Prospek Supercycle Bawa Kurs Dolar Australia Menanjak Terus

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar dolar Australia menguat lagi melawan rupiah pada perdagangan Rabu (20/12/2020), padahal dolar Amerika Serikat (AS) dan Singapura justru melemah.

Sebagai mata uang yang terkait erat dengan harga komoditas, dolar Australia diuntungkan dengan kemungkinan terjadinya supercycle.

Pada pukul 12:02 WIB, AU$ 1 setara Rp 10.751,29, dolar Australia menguat 0,21% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Mata uang Negeri Kanguru berada dekat level tertinggi 3,5 bulan yang dicapai pada Senin lalu.


Supercycle merupakan periode penguatan komoditas dalam jangka panjang. Kenaikan harga-harga komoditas di tahun ini dikatakan sebagai awal dari siklus tersebut, dan akan masuk ke dalamnya mulai tahun depan.

Profesor ekonomi terapan di John Hopkins University, Steve Hanke, dalam wawancara dengan Kitco, Selasa (22/12/2020), mengatakan komoditas akan memasuki fase supercycle tersebut pada tahun 2021 mendatang.

Supply sangat terbatas, stok rendah, dan ekonomi mulai bangkit dan maju ke depan, harga komoditas akan naik dan memulai supercycle. Saya pikir saat ini kita sudah melihat tanda awalnya,” kata Hanke, sebagaimana dilansir Kitco.

Harga bijih besi, yang merupakan komoditas ekspor utama Australia di tahun ini membukukan rekor tertinggi sepanjang masa di Dalian Commodity Exchange China.

Westpac Banking Corp. memprediksi harga bijih besi akan kembali melesat bulan depan, hingga mencapai US$ 180/ton. Saat ini harga bijih besi berada di kisaran US$ 156/ton.
Kenaikan harga-harga komoditas tentunya akan meningkatkan pendapatan ekspor Australia, yang berdampak positif bagi mata uangnya.

Ekspektasi membaiknya kondisi ekonomi juga menjadi pemicu penguatan dolar Australia. Biro Statistik Australia kemarin melaporkan tingkat pengangguran turun menjadi 6,8% dari bulan Oktober sebesar 7%. Selain itu, sepanjang bulan November terjadi perekrutan tenaga kerja sebanyak 70 ribu orang.

Data tersebut mengkonfirmasi membaiknya perekonomian Australia. Di awal bulan ini, bank sentralnya (Reserve Bank of Australia/RBA) menunjukkan optimisme terhadap kondisi perekonomian.

Pada hari Selasa (1/12/2020), RBA dalam pengumuman rapat kebijakan moneter hari ini mempertahankan suku bunga 0,1%.

Gubernur RBA, Philip Lowe, menunjukkan sikap optimis perekonomian Australia akan bangkit dari resesi yang terjadi untuk pertama kalinya dalam 3 dekade terakhir.

“Pemulihan ekonomi sedang berlangsung, dan data ekonomi yang dirilis belakangan ini lebih baik dari perkiraan sebelumnya,” kata Lowe, sebagaimana dilansir Reuters.

“Ini adalah kabar bagus, tetapi pemulihan ekonomi masih belum terjadi secara menyeluruh, dan masih sangat tergantung dari dukungan kebijakan moneter dan fiskal,” katanya.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)