ons karena aksi jual besar-besaran, harga Bitcoin justru melesat hampir dua kali lipat.

Di bulan September harga Bitcoin masih di US$ 10.000. Namun di akhir bulan November harga Bitcoin melesat ke level US$ 19.850. Jika tren ini terus terjadi bukan tidak mungkin Bitcoin akan menjadi aset yang bisa mengalahkan emas di masa depan.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)