Rasio Utang Nyaris 190% PDB, Yunani Masih Mau ‘Ngutang’ Lagi!

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Yunani berencana menerbitkan obligasi lagi di tahun 2021. Rencana itu tak lepas dari kesuksesan tahun ini meski dalam kondisi pandemi Covid-19.

Reuters mengutip dari 2 sumber pemerintah, melaporkan Yunani berencana akan menerbitkan obligasi jangka pendek dan panjang senilai 10 miliar sampai 12 miliar euro (US$ 14,6 miliar) atau nyaris Rp 200 triliun.

“Kami ingin memperoleh pendanaan sekitar 10-12 miliar euro di tahun 2021, dengan menerbitkan obligasi baru bertenor lebih pendek dari 10 tahun dan lebih panjang juga,” kata sumber pemerintah tersebut, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (22/12/2020).


“Kami ingin terus hadir di pasar dengan menerbitkan obligasi setidaknya sekali setiap kuartal dalam 15 bulan ke depan,” ujar sumber lainnya.

Di tahun ini, pemerintah Yunani menerbitkan obligasi tenor 7, 10, dan 15 tahun, dan berhasil memperoleh 12 miliar euro. Penerbitan obligasi yang dilakukan Yunani diuntungkan oleh yield yang rendah akibat program pembelian aset (obligasi dan surat berharga lainnya) atau yang dikenal dengan quantitative easing (QE) European Central Bank (ECB).

ECB melonggarkan aturan QE dengan menerima obligasi yang tidak termasuk dalam investment grade alias junk bond, akibat pandemi Covid-19 yang membuat perekonomian merosot ke jurang resesi. Alhasil, obligasi Yunani juga dibeli oleh ECB.

Yunani kembali lagi ke pasar obligasi internasional sejak 2017 lalu, setelah bertahun-tahun menghilang akibat krisis utang yang dialaminya sejak tahun 2009. Selama periode tanpa obligasi tersebut, pemerintah Yunani mendapat pinjaman dari negara-negara Uni Eropa dan Dana Moneter International (IMF) melalui program bailout, dimana bailout ketiga berakhir pada 2018 lalu.

Obligasi Yunani mendapat peringkat Ba3 dari Moody’s, kurang 3 notch dari investment grade. Sementara Fitch Rating memberi peringkat BB, kurang 2 notch dari investment grade. Pada tahun 2019 lalu, pemerintah Yunani menerbitkan sedikit obligasi untuk melihat reaksi pasar. Baru di tahun ini obligasi dengan jumlah besar diterbitkan, dan laris manis.

Pada bulan Juni lalu, lelang obligasi tenor 10 tahun mendapat respon yang bagus. Nilai penawaran yang masuk melebihi 16 miliar euro, dan dimenangkan sebesar 3 miliar euro.

“Hari ini, Yunani mendapat kepercayaan lagi dari komunitas investasi international,” kata Menteri Keuangan Yunani, Christos Staikouras, Selasa (9/6/2020), sebagaimana dilansir Reuters.

Dengan penerbitan obligasi di tahun ini rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) di tahun ini diprediksi sebesar 188,8%, dengan nilai utang mencapai 337 miliar euro, naik dari tahun lalu 331 miliar euro atau 176,6% PDB di tahun 2019.

Sementara itu dari dari CEIC menunjukkan rasio utang terhadap PDB Yunani di kuartal II-2020 lalu sebesar 198,57%.

Ratio tersebut lebih tinggi ketimbang saat Yunani mengalami krisis utang 2009 lalu, di mana rasionya masih di bawah 150%.

Tetapi kondisi saat ini tentunya berbeda dengan satu dekade lalu. Salah satu pemicu krisis tersebut adalah pemborosan yang dilakukan pemerintah Yunani selama bertahun-tahun. Sementara selama mendapat bailout IMF mewajibkan untuk melakukan pengetatan fiskal.

Selain itu, cadangan devisa Yunani juga terus meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari 17 tahun terakhir, data dari CEIC menunjukkan pada tahun 2019 laluk, cadev Yunani mencapai US$ 8,5 miliar, merupakan yang tertinggi sejak tahun 2002.

Tingginya cadangan devisa tersebut tentunya memberikan kepercayaan investor terhadap kemampuan Yunani untuk membayar kewajibannya dalam jangka pendek.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)